Oleh: Haris Zaky Mubarak, MA
Analis, Peneliti
Kandidat Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia
Selama beberapa dekade, pembangunan ekonomi Indonesia cenderung berorientasi pada jalan raya, pelabuhan laut, dan kawasan industri daratan. Di tengah arus modernisasi tersebut, ada satu aset strategis yang justru semakin terpinggirkan, yakni sungai. Bagi masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan, sungai bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang hidup, jalur perdagangan, identitas budaya, sekaligus fondasi terbentuknya peradaban ekonomi sejak berabad-abad lalu. Kini, ketika dunia mulai mencari model pembangunan yang lebih hijau, murah, dan berkelanjutan, sudah saatnya Indonesia menghidupkan kembali jalur perdagangan sungai sebagai kekuatan ekonomi Banjar abad ke-21.
Paradigma pembangunan tersebut bukanlah romantisme sejarah. Sebaliknya, ia merupakan strategi ekonomi yang memiliki dasar historis, antropologis, sekaligus relevansi terhadap dinamika perdagangan global saat ini. Sejarah mencatat bahwa Kesultanan Banjar tumbuh sebagai kekuatan dagang karena kemampuannya menguasai jaringan sungai. Sungai Barito, Martapura, Negara, Tapin, Amandit hingga Tabalong membentuk sistem transportasi yang menghubungkan pedalaman Kalimantan dengan pesisir Laut Jawa. Melalui jaringan tersebut mengalir hasil hutan, rotan, damar, lada, emas, intan, hingga berbagai komoditas pertanian menuju pelabuhan Banjarmasin sebelum diperdagangkan ke Jawa, Malaka, Tiongkok maupun kawasan Asia Tenggara. Jaringan sungai bahkan menjadi tulang punggung integrasi politik dan ekonomi wilayah Banjar sejak masa kerajaan hingga kolonial Belanda
Landasan Sejarah
Dalam perspektif sejarah ekonomi, kondisi kontekstual menunjukkan bahwa sungai bukan sekadar media transportasi. Sungai adalah infrastruktur ekonomi alami yang membentuk pusat-pusat pertumbuhan. Kenneth R. Hall (1985) menjelaskan bahwa perkembangan negara-negara Asia Tenggara awal sangat dipengaruhi kemampuan mengendalikan jalur perdagangan air. Dalam konteks Banjar, teori tersebut menemukan relevansinya karena hampir seluruh aktivitas ekonomi tradisional berkembang mengikuti aliran sungai. Ironisnya, setelah kemerdekaan, orientasi pembangunan perlahan bergeser menuju transportasi darat. Jalan nasional diperluas, kendaraan bermotor berkembang pesat, sementara transportasi sungai semakin kehilangan prioritas. Padahal secara geografis Kalimantan memiliki karakteristik yang berbeda dengan Pulau Jawa. Sungai justru merupakan "jalan raya alami" yang telah tersedia tanpa biaya pembangunan dasar.
Perubahan orientasi pembangunan membawa konsekuensi ekonomi yang tidak kecil. Biaya logistik meningkat karena seluruh distribusi bergantung pada truk dan jalan raya. Pada saat yang sama, kemacetan, kerusakan jalan akibat kendaraan berat, konsumsi bahan bakar, hingga emisi karbon terus bertambah.Dari sudut pandang ekonomi global, situasi ini justru bertolak belakang dengan kecenderungan negara-negara maju. Uni Eropa terus mengembangkan sistem inland waterway transport melalui Sungai Rhine dan Danube. Tiongkok memanfaatkan Sungai Yangtze sebagai koridor industri terbesar di dunia. Amerika Serikat masih mengandalkan Sungai Mississippi sebagai jalur distribusi hasil pertanian. Negara-negara tersebut memahami bahwa transportasi sungai mampu mengangkut muatan besar dengan biaya energi yang jauh lebih rendah dibandingkan transportasi jalan. Artinya, dunia sedang kembali menghargai ekonomi berbasis sungai, sementara Indonesia justru perlahan meninggalkannya.
Dari perspektif antropologi budaya, masyarakat Banjar telah sejak lama membangun identitasnya sebagai masyarakat sungai. Rumah-rumah menghadap air, pasar tumbuh di tepian sungai, aktivitas sosial berlangsung melalui jukung, bahkan pola komunikasi masyarakat mengikuti jaringan aliran sungai. Identitas tersebut menghasilkan apa yang disebut antropolog sebagai river civilization, yaitu peradaban yang seluruh sistem sosialnya dibangun mengikuti ekologi sungai. Pasar terapung merupakan contoh paling nyata. Banyak orang melihatnya hanya sebagai objek wisata, padahal secara historis pasar terapung adalah institusi ekonomi yang sangat efisien. Pedagang tidak membutuhkan bangunan permanen, distribusi berlangsung langsung dari produsen ke konsumen, sementara biaya transaksi relatif rendah. Sungai menjadi pasar, jalan, gudang, sekaligus ruang sosial dalam satu waktu.
