Oleh: Ersis Warmansyah Abbas
(Datuk Cendekia Hikmadiraja Kesultanan Banjar)
BEGITU mendapat berita Pak Rudy Ariffin (RA) meninggal pukul 11.00, 6 September 2026, saya terkejut dan memanjatkan doa. Bagi masyarakat Kalsel, Bupati Banjar 2000-2005 dan Gubernur Kalsel 2005–2010 dan 2010–2015, sangat dikenal. Pemimpin adem kalem menyenangkan. Banyak jasa beliau bagi pembangunan Kalsel. Kiranya, menulis sebuku tidak cukup untuk menorehkan prestasi lelaki kelahiran 17 Agustus 1953.
Ya, kebiasaan sekeluarga berolahraga pagi di Perkantoran Gubernur Kalsel mengingat kepada Pak RA. Bila ke kampus ULM Banjarmasin dari Banjarbaru melewati flyover Gatot Subroto Banjarmasin, teringat Pak RA. Sampai di Pascasarjana berkuliah bersama mahasiswa S2 dan S3 teringat Pak RA. Contoh pengingatan tersebut diantara kepedulian Pak RA terhadap kemajuan Kalsel.
Pemikiran dan prestasi Pak RA tentang pembangunan Banua sebagaimana kepribadiannya nan elok, banyak ditulis media atau postingan di media sosial. Tulisan berikut perihal hal-hal ringan menyenangkan berkaitan Pak RA.
Bupati Banjar
Pada suatu hari, Kahumas Kotatif Banjarbaru, Edhy Dhislan, memperkenalkan saya kepada RA ketika menjabat Sekda Kabupaten Banjar. Saya terkesan dengan keseriusan dan canda Pak RA yang kemudian banyak menghiasi perjalanan kehidupan. Ya, Pak RA menempati relung khusus.
“Pak Ersis kita menulis Sejarah Perjuangan Rakyat Kabupaten Banjar yuk”, kata Pak RA. “OK Pak”, jawab saya ringkas. Sebelumnya, sekalipun diteliti teman-teman Depag Kabupaten Banjar (M. Aride BR Cs.), saya mengedit buku Masjid Al-Karomah, Martapura. Pak RA membaca dan meminta saya menulis “Sejarah Perjuangan Rakyat Kabupaten Banjar”, dengan dukungan tidak tanggung-tanggung. Maksudnya?
Saya difasilitasi mobil operasional L300 dan kediaman Sekda Banjar sebagai kantor. Pak RA tinggal di rumah pribadinya. Setelah itu, rutin diajak diskusi. Eit, terkejut ketika diminta ke Barabai mempelajari lebih serius potensi Hulu Sungai Tengah. Ada apa?
Rupanya RA diminta beberapa pihak menjadi calon bupati HST. Saya berangkat dengan Dr. Hardja Santana Purba, Warsono, Daud Pamungkas dan teman-teman. Berita kurang sedapnya, Pak RA tidak terpilih. Waktu itu bupati dipilih anggota dewan. Seru juga kalau ditulis.
Lanjutannya, selesai urusan di HST, Pak RA diminta menjadi Bupati Banjar. Bacalon dan terpilih. Mulus. Saya mengamati kepemimpinan Pak RA, dan sering dengan para wartawan diajak berdiskusi. Adakalanya dengan teman-teman dosen ULM. Hal paling kami sukai, Pak RA sering mambawai makanan. Selera kulinernya tinggi.
Tidak usahlah ditulis prestasinya ketika menjabat sebagai Bupati Banjar atau Gubernur Kalsel, sebab sudah menjadi pengetahuan umum. Saya teringat dua hal, pertama “dimarahi”, dan kedua diledek. Maksudnya?
Pertama, buku “Sejarah Perjuangan Rakyat Kabupaten Banjar” menjelang akhir tahun belum selesai, tahun anggaran akan berakhir. Saya belum paham kalau laporan pekerjaan tahun berjalan belum selesai bermasalah di laporan keuangan. Dapat kuliah gratis dan dimarahi. Seminggu dikebut, selesai.
Kedua, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Bambang Sudibyo, ingin berdialog terbatas dengan 5 orang di kantor Radar Banjarmasin. Saya disertakan. Pada awalnya dialog OK-OK saja. Menjelang berakhir Pak Menteri bertanya : “Masih ada gagasan agar pendidikan Indonesia lebih baik?”.
