Oleh: Mukhamad Najib
Guru Besar IPB University
Direktur Kelembagaan, Kemdiktisaintek
Berdasarkan Statistik Pendidikan Tinggi (2025), terdapat sebanyak 2.255 program studi (prodi) bidang pertanian di Indonesia dengan total jumlah mahasiswa sebanyak 470 ribu orang. Setiap tahun tidak kurang dari 90 ribu mahasiswa baru terdaftar di prodi pertanian. Di kampus pertanian, sumber daya manusia (SDM) terampil dilahirkan, inovasi dan pengetahuan baru dikembangkan. Pertanyaannya, sudahkah pengetahuan, inovasi dan ratusan ribu sumber daya di kampus pertanian mengubah kehidupan petani dan wajah pertanian Indonesia?
Pertanyaan ini perlu diajukan mengingat masa depan pertanian Indonesia tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak produksi yang dapat dihasilkan. Produktivitas tentu penting, namun kesejahteraan petani tidak kalah penting. Kesejahteraan petani berpengaruh pada daya tarik sektor pertanian bagi generasi muda. Pada akhirnya, produktivitas, kesejahteraan dan daya tarik pertanian di mata generasi muda akan berpengaruh pada masa depan pertanian Indonesia.
Saat ini, produktivitas tanaman padi Indonesia sebesar 5,2 ton/ha, berada dibawah Thailand dan Vietnam yang berada dalam kisaran 6-7 ton/ha. Dari sisi kesejahteraan, petani Thailand dan Vietnam juga lebih tinggi dari Indonesia. Namun begitu, dari sisi kebijakan, pemerintah Indonesia lebih progresif dalam dua tahun terakhir. Hal ini terlihat dari meningkatnya Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 2,9% pada periode Januari-Juli 2026 dibanding periode yang sama pada 2025.
Meski terdapat kemajuan, pertanian Indonesia masih mengalami tantangan yang perlu dihadapi, antara lain; regenerasi petani, perubahan iklim, produktivitas lahan yang rendah dan fluktuasi harga. Dalam konteks ini, kampus pertanian harus hadir membawa solusi atas persoalan nyata petani. Kampus dapat memfasilitasi lahirnya pertanian berdampak, yaitu pertanian yang tidak sekadar menghasilkan komoditas, tetapi juga kesejahteraan, lapangan kerja, kedaulatan pangan, dan keberlanjutan lingkungan.
Selama ini kampus telah banyak melakukan riset, baik yang dilakukan oleh dosen, peneliti, maupun mahasiswa. Publikasi ilmiah juga telah banyak dihasilkan. Hasil-hasil riset dan inovasi dibidang pertanian harus bermanfaat bagi petani dan dunia pertanian. Pemerintah, dalam hal ini Kemdiktisaintek, mendorong dan memfasilitasi para peneliti untuk melakukan hilirisasi hasil riset.
Inovasi pertanian disebut berhasil jika dapat digunakan petani, meningkatkan produktivitas dan pendapatan, menurunkan biaya dan risiko, atau memperbaiki kualitas lingkungan. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat, kampus telah melakukan diseminasi hasil riset kepada petani. Namun hal tersebut belumlah cukup. Kampus perlu bergerak satu langkah lebih jauh yaitu dari diseminasi hasil riset menuju penciptaan dampak.
Untuk menciptakan dampak nyata, kampus dapat membangun laboratorium hidup (living lab) pertanian. Living Lab adalah pendekatan di mana kampus, pemerintah, pengusaha, dan petani duduk bersama di satu lokasi nyata. Disini mereka mengidentifikasi masalah dan menciptakan solusi bersama, menguji solusi langsung di lapangan, dan meningkatkan skala solusi jika berhasil.
Dalam hal ini, kampus perlu menjadikan desa, kawasan pertanian, sentra komoditas, koperasi petani, dan perusahaan agribisnis menjadi ruang belajar sekaligus ruang inovasi. Mahasiswa tidak hanya mengerjakan tugas di kelas. Mereka memetakan persoalan produktivitas, rantai pasok, pembiayaan, pemasaran, digitalisasi, hingga regenerasi petani. Dosen dan peneliti bekerja bersama petani untuk menguji dan mengembangkan solusi.
Pertanian berdampak tidak boleh hanya menempatkan petani sebagai produsen bahan mentah, sementara nilai terbesar dinikmati pada tahap pengolahan, distribusi, dan pemasaran. Kampus dapat membantu petani dalam mengembangkan teknologi pascapanen, pengolahan pangan, desain kemasan, branding, standardisasi, sertifikasi, hingga akses pasar global. Kampus juga dapat membantu petani dalam menciptakan nilai tambah dari suatu komoditas, lapangan kerja dan bisnis baru, serta penguatan agripreneur lokal. Dengan demikian, hilirisasi pertanian bukan hanya agenda industri, tapi juga agenda pendidikan dalam mewujudkan pertanian berdampak.
Pertanian berdampak harus dapat diukur keberdampakannya pada petani dan pertanian. Setidaknya terdapat lima indikator utama untuk mengukur pertanian berdampak.
Pertama, dampak ekonomi. Keberhasilan transformasi pertanian bukan hanya dilihat dari berapa ton pangan yang dihasilkan. Yang lebih penting adalah apakah petani menjadi lebih makmur. Sehingga, pertanian berdampak dapat diukur dari kemampuannya dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang dapat meningkatkan penghasilan petani.
Kedua, dampak sosial. Pertanian yang memiliki dampak sosial yang positif dapat menjaga generasi muda bertahan di desa dan tidak tertarik bermigrasi ke kota. Dengan pertanian berdampak, kualitas hidup dan kesempatan kerja tersedia di desa. Karena bukan sekadar padi yang ditanam, melainkan kesejahteraan masyarakat desa secara keseluruhan.
Ketiga, dampak regenerasi. Pertanian harus memberikan dampak pada persepsi anak muda dalam melihat masa depan sektor pertanian. Banyaknya generasi muda yang masuk dan berhasil dalam agribisnis akan berdampak positif pada regenerasi petani masa depan. Hal ini dapat menjadi ukuran sejauhmana pertanian yang dikembangkan berdampak pada regenerasi petani masa depan.
Keempat, dampak teknologi, yaitu sejauhmana inovasi benar-benar diadopsi petani. Kampus perlu mendidik petani dan pelaku usaha pertanian untuk dapat menerapkan knowledge-based agriculture, yaitu pertanian yang bertumpu pada ilmu pengetahuan, inovasi, teknologi. Selanjutnya, dampak teknologi dapat diukur dari sejauhmana inovasi yang diadopsi membuat petani dan pertanian menjadi lebih baik.
Kelima, dampak lingkungan. Dampak lingkungan harus diukur karena pertanian masa depan tidak dapat hanya mengejar produksi tapi juga bagaimana bumi terjaga secara berkelanjutan. Pengukuran dampak lingkungan dapat dilihat dari penggunaan input yang lebih efisien, kesehatan tanah yang membaik, emisi dan limbah lebih terkendali, serta ketahanan menghadapi perubahan iklim.
Aset intelektual yang dimiliki kampus, baik berupa talenta muda, hasil-hasil riset dan inovasi, maupun pengetahuan dan teknologi harus dapat membantu transformasi pertanian berdampak. Kontribusi kampus dalam pertanian berdampak akan membantu terwujudnya kedaulatan pangan berkelanjutan, petani makmur sejahtera, dan lingkungan yang terus terjaga. Semoga! (*)
Editor : Arief M