Sulingjar: Suara Guru untuk Sekolah yang Lebih Baik

admin • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 17:56 WIB
Gina Faizah, S.Pd, Gr
Gina Faizah, S.Pd, Gr

Oleh: Gina Faizah, S.Pd, Gr
Guru Penggerak Kota Banjarmasin,
Guru Ekonomi SMA Negeri 7 Banjarmasin 

Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar) untuk jenjang SMA sederajat resmi dimulai sejak tanggal 20 Juli – 17 Agustus 2026. Setiap tahun sekolah disibukkan dengan berbagai agenda. Ada pembelajaran, asesmen, rapat, administrasi, hingga berbagai kegiatan pengembangan sekolah. Di tengah kesibukan itu, hadir satu kegiatan yang mungkin bagi sebagian guru terasa sebagai rutinitas tahunan: Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar).

Namun, benarkah Sulingjar hanya sekadar mengisi kuesioner? Jawabannya tentu tidak. Sulingjar sejatinya adalah salah satu cara untuk mendengarkan suara mereka yang setiap hari berada di jantung pendidikan: guru dan tenaga kependidikan. Melalui Sulingjar, sekolah dapat melihat dirinya sendiri dengan lebih jujur. Bagaimana iklim belajar yang dirasakan? Apakah guru merasa aman dan nyaman menjalankan tugas? Bagaimana dukungan sekolah terhadap proses pembelajaran? Apakah lingkungan sekolah sudah mendorong tumbuhnya karakter dan kompetensi peserta didik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terlihat sederhana. Tetapi, di balik jawaban setiap guru, terdapat gambaran tentang wajah pendidikan kita. Bagi jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA), SMK, MA, dan sederajat, pelaksanaan Sulingjar menjadi semakin penting. Peserta didik pada jenjang ini sedang berada pada fase menentukan masa depan. Mereka tidak hanya membutuhkan pengetahuan akademik, tetapi juga lingkungan belajar yang aman, inklusif, sehat, mendukung, dan mampu mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan setelah lulus.

Karena itu, kualitas pendidikan tidak cukup hanya diukur dari nilai ujian atau capaian akademik. Ada banyak hal yang tidak selalu terlihat dalam angka rapor: apakah peserta didik merasa dihargai, apakah guru mendapatkan dukungan untuk berkembang, apakah pembelajaran berlangsung secara positif, dan apakah sekolah memiliki lingkungan yang memungkinkan semua warga sekolah bertumbuh.

Di sinilah Sulingjar memiliki arti penting. Sulingjar bukanlah ujian untuk menentukan benar atau salahnya seorang guru. Sulingjar juga bukan instrumen untuk mencari siapa yang harus disalahkan ketika kondisi sekolah belum ideal. Sebaliknya, Sulingjar semestinya dipandang sebagai cermin. Melalui cermin itu, sekolah dapat melihat kekuatan yang sudah dimiliki sekaligus menemukan bagian-bagian yang masih perlu diperbaiki.

Karena itu, guru tidak perlu takut memberikan jawaban yang jujur. Kejujuran dalam mengisi Sulingjar justru merupakan bentuk kepedulian terhadap sekolah.

Bayangkan jika semua guru mengisi survei hanya dengan jawaban yang dianggap "aman". Kita mungkin mendapatkan angka yang terlihat baik, tetapi kehilangan kesempatan untuk mengetahui persoalan yang sesungguhnya. Sebaliknya, ketika guru memberikan jawaban secara jujur berdasarkan pengalaman nyata, data yang terkumpul dapat menjadi bahan refleksi untuk melakukan perbaikan.

Tentu saja, Sulingjar tidak boleh berhenti pada pengisian kuesioner. Data yang dihasilkan harus menjadi bahan untuk membaca kondisi sekolah dan merancang langkah perbaikan. Jika hasilnya menunjukkan masih adanya tantangan dalam iklim keamanan, maka sekolah perlu memperkuat budaya sekolah yang aman dan bebas dari kekerasan. Jika ditemukan persoalan dalam proses pembelajaran, maka pengembangan kompetensi guru perlu mendapatkan perhatian. Jika kesejahteraan psikologis warga sekolah menjadi tantangan, maka sekolah perlu membangun dukungan yang lebih kuat.

Dengan kata lain, Sulingjar seharusnya menjadi pintu masuk menuju perubahan, bukan sekadar kegiatan yang selesai ketika tombol "kirim" ditekan.

Di sinilah peran guru menjadi sangat penting.

Guru bukan hanya pelaksana Sulingjar. Guru adalah bagian utama dari keberhasilan pelaksanaannya. Guru memiliki pengalaman langsung tentang bagaimana kebijakan pendidikan diterapkan di ruang kelas. Guru mengetahui tantangan yang dihadapi peserta didik. Guru merasakan dinamika hubungan antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Karena itu, suara guru dalam Sulingjar sangat berharga.

Maka, ketika jadwal Sulingjar tiba, mari kita jangan melihatnya sebagai tambahan beban administrasi. Mari melihatnya sebagai kesempatan untuk berbicara.

Berbicara tentang apa yang sudah baik.

Berbicara tentang apa yang masih kurang.

Berbicara tentang tantangan yang selama ini mungkin belum terdengar.

Dan yang paling penting, berbicara tentang perubahan seperti apa yang kita harapkan untuk sekolah kita.

Kesuksesan Sulingjar bukan hanya tentang berapa banyak guru yang telah mengisi survei. Lebih dari itu, kesuksesan Sulingjar terletak pada sejauh mana seluruh warga sekolah memiliki kesadaran bahwa data dan suara yang disampaikan dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki kualitas pendidikan.

Oleh karena itu, mari kita sukseskan Sulingjar 2026. Isi dengan sungguh-sungguh, jujur, dan berdasarkan kondisi yang benar-benar kita alami. Jangan mengisi karena takut. Jangan pula mengisi sekadar menggugurkan kewajiban.

Isilah karena kita peduli.

Sebab, mungkin satu jawaban kita terlihat kecil. Tetapi ketika suara ribuan guru dari berbagai SMA, SMK, MA, dan satuan pendidikan sederajat dikumpulkan, suara itu dapat menjadi gambaran besar tentang kondisi pendidikan kita.

Pada akhirnya, sekolah yang baik bukanlah sekolah yang hanya terlihat sempurna dalam laporan. Sekolah yang baik adalah sekolah yang berani melihat kenyataan, mau mendengarkan suara warganya, dan bersedia terus memperbaiki diri.

Dan mungkin, perubahan itu dapat dimulai dari satu hal sederhana: guru yang mengisi Sulingjar dengan jujur dan penuh kesadaran.

Mari sukseskan Sulingjar.

Bukan sekadar demi menyelesaikan survei.

Tetapi demi menghadirkan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman, sehat, inklusif, dan bermutu bagi anak-anak Indonesia. (*)

 

Editor : Arief
sulingjar Opini Guru