Oleh : Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin
Setiap kali Maulid Nabi Muhammad SAW diperingati, kita kembali diingatkan pada sosok manusia yang bukan hanya membawa risalah, tetapi juga menghadirkan teladan akhlak. Maulid tidak semestinya berhenti pada lantunan selawat, ceramah, atau kemeriahan acara. Lebih dari itu, Maulid seharusnya menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana akhlak Rasulullah hadir dalam kehidupan kita?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika kehidupan manusia hari ini tidak hanya berlangsung di ruang nyata, tetapi juga di ruang digital. Media sosial telah menjadi bagian dari keseharian. Kita berbicara, berkomentar, berbagi informasi, menyampaikan kritik, bahkan membangun citra diri melalui layar. Dalam situasi seperti ini, akhlak tidak lagi hanya diuji ketika kita berhadapan langsung dengan orang lain. Akhlak juga diuji ketika tidak ada seorang pun yang berada di hadapan kita.
Di sinilah Maulid memiliki relevansi yang kuat. Peringatan kelahiran Nabi bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan menghidupkan kembali nilai-nilai kenabian dalam kehidupan masa kini. Allah SWT menyebut Rasulullah sebagai teladan terbaik: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Ayat tersebut mengingatkan bahwa keteladanan Rasulullah bersifat universal. Prinsip kejujuran, kesantunan, kasih sayang, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama tidak kehilangan makna meskipun zaman berubah. Justru ketika teknologi berkembang begitu cepat, nilai-nilai tersebut semakin dibutuhkan.
Akhlak Tidak Berhenti di Depan Mimbar
Salah satu tantangan dalam memperingati Maulid adalah kecenderungan menjadikan keteladanan Nabi sebagai sesuatu yang hanya dibicarakan. Kita begitu mudah mengagumi akhlak Rasulullah, tetapi belum tentu mudah menerapkannya.
Kita dapat berselawat dengan penuh haru, tetapi beberapa menit kemudian menulis komentar yang menyakiti orang lain. Kita dapat berbicara tentang kelembutan Rasulullah, tetapi ikut menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Kita mengagumi kejujuran Nabi, tetapi terkadang membagikan judul berita yang menyesatkan hanya karena ingin mendapatkan perhatian.
Di sinilah terdapat jarak antara memperingati Maulid dan menghidupkan akhlak Nabi. Maulid seharusnya tidak hanya membuat kita semakin mengenal sejarah Rasulullah, tetapi juga membuat perilaku kita berubah. Ukuran keberhasilan Maulid bukan semata-mata seberapa meriah acaranya, melainkan seberapa jauh nilai keteladanan Nabi terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk ke dalam ruang digital.
Dari Akhlak Lisan ke Akhlak Jempol
Dalam kehidupan nyata, seseorang bisa menjaga lisannya karena sadar bahwa kata-kata dapat melukai orang lain. Namun di media sosial, bentuk komunikasi berubah. Kata-kata berpindah melalui jari. Satu sentuhan dapat menjadi komentar, unggahan, atau penyebaran informasi kepada banyak orang.
Karena itu, kita membutuhkan apa yang dapat disebut sebagai akhlak digital. Akhlak digital bukan ajaran baru yang terpisah dari akhlak Islam. Ia merupakan penerapan nilai-nilai akhlak dalam lingkungan teknologi. Jika Islam mengajarkan kejujuran, maka kejujuran juga harus hadir dalam unggahan. Jika Islam mengajarkan tabayun, maka verifikasi informasi harus menjadi kebiasaan. Jika Islam melarang menyakiti sesama, maka penghinaan dan perundungan di media sosial juga harus dihindari.
Al-Qur'an memberikan prinsip yang sangat relevan dalam menghadapi arus informasi: “Maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6).
Pesan tabayun menjadi semakin penting di era ketika informasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Tidak semua yang viral adalah benar. Tidak semua yang banyak dibagikan layak dipercaya. Tidak semua informasi yang sesuai dengan pendapat kita otomatis benar.
