Ayah, Keluarga dan Ruang Digital

admin • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 22:10 WIB
Teguh Pamungkas
Teguh Pamungkas

Oleh: Teguh Pamungkas
Penyuluh Keluarga Berencana Kemendukbangga/BKKBN

Ayah memberikan waktu bersama keluarga sangat baik untuk perkembangan jiwa, otak dan kebiasaan anak. Waktu yang berkualitas bersama atau family quality time bisa dimanifestasikan berupa perhatian dan aktivitas bersama keluarga tanpa ada gangguan-gangguan. Menikmati setiap saat dengan menyenangkan dan suasana yang hangat. Kegiatan yang dilakukan di dalam maupun di luar rumah membuatnya menjadi dekat.

Dan setiap tanggal 29 Juni diperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas). Di tahun ini merupakan Harganas yang ke-33. Dengan mengusung tema “Ayah wajib hadir”. Melalui tema tersebut, mendorong para ayah untuk lebih berperan, terlibat aktif dalam pengasuhan dan pendidikan keluarga. Karena kehadiran figur ayah pada keluarga bukan hanya fisik, namun juga secara emosional dan spiritual guna menyetak generasi yang berkarakter.

Mempererat hubungan ayah dan keluarga menciptakan lingkungan terbuka. Sehingga anggota keluarga leluasa menyampaikan pikiran dan perasaan, anak pun tumbuh kepercayaan diri segera menyelesaikan masalahnya melalui bantuan ayah atau orangtua.

Karena itu, peran ayah ketika merencanakan keluarga dan pengambilan keputusan memiliki kontribusi besar bagi keluarga. Berangkat dari sana dapat meningkatkan kualitas hidup keluarga, serta menciptakan keluarga untuk lebih harmonis lagi

Ruang Digital
Anak adalah peniru ulung. Di sisi lain, mereka hidup di era digital seperti sekarang ini, yang meniscayakan manusia untuk melek terhadap teknologi. Karena hampir di semua aspek kehidupan tak lepas dari internet serta berbagai produk teknologi modern. Mahir dan bijak dalam ruang digital merupakan pedomannya, sehingga memiliki dampak positif yang akan mengantarkan pada nilai kebaikan.

Dalam empat tahun terakhir, penggunaan internet di kalangan anak-anak Indonesia melonjak secara signifikan. Di mana data pada tahun 2020 tercatat 49,59 persen anak usia 5 sampai 17 tahun yang telah mengakses internet. Sementara, data tahun 2024 ada sebanyak 73,90 persen di rentang usia yang sama.

Kenaikan anak dalam mengakses ruang digital perlu adanya pendampingan orangtua atau kaum dewasa untuk melindungi anak di rumah. Tentunya hal ini juga sebagai tanggung jawab bersama bagi masyarakat dan negara. Untuk memperkuat komitmen melindungi anak-anak dan kelompok rentan di dunia maya, seperti media sosial dan game online, diterbitkan PP No. 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).

Anak-anak memiliki kemampuan luar biasa dalam mengadopsi atau meniru yang diperolehnya dari pengamatan, tontonan, melalui dunia maya. Namun teknologi tidak hanya untuk dikuasai, tapi juga harus dimanfaatkan dan didayagunakan untuk hal-hal yang konstruktif dalam berbagai aspek kehidupan, terutama pendidikan.

Usia anak-anak merupakan masa penuh kebebasan. Bebas bergerak, bebas berkreasi, bebas berekspresi dalam mengasah ide dan mengembangkan potensi. Selain itu, selalu diliputi keingintahuan yang tinggi dan penuh penasaran. Jika dipahami oleh orangtua dengan baik, rasa ingin tahu anak dapat mengantarkannya pada kekayaan pengetahuan dan wawasan. Apalagi media menuju dunia digital kini dengan mudah bisa diakses melalui gadget, hanya dalam satu genggaman. Tak perlu komputer atau laptop.

Paparan informasi dan tontonan dari gawai sangat mempengaruhi mental anak, terlebih apabila memiliki media sosial. Selain itu, kurangnya interaksi sosial dengan anggota keluarga lainnya dan masyarakat di lingkungan tempat tinggal, anak semakin kurang perhatian.

Padahal kehidupan dalam dunia maya bukanlah kehidupan yang realistis. Apalagi aksesnya begitu mudah untuk ditelusuri. Berita atau informasi negatif yang dikonsumsi anak terus menerus akan membentuk mental dalam perkembangannya di kemudian hari.

Pendampingan
Orangtua merupakan pengasuh dan pendamping anak dalam keluarga. Ayah sebagai kepala rumah tangga memiliki andil besar untuk pertumbuhan anaknya, terutama bagi remaja. Kehadiran ayah membangun kepercayaan diri dan kehandalan anak menghadapi tekanan serta tantangan. Yang dimaksud kehadiran bukan lah fisik semata, namun lebih pada sisi psikologis sang anak dengan sosok ayah.

Sebaliknya, kondisi anak yang tumbuh tanpa peran atau hadirnya figur ayah (fatherless), pertumbungan anak cenderung mengalami kurangnya ketahanan mental. Seperti lebih rentan stress atau kecemasan yang berdampak produktivitas dan stabilitas emosional anak dan remaja.

Tanpa kehadiran sosok ayah, anak juga berpotensi terhadap perilaku destruktif. Di mana anak dan remaja cenderung melakukan tindakan yang merusak diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Pada akhirnya kehidupan sosial dan kesehatan mentalnya bisa terganggu. Seperti contohnya melakukan pertengkaran atau perilaku kekerasan kepada orang lain.

Anak memerlukan pujian dari orang terdekatnya, yaitu ayah dan ibu. Perilaku atau tindakan yang positif sudah semestinya diberikan apresiasi. Hal-hal kecil yang telah dilakukannya mendapatkan pengakuan. Selanjutnya, anak merasa senang dan akan membuka diri, sedikit demi sedikit terbangun komunikasi yang efektif antara anak atau remaja dengan orangtua.

Dari komunikasi terbuka antara ayah dan anak, maka memberikan arahan kepada anak semakin mudah. Termasuk merekomendasikan konsekuensi logis terhadap perilaku yang dilakukan pada diri sendiri maupun orang lain. Terlebih dengan hidup bersama pada kehidupan era digital seperti sekarang ini. Kontrol orangtua terhadap anak akan mengalami kesusahan, namun kesulitan akan terpatahkan apabila telah tumbuh kepercayaan.

Hubungan antar anggota keluarga di rumah adalah hubungan yang hidup. Artinya ada kepedulian, saling menghargai, bertanggung jawab dan ada dialogis pembahasan masalah keluarga sebagai solusinya. Apabila rumah mampu menjadi tempat untuk pulang yang nyaman, maka semua aktvitas pun menjadi aman. Selamat Hari Keluarga Nasional. (*)

Editor : Arief
Anak keluarga Opini