Santai saja saya utarakan : “Pak Menteri kan ahli ekonomi, sekali saja ya menjadi Mendikbud”. Lalu Pak menteri menanyakan saya dosen dimana dan bla-bla. Nah, Pak RA belasan kali meledek saya dimarahi Pak Mendikbud. Silakan baca di komentar facebook atau saat meledek saya perihal tersebut. Erwin D. Nugroho tahu perledekan Pak RA. Mereka berdua sering mengolok-olok saya.
Peduli Pendidikan
Ketika ada yang mengatakan Pak RA mempunyai perhatian khusus untuk SDM Kalsel ke depan, saya setuju. Kami sering mendiskusikan hal pendidikan ke depan. Bukan sekadar diskusi, tidak pula hanya wacana. Saya contohkan satu hal. Pernah, pukul 01.00 malam membawa pengurus asrama Demang Lehman ke kediaman Gubernur di Banjarmasin. Diskusi malam bukan hal aneh lho. Sekembali pengurus asrama ke Bandung, perbaikan segera dilakukan. Gercep.
Ketika Pak RA terpilih menjadi Gubernur Kalsel, bersama teman-teman kami syukuran di kolam saya di Tanjung Rema, Martapura. Saya tidak tahu protokoler seorang Gubernur bila datang ke suatu tempat. Ternyata merepotkan pengaturan protokoler dan lalu lintas.
Saya sangat berterima kasih kepada Pak RA ketika (akan) meneliti penulisan disertasi S3. “Tenang Pak Dosen, siap. Niat baik pasti ada jalan terbaiknya”. Pak Sulaiman HB, Pak RA, Pak RR, Pak Sultan Khairul Saleh, apalagi Fauzan Asnia dan teman-teman mendukung. Saya menyelesaikan disertasi dengan cepat ketika tulisan tentang Guru Sekumpul belum banyak. Kenapa?
Ya, dibantu beliau-beliau sehingga segalanya mudah. Padahal, meneliti untuk menulis disertasi adakalanya menjadi momok menakutkan. Ada yang urung berpredikat Doktor karena berbagai kendala lapangan. Alhamdulillah, saya diberi kemudahan.
Setelah beliau pensiun, bila rindu ke rumah beliau mendapatkan pencerahan, dan terutama, guyonan dan ledekan lembutnya yang khas. Bertemu Pak RA di hari-hari baik, hari besar Islam. Beliau dengan senang menerima bermuatan candaan. Paling menyedihkan, bila beliau bercerita tentang sakit. Tapi saya tahu, Pak RA sekalipun berpenampilan lembut, dia pejuang tangguh, lelaki kuat. Saya “mencuri” beberapa prinsip keteguhannya.
Dalam pada itu, sangat senang bila membawakan Gulai Itiak dan Kalio Jaring. Saya tidak kalah iseng, sering mencandai beliau. Terserah penilaian orang, saya merasa akrab dengan beliau. Suatu kali, saya tanyakan : “Kenapa mau menemani saya, saya bukanlah penurut?”. Beliau menjawab : “Saya tidak perlu menerjemahkan apa yang dikatakan Ersis”. Ya, maaf, kalau tidak senang dikatakan tidak senang, tidak setuju ya tidak setuju. Sekalipun demikian, bila diperintahkan dilaksanakan. Ketika saya tanyakan ke Rudy Resnawan sama.
Dalam pada itu, saya menganggap Pak RA sebagai Bapak, kakak, teman dan “tempat berlindung”. Secara psikologis, beliau mampu memaklumi sisi kejiwaan. Pada momen-momen tertentu, saya curiga beliau paham yang saya maui. Saya tidak suka dipaksa untuk suka. Hal sangat sulit dalam relasi sosial. Mendapatkan dari Pak RA.
Terkadang, manakala bermenung, tercuat “gugatan” : Seorang Bupati, Gubernur kok bersedia berteman dengan rakyat biasa. Saya merasa terhormat, berteman dengan bukan orang sembarangan. Terima kasih Pak.
Ya, setiap orang akan kembali ke keabadian. Pian badahulu Pak ai. Kami mendoakan dalam kelapangan dalam ridhaNya. Ulun bersaksi, pian urang baik. Tempat terbaik orang baik di sisi Sang Mahapenciota, Allah SWT. Pesan Adit, anak Pak RA, maafkan bila beliau salah dan khilaf.
Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un Innalillah. Selamat jalan Pak Rudy Ariffin, doa kami menyertai Sampeyan. Mohon maaf bila ada kekhilafan dan hal kurang berkenan dari beliau. Al Fatihah. (*)
Editor : M. Ramli Arisno