Melawan Asap dengan Strategi Mitigasi

admin • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 09:01 WIB
Dr. Ir. Suprapti Tri Astuti, ST., MT
Dr. Ir. Suprapti Tri Astuti, ST., MT

Oleh: Dr. Ir. Suprapti Tri Astuti, ST., MT
Kepala Bappeda Kalsel

Menjadi daerah yang selalu mengalami kebakaran hutan dan lahan setiap musim kemarau, membuat Pemprov Kalsel belajar dari kejadian tahun-tahun sebelumnya. Belajar dari pengalaman, karhutla yang terjadi tahun 2023 menjadi pelajaran penting.

Saat itu, luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 190 ribu hektare. Angka ini sangat besar. Namun, setahun kemudian kondisinya berubah drastis. Pada 2024, luas karhutla tercatat sekitar 4.994 hektare.

Penurunan ini tentu tidak terjadi dengan sendirinya. Ada strategi dan program mitigasi yang dilakukan. Ada patroli dan pemetaan wilayah rawan. Ada pembasahan lahan. Ada pembangunan kanal dan saluran air, serta pemeliharaan sumber air. Ada edukasi kepada masyarakat.

Ada kesiapan personel dan peralatan. Semua strategi itu dikunci dengan kolaborasi. Seluruh jajaran pemerintah daerah bersama BPBD, Dinas Kehutanan, Manggala Agni, TNI, Polri, relawan dan BPK swadaya masyarakat, dunia usaha. Seluruh komponen masyarakat yang peduli api juga menjadi bagian penting, karena mereka lah yang berada paling dekat dengan lokasi rawan.

Pemprov Kalsel juga semakin belajar menggunakan data. Informasi cuaca dari BMKG membantu membaca risiko. Data titik panas membantu menentukan lokasi prioritas. Pemantauan lapangan menjadi dasar untuk bergerak lebih cepat. Dengan begitu, penanganan tidak lagi hanya menunggu api membesar. Prinsipnya sederhana, lebih baik mencegah daripada memadamkan.

Lalu, bagaimana dengan karhutla 2026? Pemerintah kembali membagi wilayah prioritas penanganan. Ada kawasan sekitar Bandara Syamsudin Noor. Ada wilayah utara Kalsel. Ada pula kawasan timur Pegunungan Meratus. Data SIPONGI pada 1 Mei–17 Juni 2026 mencatat 492 hotspot, tetapi kejadian yang teridentifikasi membakar lahan tercatat 8 kejadian dengan luas 33,52 hektare.

Data ini memberi kita satu pesan penting. Kita tidak boleh lengah. Karhutla memiliki pola. Cuaca, kekeringan, kondisi lahan dan aktivitas manusia saling berkaitan. Karena itu, pembangunan juga harus melihat daya dukung lingkungan. Perencanaan tidak boleh berhenti pada target pertumbuhan ekonomi. Kita harus memastikan ruang hidup tetap aman dan sehat.

Di sinilah pentingnya kolaborasi. Pemerintah membuat kebijakan dan menyiapkan sumber daya. Aparat bergerak menjaga dan menangani. Dunia usaha ikut bertanggung jawab terhadap wilayah kerjanya. Akademisi membantu menghadirkan riset dan pengetahuan. Media menyampaikan informasi yang benar. Masyarakat menjadi mata dan telinga pertama di lapangan.

Tidak ada pihak yang bisa berjalan sendiri. Kita sudah punya pengalaman. Kita juga punya data. Tinggal bagaimana pengalaman dan data itu terus diterjemahkan menjadi tindakan bersama. Sebab, keberhasilan menangani karhutla bukan ketika kita bisa memadamkan api.

Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika api tidak sempat membesar. Ketika masyarakat tidak perlu menghirup asap. Ketika anak-anak tetap bisa bermain di luar rumah. Dan ketika hutan, lahan, serta lingkungan hidup tetap menjadi warisan yang bisa kita serahkan kepada generasi berikutnya. (*)

Editor : Arief M
Bappeda Kalsel Kabut Asap mitigasi bencana