Ketika SPBU Jadi Sirkuit, Semestinya Jadi Alarm

admin • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 10:32 WIB
M Ramli Arisno, Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin
M Ramli Arisno, Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin

Oleh: M Ramli Arisno
Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin

 

Ada video dari SPBU Kambitin, Tabalong, yang bikin saya ketawa sekaligus miris. Begitu pagar dibuka, sejumlah pengendara motor langsung tancap gas, berebut posisi menuju antrean Pertalite. Sekilas mirip start MotoGP. Bedanya, gak ada podium yang diperebutkan. Hadiahnya juga bukan trofi. Mereka cuma pengin dapat BBM.

Video itu lantas ramai di media sosial. Orang tertawa, bikin meme, membandingkannya dengan balapan. Tapi di balik kelucuan itu ada pertanyaan yang jauh lebih serius: kenapa untuk dapat BBM subsidi, orang sampai merasa perlu berlomba?

Gampang sebenarnya kalau mau menyalahkan pengendara karena tak tertib. Tinggal bilang mereka tak sabar, tak disiplin, atau abai soal keselamatan. Tapi berhenti di situ justru membuat kita gagal melihat persoalan yang lebih besar.

Coba bayangkan seseorang yakin dia tetap bisa dapat Pertalite tanpa harus berebut. Apakah dia akan memacu motornya di antara pengendara lain? Belum tentu.

Perilaku manusia sangat dipengaruhi situasi. Ketika barang yang dibutuhkan dianggap terbatas, sementara yang membutuhkan banyak, antrean bisa berubah jadi arena kompetisi. Logikanya sederhana: siapa cepat, dia dapat.

Di titik ini, video Kambitin jadi lebih dari sekadar tontonan viral. Ia memperlihatkan bagaimana ketidakpastian bisa mengubah perilaku masyarakat.

Tentu, kita mesti hati-hati. Satu video saja tak cukup untuk membuktikan bahwa stok Pertalite di SPBU itu selalu langka, bahwa kuotanya tak mencukupi, atau bahwa seluruh persoalan BBM subsidi di Tabalong disebabkan kebijakan tertentu. Itu perlu data yang lebih lengkap.

Tapi justru respons publik terhadap video itu yang layak diperhatikan. Banyak komentar mengaitkannya dengan panjangnya antrean dan sulitnya dapat BBM subsidi. Artinya, orang tak cuma melihat aksi ugal-ugalan. Mereka membaca adegan itu sebagai sesuatu yang terasa akrab dengan pengalaman mereka sendiri.

Dan di sinilah pemerintah, pengelola SPBU, serta pihak-pihak yang bertanggung jawab atas distribusi BBM semestinya tak buru-buru defensif.

Video viral ini semestinya jadi alarm, bukan sekadar bahan ketawa.

Sebab soalnya bukan cuma bagaimana membuat orang tertib mengantre. Yang lebih mendasar: apakah sistem distribusi sudah membuat masyarakat merasa aman bahwa mereka akan tetap kebagian BBM tanpa harus berebut?

Kalau jawabannya belum, menyuruh orang “sabar mengantre” saja jelas tak cukup.

Perlu juga dipertanyakan: apakah informasi soal ketersediaan BBM sudah cukup jelas? Apakah mekanisme distribusi mampu mengantisipasi lonjakan permintaan? Apakah pengaturan kendaraan di area SPBU sudah memadai? Dan yang paling penting, apakah masyarakat punya alasan untuk percaya bahwa datang belakangan tak berarti pulang dengan tangki kosong?

Sebab begitu kepercayaan terhadap sistem menurun, manusia cenderung kembali ke naluri paling sederhana: amankan dulu kebutuhan sendiri. Jadi, jangan buru-buru menertawakan “start MotoGP” di Kambitin itu.

Bisa jadi yang sedang kita lihat bukan masyarakat yang tiba-tiba kehilangan kesabaran. Bisa jadi kita sedang melihat masyarakat yang sedang beradaptasi dengan sistem yang mereka anggap tak pasti.

Dan kalau SPBU sampai berubah jadi sirkuit balap, pertanyaan pentingnya bukan siapa pembalap tercepat. Pertanyaannya: kenapa masyarakat merasa harus balapan cuma untuk dapat BBM?

Sebab kalau kebutuhan dasar saja sudah diperebutkan seperti garis finis, mungkin yang perlu dibenahi bukan cuma perilaku pengendaranya. Mungkin sistemnya yang perlu diperiksa. (*)

Editor : Arief
spbu ruang jeda