Akhlak digital dimulai dari kesediaan untuk berhenti sejenak sebelum menekan tombol “bagikan”.
Nabi dan Etika Berkomunikasi
Rasulullah SAW memberikan prinsip sederhana tetapi sangat kuat dalam komunikasi. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, beliau bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”
Prinsip tersebut sangat relevan dengan media sosial. Hari ini, kita memiliki kemampuan berbicara kepada ribuan bahkan jutaan orang tanpa harus memiliki panggung. Sebuah akun pribadi dapat menjadi ruang publik. Satu komentar dapat dibaca banyak orang. Satu unggahan dapat bertahan dan berpindah dari satu platform ke platform lain.
Karena itu, sebelum berbicara di ruang digital, pertanyaan sederhana perlu dibiasakan: Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah cara menyampaikannya baik? Apakah ada orang yang akan terluka tanpa alasan yang benar?
Jika jawabannya tidak jelas, diam sering kali menjadi pilihan yang lebih bijaksana.
Maulid dan Pendidikan Generasi Digital
Pendidikan keteladanan Nabi juga perlu masuk lebih jauh ke dalam pendidikan generasi muda. Anak-anak dan remaja hari ini tumbuh dalam lingkungan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka berhadapan dengan banjir informasi, algoritma, konten pendek, budaya viral, dan komunikasi yang serba cepat.
Mereka tidak cukup hanya diajarkan bagaimana menggunakan teknologi. Mereka juga perlu diajarkan bagaimana bersikap ketika menggunakan teknologi. Inilah ruang penting bagi keluarga, sekolah, pesantren, dan perpustakaan.
Literasi digital tidak cukup jika hanya mengajarkan cara mencari informasi. Literasi harus bertemu dengan etika. Anak-anak perlu belajar membedakan fakta dan opini, mengenali informasi palsu, menghargai karya orang lain, menjaga privasi, serta berkomunikasi secara santun.
Lebih jauh, perpustakaan juga dapat menjadi ruang pembelajaran akhlak digital. Koleksi tentang sirah Nabi, akhlak, literasi informasi, dan etika bermedia dapat dipertemukan dalam berbagai program literasi. Dengan demikian, perpustakaan bukan hanya mengajarkan masyarakat untuk membaca informasi, tetapi juga mengajarkan bagaimana menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
Dari Maulid Menuju Kebiasaan
Pada akhirnya, Maulid bukanlah garis akhir. Ia adalah titik berangkat. Kita memperingati kelahiran Nabi untuk kembali menghidupkan keteladanannya. Kita mengenang kejujuran beliau agar kita belajar jujur. Kita mengenang kelembutan beliau agar kita tidak mudah kasar. Kita mengingat kepedulian beliau agar kita tidak kehilangan empati. Dan di era digital, kita membawa semua nilai tersebut ke ruang yang kini menjadi bagian penting kehidupan manusia.
Mungkin salah satu bentuk cinta kepada Nabi hari ini bukan hanya memperbanyak selawat, tetapi juga memastikan bahwa jari-jari kita tidak menjadi sumber kebencian. Bukan hanya membagikan kisah tentang akhlak Rasulullah, tetapi juga menghadirkan akhlak itu dalam setiap komentar dan unggahan.
Sebab, dunia digital membutuhkan manusia yang bukan hanya cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga cerdas menjaga akhlak ketika menggunakannya. Maulid mengajarkan kita untuk mengenal Nabi. Keteladanan mengajak kita meniru Nabi. Dan akhlak digital menuntut kita membawa keteladanan itu ke dalam kehidupan nyata maupun dunia maya.
Dari Maulid, mari bergerak menuju akhlak. Dari selawat, mari menuju keteladanan. Dari mengenang Rasulullah, mari menghadirkan nilai-nilai beliau dalam setiap ruang kehidupan—termasuk ruang digital. Karena pada akhirnya, teknologi boleh semakin canggih, tetapi manusia tetap membutuhkan akhlak. (*)
Editor : Arief M