Remaja, AI, dan Masa Depan Perpustakaan (Refleksi Hari Remaja Internasional 2026)

admin • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 20:55 WIB
Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom
Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom

Oleh: Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin

Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Cara belajar, bekerja, mencari informasi, bahkan berkomunikasi kini semakin bergantung pada teknologi yang mampu menghasilkan jawaban dalam hitungan detik. Bagi generasi muda, AI bukan lagi sekadar inovasi teknologi, melainkan bagian dari keseharian. Tugas sekolah dapat diringkas oleh AI, ide tulisan dapat dihasilkan dalam sekejap, dan informasi apa pun seolah tersedia hanya dengan satu pertanyaan.

Fenomena ini menghadirkan optimisme sekaligus kegelisahan. Optimisme karena AI membuka peluang yang belum pernah ada sebelumnya dalam mempercepat akses terhadap pengetahuan. Kegelisahan karena kemudahan itu dapat melahirkan generasi yang terbiasa menerima jawaban tanpa memahami proses berpikir di baliknya. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, di tengah dominasi AI, bagaimana masa depan perpustakaan? Apakah perpustakaan masih memiliki tempat di hati generasi muda?

Jawabannya justru semakin penting. Di era AI, perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan institusi yang menjaga kualitas pengetahuan dan membentuk kemampuan berpikir kritis. Masa depan perpustakaan tidak ditentukan oleh banyaknya koleksi yang dimiliki, tetapi oleh kemampuannya membimbing masyarakat, khususnya remaja, agar mampu menggunakan teknologi secara cerdas, etis, dan bertanggung jawab.

Tema Hari Remaja Internasional 2026, Different Contexts, Common Aspirations (Konteks yang Berbeda, Aspirasi yang Sama), menjadi momentum yang tepat untuk merefleksikan hubungan antara remaja, AI, dan perpustakaan. Remaja mungkin hidup dalam kondisi sosial, ekonomi, dan geografis yang berbeda, tetapi mereka memiliki aspirasi yang sama, yakni memperoleh pendidikan yang berkualitas, kesempatan berkembang, dan masa depan yang lebih baik. Untuk mewujudkan aspirasi tersebut, mereka memerlukan lebih dari sekadar akses teknologi. Mereka membutuhkan kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, dan mengambil keputusan secara bijaksana.

Di sinilah tantangan terbesar era digital. AI mampu menghasilkan jawaban yang cepat, tetapi tidak selalu benar. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa AI generatif dapat menghasilkan informasi yang tampak meyakinkan, meskipun tidak didukung oleh sumber yang valid. Dalam dunia teknologi, kondisi ini dikenal sebagai hallucination, ketika sistem menyampaikan informasi yang salah seolah-olah merupakan fakta.

Bagi remaja yang belum memiliki kemampuan literasi informasi yang memadai, situasi ini tentu berisiko. Mereka dapat menerima informasi tanpa verifikasi, menyebarkan konten yang keliru, bahkan membangun pemahaman berdasarkan sumber yang tidak kredibel. Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan utama bukan lagi bagaimana memperoleh jawaban, melainkan bagaimana memastikan bahwa jawaban tersebut benar.

Karena itu, masa depan perpustakaan sesungguhnya tidak berada dalam persaingan dengan AI. Perpustakaan justru menjadi mitra yang melengkapi kecanggihan teknologi. AI mampu mempercepat pencarian informasi, sedangkan perpustakaan mengajarkan cara mengevaluasi informasi. AI menghasilkan jawaban, sementara perpustakaan membangun pemahaman. AI mempermudah pekerjaan, tetapi perpustakaan menumbuhkan kebijaksanaan dalam menggunakan pengetahuan.

Perubahan ini juga menggeser peran pustakawan. Jika dahulu pustakawan identik dengan pengelola koleksi, kini mereka menjadi pendamping literasi digital. Pustakawan membantu pengguna menemukan sumber yang kredibel, mengajarkan teknik penelusuran informasi ilmiah, memperkenalkan etika penggunaan AI, hingga membimbing remaja agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pembelajar yang kritis.

Transformasi tersebut menjadi sangat penting karena generasi muda saat ini lebih banyak berinteraksi dengan algoritma dibandingkan dengan buku. Beranda media sosial sering kali menjadi sumber informasi pertama yang mereka lihat setiap hari. Sayangnya, algoritma bekerja berdasarkan preferensi pengguna, bukan berdasarkan kualitas informasi. Konten yang paling sering muncul bukanlah yang paling benar, melainkan yang paling mampu menarik perhatian.

Dalam kondisi demikian, perpustakaan harus hadir sebagai penyeimbang. Perpustakaan tidak cukup hanya menyediakan ruang baca yang nyaman, tetapi juga perlu menghadirkan layanan yang relevan dengan kehidupan digital remaja. Kelas literasi AI, pelatihan cek fakta, lokakarya keamanan digital, konsultasi penelusuran informasi, hingga konten edukatif di media sosial merupakan bentuk transformasi yang perlu terus dikembangkan.

Perpustakaan juga harus memanfaatkan AI sebagai bagian dari inovasi layanan. Teknologi AI dapat digunakan untuk memberikan rekomendasi bacaan yang lebih personal, membantu pencarian koleksi secara lebih cepat, menyediakan layanan referensi virtual, menerjemahkan dokumen, hingga meningkatkan akses informasi bagi penyandang disabilitas. Dengan demikian, AI bukan diposisikan sebagai ancaman, melainkan sebagai alat yang memperkuat fungsi perpustakaan.

Namun, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, nilai utama perpustakaan tetap terletak pada manusianya. Tidak ada algoritma yang mampu menggantikan empati pustakawan ketika membimbing pengguna menemukan informasi yang tepat. Tidak ada mesin yang sepenuhnya dapat menggantikan proses dialog, diskusi, dan refleksi yang selama ini tumbuh di ruang-ruang perpustakaan. Di situlah perpustakaan memiliki keunggulan yang tidak dimiliki teknologi.

Lebih jauh lagi, perpustakaan berperan dalam membentuk karakter generasi muda. Budaya membaca melatih kesabaran, kemampuan menganalisis, serta kebiasaan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Literasi informasi mengajarkan pentingnya kejujuran akademik, penghargaan terhadap karya orang lain, dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi dunia yang semakin terdigitalisasi.

Indonesia sedang memasuki fase penting menuju Indonesia Emas 2045. Bonus demografi yang dimiliki bangsa ini akan menjadi kekuatan apabila didukung oleh generasi muda yang literat, adaptif, dan berintegritas. Sebaliknya, bonus demografi dapat berubah menjadi tantangan apabila generasi mudanya hanya menjadi konsumen teknologi tanpa kemampuan berpikir kritis. Karena itu, investasi pada perpustakaan dan literasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis.

Pada akhirnya, AI akan terus berkembang. Kemampuannya akan semakin canggih, semakin cepat, dan semakin mudah diakses oleh siapa saja. Namun, masa depan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, melainkan oleh kualitas manusia yang menggunakannya. Remaja membutuhkan AI untuk memperluas peluang belajar, tetapi mereka juga membutuhkan perpustakaan untuk membangun nalar, etika, dan kebijaksanaan. (*)

Editor : Arief
remaja Opini Literasi