Modernisasi memang mengubah pola konsumsi masyarakat. Namun perubahan tersebut tidak berarti menghapus seluruh sistem lama. Sebaliknya, ekonomi modern justru dapat mengintegrasikan teknologi digital dengan budaya sungai. Bayangkan apabila setiap dermaga sungai dilengkapi pusat logistik mikro, pembayaran digital, sistem pelacakan barang, hingga platform pemasaran daring bagi pelaku UMKM Banjar. Jukung tradisional tidak lagi hanya membawa hasil kebun, tetapi juga menjadi bagian dari rantai distribusi ekonomi digital.
Revitalisasi Ekonomi Budaya
Budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan modal ekonomi (cultural capital) yang mampu menghasilkan nilai tambah apabila dikelola secara inovatif. Lebih jauh lagi, penguatan perdagangan sungai dapat menjadi strategi diversifikasi ekonomi Kalimantan Selatan. Selama ini perekonomian daerah masih sangat dipengaruhi komoditas batu bara. Ketergantungan tersebut menyimpan risiko besar karena harga komoditas dunia selalu mengalami siklus naik turun. Menghidupkan kembali ekonomi sungai membuka peluang tumbuhnya sektor lain, mulai dari logistik, perdagangan lokal, perikanan air tawar, industri kreatif, pariwisata budaya, transportasi hijau, hingga ekonomi digital berbasis komunitas sungai.
Jalur perdagangan sungai Banjar sebenarnya merupakan institusi ekonomi yang telah terbentuk selama ratusan tahun. Yang diperlukan bukan menciptakan sistem baru, melainkan memodernisasi institusi lama agar sesuai dengan kebutuhan abad ke-21.Globalisasi juga menghadirkan peluang baru. Tren perdagangan internasional mulai menuntut rantai pasok yang rendah emisi (low carbon supply chain). Perusahaan-perusahaan multinasional semakin memperhatikan jejak karbon dalam distribusi barang. Transportasi sungai memiliki emisi karbon lebih rendah dibandingkan angkutan jalan dalam kapasitas angkut yang sama. Hal ini menjadikan jalur sungai sebagai bagian dari strategi ekonomi hijau yang semakin penting dalam perdagangan global.
Namun revitalisasi sungai tak cukup hanya membangun dermaga baru. Tantangan terbesar justru terletak pada kualitas lingkungan. Pendangkalan sungai, pencemaran limbah, sedimentasi, serta perubahan tata ruang mengancam fungsi ekonomi sungai. Karena itu revitalisasi perdagangan sungai harus berjalan beriringan dengan rehabilitasi daerah aliran sungai, pengendalian pencemaran, serta perlindungan ekosistem air.
Pemerintah daerah dapat menjadikan sungai sebagai koridor pembangunan terpadu. Setiap kawasan tepian sungai dapat dikembangkan menjadi simpul ekonomi yang menghubungkan pasar tradisional, sentra UMKM, kawasan wisata budaya, pelabuhan rakyat, hingga pusat distribusi hasil pertanian. Model seperti ini jauh lebih inklusif karena melibatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton pembangunan.
Peran perguruan tinggi juga menjadi penting. Universitas di Kalimantan Selatan dapat mengembangkan riset mengenai teknologi kapal ramah lingkungan, digitalisasi logistik sungai, konservasi ekologi, hingga pemetaan ekonomi budaya Banjar. Dunia usaha kemudian masuk sebagai investor, sementara pemerintah berfungsi sebagai regulator dan penyedia infrastruktur. Kolaborasi semacam inilah yang menjadi ciri pembangunan modern di berbagai negara.
Lebih penting lagi, kebangkitan jalur perdagangan sungai akan memperkuat identitas Banjar di tengah arus globalisasi. Banyak kota di dunia berhasil membangun daya saing justru dengan memanfaatkan identitas lokalnya. Amsterdam tumbuh melalui kanal, Bangkok memanfaatkan sungai sebagai daya tarik wisata, sementara Hamburg berkembang karena pelabuhan sungainya. Banjarmasin memiliki modal sejarah yang tidak kalah kuat.
Keunggulan tersebut bahkan lebih autentik karena lahir dari tradisi masyarakat yang masih hidup hingga sekarang. Pada akhirnya, menghidupkan kembali jalur perdagangan sungai bukan sekadar proyek infrastruktur. Ia adalah upaya membangun kembali hubungan antara sejarah, budaya, dan ekonomi masa depan. Sungai pernah menjadikan Banjar sebagai salah satu simpul perdagangan penting di Nusantara. Kini, dengan dukungan teknologi digital, ekonomi hijau, dan tata kelola yang lebih baik, sungai dapat kembali menjadi mesin pertumbuhan baru.
Abad ke-21 tidak selalu menuntut pembangunan yang sepenuhnya baru. Sering kali, masa depan justru ditemukan ketika sebuah bangsa mampu membaca kembali kekuatan sejarahnya. Bagi masyarakat Banjar, kekuatan itu mengalir bersama Sungai Barito dan Martapura—dua nadi peradaban yang telah membentuk identitas ekonomi selama berabad-abad. Tantangan generasi sekarang bukan lagi menemukan jalan baru, melainkan menghidupkan kembali jalan lama yang pernah membawa Banjar menjadi simpul perdagangan penting di kawasan Asia Tenggara. Dengan demikian, revitalisasi jalur perdagangan sungai bukan nostalgia, melainkan investasi strategis menuju ekonomi Banjar yang lebih tangguh, inklusif, dan berdaya saing global. (*)
Editor : Arief