Rudy Ariffin: Nama yang Selalu Dikenang, Pemimpin Birokrat yang Visioner

Toto Fachrudin • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 08:33 WIB
Rudy Ariffin
Rudy Ariffin

Oleh: Toto Fachrudin
Wakil Direktur Radar Banjarmasin

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meningalkan nama. Minggu, 6 September 2026, satu nama yang begitu berkesan telah meninggalkan kita untuk selamanya.

Berpulangnya Abah Rudy Ariffin tak hanya sekadar memberi kabar duka. Kepergian mantan Gubernur Kalimantan Selatan dua periode itu memberi kenangan tentang gaya kepemimpinan birokrat yang visioner. 

Di era kepemimpinannya, ada keputusan berani yang manfaatnya mungkin baru dirasakan oleh generasi setelah kita. Pemindahan pusat perkantoran Provinsi Kalsel ke Banjarbaru adalah salah satu bukti visi birokrat Rudy Ariffin. Saat kebijakan itu dibuat, Rudy Ariffin sepertinya telah membaca ke mana arah pengembangan ibu kota provinsi di masa depan. 

Jauh sebelum keputusan politik pemindahan ibu kota provinsi ke Banjarbaru ditetapkan, Rudy Ariffin telah memutuskan untuk memindahkan perkantoran Pemprov Kalsel ke Banjarbaru.

Hari ini kita melihat visi yang dibuat 2 dekade lalu itu telah mendorong Banjarbaru terus bertumbuh dan berkembang sebagai pusat pemerintahan. Tetapi ketika gagasan itu pertama kali digulirkan, tentu tidak sesederhana yang kita lihat sekarang.

Begitulah pemimpin seharusnya. Berani mengambil risiko untuk keputusan yang mungkin saat itu dianggap tak populer karena menyedot banyak anggaran. Abah Rudy Ariffin pasti sangat memahami itu.

Sebagai birokrat, ia tahu bagaimana organisasi pemerintahan bekerja. Sebagai politisi, ia tahu keputusan selalu berhadapan dengan kepentingan dan dinamika. Tetapi sebagai seorang pemimpin, ia mencoba melihat Kalsel melampaui zamannya.

Abah Rudy Ariffin mewarisi kepemimpinan kepala daerah sebelumnya yang berlatar birokrat. Sejak dulu Kalsel memang dibangun oleh orang-orang yang tidak hanya memikirkan hari ini. 

Ada Gubernur Syarkawi, Subardjo, Pangeran Muhammad Noor, hingga generasi setelahnya yang meninggalkan gagasan dan jejak pembangunan untuk zamannya masing-masing. Rudy Ariffin adalah bagian dari mata rantai itu.

Sepuluh tahun kepemimpinannya tentu bukan tanpa kekurangan. Tak ada pemerintahan yang sempurna. Tetapi saya kira tidak adil jika seseorang hanya diukur dari apa yang kurang dari zamannya, sementara gagasan dan keberanian yang pernah ia tinggalkan dilupakan.

Saya mungkin tak terlalu dekat secara personal dan emosional dengan beliau. Hari ini, saya lebih memilih mengenang Abah Rudy sebagai seorang birokrat yang pernah mencoba membawa Kalsel melihat lebih jauh.

Tapi sebagai wartawan, saya pernah melihatnya dari banyak sisi. Baginya jabatan bukan kesempatan politis, tapi amanah untuk memberi kebermanfaatan. Itulah yang menjadi prinsipnya selepas menjabat gubernur dua periode.

Ia memilih hari-harinya dengan keluarga ketimbang terjun dalam arena politik praktis menjadi wakil rakyat. Rudy memilih mengakhiri dan menutup karir birokratnya dengan meninggalkan nama yang akan selalu dikenang oleh seluruh masyarakat Kalsel. (*)

Editor : Arief M
tokoh Banua sosok inspiratif Rudy Ariffin ruang jeda