Kebakaran, Rawa Gambut, dan Sejarah Pengrusakan

admin • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 21:54 WIB
Budi Dayak Kurniawan
Budi Dayak Kurniawan

Oleh: Budi Dayak Kurniawan
Manajer Kampanye dan Program Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Adat (LPMA) Borneo Selatan

Jauh sebelum kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) --diksi yang masih sangat terbuka untuk diperdebatkan tentunya-- ekosistem rawa gambut di Indonesia selalu saja mengalami cobaan. Cobaan datang dari dangkalnya pemahaman dan pengkhianatan terhadap ilmu pengetahuan.

Sejarah mencatat pengrusakan ekosistem rawa gambut terbesar dalam sejarah terjadi ketika para ahli, cerdik pandai, orang-orang pintar, dan birokrat menyetujui ide Soeharto (atas nama Swasembada Pangan) membuka pertanian di lahan gambut seluas 1,5 juta hektare (kemudian dikenal luas sebagai Proyek Lahan Gambut Sejuta Hektare) di Kalimantan (Tengah dan Selatan) pada tahun 1996.

Kanal sepanjang lebih dari 600 Kilometer dibuat. Alat-alat berat bekerja siang malam demi ambisi swasembada pangan Presiden Soharto dengan mencetak sawah-sawah di luar Pulau Jawa. Kayu-kayu ditebangi. Lalu dilarutkan melalui kanal-kanal ke tepian laut. Kayu-kayu gelondongan itu dinaikkan ke tongkang-tongkang. Tongkang-tongkang membawa kayu-kayu Kalimantan itu membelah laut menuju Pulau Jawa dan keluar Nusantara.

Lalu pekerjaan besar lainnya dimulai. Dengan bantuan alat berat, sawah-sawah dicetak. Yang fatal dan Orde Baru lupa --atau sengaja tutup mata dan melupakan-- sawah-sawah itu dicetak di ekosistem rawa gambut yang khas dan tak ada di Pulau Jawa. Petani di Jawa tak mengenal tanah gambut. Apalagi ekosistem rawa gambut dengan segala keunikannya yang memerlukan perlakuan khusus agar lestari terjaga.

Setelah semua siap, para transmigran dari Jawa pun didatangkan. Sebagian ada juga transmigran lokal. Seperti yang biasa terjadi terhadap para transmigran di seluruh Indonesia kala Orba berkuasa, mereka menempati rumah dan menguasai 2,5 hektare lahan (termasuk pekarangan, tanah tempat rumah berdiri, dan persawahan).

Namun, kerusakan ekosistem rawa gambut terbesar dalam sejarah sedang berlangsung. Tanah gambut yang rusak akibat dihajar alat-alat berat justru tak bisa ditanami. Kadar keasamannya yang tinggi membuat ilalang tumbuh tinggi daripada padi. Padi-padi mati sebelum dipanen.

Transmigran yang datang dari Jawa itu pun kebingungan. Tak seperti para petani di Kalimantan --apalagi Urang Banjar-- yang mengenal dekat dan mampu menaklukkan tanah gambut berdasarkan pengalaman, adat, dan kearifan lokal, transmigran asal Jawa justru salah  menangani lahan. Cangkul dan peralatan pertanian lain yang biasa mereka gunakan di Jawa saat menangani tanah gambut justru berbuah petaka.

Berbeda dengan petani Banjar dan Kalimantan lainnya yang "menciptakan" alat pertanian khusus seperti Tajak misalnya,  yang bisa digunakan di lahan gambut tanpa sedikit pun merusak ekosistem yang ada. Mereka juga bisa mengatur keluar masuknya air di lahan gambut, sehingga kadar asam dan piritnya terkendali dan membuat padi bisa tumbuh saat ditanam.  Gambut rusak. Kering. Untungnya pada era 1990-an kerusakan gambut itu tak diikuti kebakaran hutan dan lahan yang massif seperti sekarang.

                                                                        ***

Tapi bukan orang-orang Orde Baru namanya kalau tak bisa menyiasati segala hal. Agar kesan Proyek Lahan Gambut (PLG) Sejuta Hektare itu berhasil dan Soeharto senang, para pejabat Orba menentukan waktu panen raya pada 24 April 1997. Lokasinya di Lamunti, Kabupaten Kapuas, Kalteng. Setelah panen raya,  dari Kapuas Soeharto naik helikopter ke Kalimantan Selatan meresmikan 'Jembatan Barito'.  Saya yang kala itu menjadi jurnalis di Banjarmasinm turut menyaksikan dan meliput peristiwa yang tergolong besar kala itu.

Satu peristiwa unik pun terjadi menjelang panen raya. Karena desakan waktu dan panen yang mungkin masih jauh dari yang sebenarnya, orang-orang bekerja siang malam menyiapkan panen raya. Entah benar atau tidak, kabar tentang pohon pisang, padi, dan yang lain ditanam dan langsung berbuah dalam waktu semalam pun menyebar luas. Namun, namanya hidup di masa Orba, kabar itu tersimpan rapi dalam ingatan kolektif warga.

Panen raya pun berlangsung. Soeharto mengangkat batang padi yang dipanen tinggi-tinggi. Sebuah perayaan yang lazim terjadi di era Orba. Senyum khas Soeharto pun terbit. Yang mungkin Soeharto lupa, PLG Sejuta Hektare yang digagasnya bersama para pembantunya di Jakarta itu telah menorehkan sejarah pengrusakan ekosistem rawa gambut terbesar di dunia.

Kerusakan ekosistem rawa gambut akibat salah penanganan itu pula yang hingga kini berlanjut dalam bentuk dan tensi beragam. Penyebab kerusakan boleh berbeda. Namun dampaknya tetap sama: kebakaran, asap, dan ISPA. Dan tetap saja yang menderita adalah kita, para jelata…(*)

Editor : Arief M
karhutla Opini