Oleh: Dr. Ir. Suprapti Tri Astuti, ST., MT
Kepala Bappeda Kalsel
Di balik data dan angka statistik, ada makna yang menjadi cermin untuk melihat realita sosial. Namanya Indeks Pembangunan Manusia atau IPM. Kalimantan Selatan patut bersyukur. IPM kita pada 2025 mencapai 76,10. Naik 0,91 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Dalam lima tahun terakhir, IPM Kalsel juga terus tumbuh.
Dalam perspektif perencanaan, IPM bukan sekadar angka. IPM adalah cermin sosial. Di balik angka itu ada anak yang berangkat ke sekolah. Ada ibu yang memeriksakan kehamilan. Ada bayi yang mendapatkan imunisasi. Ada keluarga yang berusaha memenuhi kebutuhan pangan. Ada orang tua yang berharap anaknya memiliki kehidupan lebih baik.
Karena itu, pembangunan manusia harus dimulai dari layanan dasar. Pendidikan dan kesehatan adalah fondasinya. Di bidang pendidikan, harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah terus bergerak naik. Ini menunjukkan akses pendidikan semakin terbuka. Tetapi pekerjaan kita tidak berhenti pada memastikan anak masuk sekolah.
Kita harus memastikan mereka tetap sekolah.Mereka belajar dengan baik. Mereka memiliki guru yang berkualitas. Mereka mendapat lingkungan belajar yang layak. Dan yang paling penting, pendidikan yang mereka dapatkan mampu menjadi bekal menghadapi dunia yang terus berubah.
Begitu juga dengan kesehatan. Umur harapan hidup Kalsel terus meningkat. Pada 2025 mencapai 74,49 tahun. Ini sebuah kemajuan. Tetapi umur panjang harus berjalan bersama kualitas hidup yang baik. Maka perhatian terhadap ibu dan anak menjadi sangat penting.
Kita tidak boleh menunggu anak mengalami kekurangan gizi baru bertindak. Pencegahan harus dimulai sejak sebelum kelahiran. Dari kesehatan ibu. Kecukupan gizi. Pemeriksaan kehamilan. Persalinan yang aman. ASI. Imunisasi. Sampai pemantauan tumbuh kembang anak.
Data menunjukkan prevalensi stunting Kalsel berdasarkan e-PPBGM turun menjadi 9,7 persen pada 2024 dan tercatat 10,08 persen pada 2025. Ini capaian yang patut diapresiasi. Namun angka itu juga mengingatkan kita bahwa masih ada anak-anak yang membutuhkan perhatian.
Inilah pentingnya perencanaan pembangunan berbasis data. Hal yang sama berlaku pada kemiskinan. Angka kemiskinan yang turun tentu merupakan kabar baik. Tetapi di balik itu, ada meja makan yang harus tetap terisi. Ada biaya sekolah. Ada ongkos berobat. Ada kebutuhan listrik dan tempat tinggal.
Karena itu, pertumbuhan ekonomi harus terasa sampai ke rumah-rumah masyarakat. Pendapatan dan daya beli harus meningkat. Lapangan kerja harus semakin terbuka. Anak-anak dari keluarga kurang mampu harus mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama. Layanan kesehatan harus dapat dijangkau tanpa membuat keluarga jatuh semakin dalam ke persoalan ekonomi.
Di sinilah pembangunan manusia menjadi pekerjaan bersama. Tidak cukup hanya Dinas Pendidikan. Tidak cukup hanya Dinas Kesehatan. Tidak cukup hanya pemerintah. Keluarga, sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan harus bergerak dalam arah yang sama.
IPM memberi kita angka. Data memberi kita arah. Tetapi masyarakat yang menjadi tujuan akhirnya. Maka, ketika IPM Kalsel naik, kita boleh bangga. Tetapi kita tidak boleh berhenti. Pembangunan adalah membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik.
Lebih sehat. Lebih terdidik. Lebih sejahtera. Dan memiliki masa depan yang lebih baik. Itulah yang seharusnya menjadi makna IPM bagi Banua. Bukan sekadar rapor pemerintah. Tetapi rapor tentang kehidupan manusia Kalimantan Selatan. (*)
Editor : Arief M