Kalimantan dalam Garis Krisis Ekologi

admin • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 20:00 WIB
Fauzia Noorchaliza, Wabendum Kohati PB HMI 2024-2026, Wakil Ketua Indonesia Geopark Youth Forum, Wakil Ketua Indonesia Geopark Youth Forum Mahasiswa Pascasarjana Biosains Hewan IPB
Fauzia Noorchaliza, Wabendum Kohati PB HMI 2024-2026, Wakil Ketua Indonesia Geopark Youth Forum, Wakil Ketua Indonesia Geopark Youth Forum Mahasiswa Pascasarjana Biosains Hewan IPB

Kalimantan selalu menghadirkan kesan kuat bahwa hutannya yang luas adalah paru-paru bagi dunia. Kalimantan menjadi simbol keutuhan hutan hujan tropis yang menjadi rumah bagi orangutan, bekantan, dan burung enggang. Kanopi pohon-pohon raksasa dipterokarpa menutupi wilayah hutan dan ribuan spesies menjadi bagian penting dari ekosistem hutan 
Kalimantan.

Saat pertama kali menginjakan kaki di Kalimantan tahun 2023, saya sebetulnya sangat ingin menelusuri hutan dan melihat langsung fauna-fauna endemiknya. Namun, karena saat itu bertepatan dengan agenda Kongres HMI XXXII, keinginan itu saya simpan dalam-dalam. Rasa penasaran untuk melihat langsung dinamika ekosistem di Kalimantan, terus membuncah. 

Rasa penasaran itu kini bercampur dengan kekhawatiran. Khawatir bahwa tidak tersisa lagi bentang alam Kalimantan sebagaimana yang digambarkan oleh para peneliti seperti Alfred Russel Wallace, Odoardo Beccari, dan para ahli biologi lainnya. Terhitung dalam kurun waktu empat dekade terakhir, lebih dari 30% hutan Borneo hilang akibat pembalakan liar, kebakaran, pertambangan, dan ekspansi perkebunan. Sebagian besar hutan dataran rendah yang menjadi pusat biodiversitas telah terdegradasi dan mengalami konversi lahan.

Dibalik angka statistik tersebut justru menyingkap fakta menyedihkan berikutnya. Hutan Kalimantan yang kita miliki hari ini mengalami berbagai problematika seperti putusnya koridor satwa, terganggunya siklus hidrologi, dan melemahnya daya lenting ekosistem.

Rasanya menjadi sebuah paradoks bahwa pulau yang dikenal menjadi benteng keanekaragaman hayati, kini lebih sering dikenali melalui pemberitaan kebakaran, kepulan asap, dan degradasi hutan. Seperti kaset yang rusak, kisah pembalakan dan kebakaran terus berulang di hutan Kalimantan. 

Simbol paling kuat dari krisis tersebut dapat disaksikan pada orangutan. Populasi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) di alam liar telah mengalami penurunan drastis hingga 80% sejak tahun 1973. Perkiraan populasinya kini adalah 57.350 individu yang mana dengan angka tersebut, orangutan Kalimantan terancam punah (Critically Endangered).

Penurunan populasi ini banyak disebabkan oleh tekanan antropogenik. 
Hilangnya habitat bagi orangutan, sesungguhnya yang mengalami kehilangan bukan hanya satu spesies saja. Diketahui bahwa orangutan merupakan umbrella species, yakni spesies yang memiliki daerah jelajah yang sangat luas di hutan. Maka, berkurangnya luas habitat bagi orangutan memberi tanda bahaya pada keseluruhan sistem kehidupan yang banyak menopang organisme lain.

Ancaman terhadap hutan Kalimantan tidak hanya berasal dari hilangnya luas hutan, tetapi juga rusaknya ekosistem gambut. Gambut di Kalimantan merupakan salah satu penyimpan karbon terbesar di kawasan tropis. Gambut memiliki kadar air yang cukup tinggi.

Fauzia Noorchaliza, Wabendum Kohati PB HMI 2024-2026, Wakil Ketua Indonesia Geopark Youth Forum, Wakil Ketua Indonesia Geopark Youth Forum Mahasiswa Pascasarjana Biosains Hewan IPB
Editor : Fauzan Ridhani
burung enggang orangutan kalimantan bekantan hutan kalimantan