Oleh: Azmi Daffa Al Firdaus
Siswa MAN 1 Banjarmasin
Sejarah sebuah cerita masa lalu memiliki peran penting dalam sebuah pengambilan keputusan yang menentukan nasib khalayak ramai. Sejarah sering kali diibaratkan oleh sebagian orang sebagai sebuah cerita yang digadang-gadang tidak ada gunanya, terlebih lagi sejarah sering sekali dianggap sangat membosankan karna hanya mengungkit-ungkit cerita masa lalu. Tetapi sejarah punya peran dalam pengambilan suara yang menentukan cara kita hidup dalam aspek -aspek yang kita temukan mulai dari politik, ekonomi, hingga sosial masyarakat itu ditentukan oleh sejarah.
Permasalahan yang saya angkat adalah penulisan sejarah memiliki beberapa masalah terutama di Indonesia. Permasalahan utama yang berlangsung lama sekali dalam dekade Indonesia berdiri adalah masalah dari penulisan sejarah. Sejarah kita yang dituliskan di beberapa buku terkadang mengaburkan sebuah fakta atau sengaja menjauh relevansi pada suatu data sejarah yang sebenarnya terjadi. Hal ini tentu menimbulkan sebuah dampak di kalangan pengamat sejarah karena sering kali menuai kontroversi terhadap cerita yang meyimpang dari sejarah asli. Salah satu sejarah yang sampai hari ini masih simpang siur dan memunculkan banyak tanda tanya adalah sejarah peristiwa pembantaian jendral 30 september dan peristiwa pembantaian massal pasca G30/PKI. Maka tujuan dari terbitnya tulisan ini adalah memberitau mengenai sisi lain dari penulisan sejarah di Indonesia yang sering dianggap sempurna di mata banyak orang. Novel yang saya angkat adalah Spin off dari novel “PULANG” yang terbit di tahun 2012.
SISI LAIN DARI KELURGA TAPOL YANG JARANG DIKETAHUI
Dalam Novel Namaku Alam ini menyoroti sebuah kisah yang jarang diketahui banyak orang tentang sejarah Indonesia secara komperhensif. Ini tentang bagaimana para kelompok atau individu tertentu di masyarakat yang terkena bersih-bersih tubuh (sebutan bagi aktivitas pembersihan sisa komunisme yang dijalankan oleh pemerintah saat itu) di masyarakat pada saat itu. Kegiatan ini bukan hanya berdampak bagi para tahanan politik yang utama harus segera dibersihkan tetapi juga bagi keluarga dan kerabat mereka yang juga mendapatkan dampak dari peristiwa ini. Para keluarga yang terkena dampak peristiwa tersebut juga dilabeli sebagai “keluarga tapol” yang tentu mengubah kehidupan mereka sejarah dratis mulai dari di Masyarakat, sekolah, hingga di dalam keanggotaan keluarga mereka.
TRAUMA DAN LUKA SEJARAH
Isu lain yang tentu diangkat dalam karya ini adalah mengenai trauma, luka mendalam, dan pertanyaan terbesar yang masih sering terbang terbawa angin tanpa punya tempat untuk diam. Tokoh utama yang bernama Sagara Alam punya banyak sekali cerita ketika keluarga mereka ditahan di jalan budi kemulian karena para aparat meminta jawaban atas hilangnya sang bapak bernama Hananto Prawiro. Dalam beberapa waktu Ketika ada orang yang membahas mengenai peristiwa berdarah 30 september Alam langsung teringat banyak hal dalam dirinya seolah dia langsung masih mempunyai luka-luka masa lalunya yang sangat dalam. Terlebih dia punya kemampuan photographic memory yang bagi beberapa orang yang mengetahuinya sangat luar biasa tetapi bagi Alam ini adalah sebuah kutukan juga bagi dirinya sendiri.
BUKU-BUKU YANG DILARANG
Kasus berikutnya yang saya tuliskan saat ini akan menyoroti tentang bagaimana stigma “komunisme” digunakan oleh pemerintah dalam melarang setiap buku yang dibaca. Salah satu tokoh bernama Bang Joe yang sempat putus kuliah pada sat peristiwa G30/PKI dan mulai beralih menjadi pedagang buku bekas di sebuah lapak di pasar. Dimana kenyataan sejarah menjelaskan dalam beberapa tahun silam pasca komunisme dibersihkan terjadi pelarangan terhadap beberapa buku yang dianggap terlarang atau tidak boleh dibaca. Salah satunya adalah buku “Tetrologi Pulau Buru” karya Pramoedya Ananta Toer yang dilarang karena ujaran komunisme, buku Tan Malaka meliputi beberapa buku salah satunya “MADILOG” dan “Nar De Rebublik Indonesia”, buku karya Soe Hok Gie “Di bawah Lentera merah”, buku “Demokrasi Kita” karya Moh Hatta yang dilarang karna bertentangan dengan kondisi politik saat itu dan masih banyak lagi buku yang dilarang peredarannya. Pada masa itu setiap kali ada orang yang ingin membeli buku yang dimasukkan pemerintah ke daftar hitam harus dilakukan secara diam-diam seperti menenteng sebuah bom waktu, dan jika ketahuan oleh intel maka nasib akan berubah sangat cepat pada saat itu juga.
PEMERINTAH NAKAL DAN PRAKTIK-PRAKTIKNYA
Novel ini juga berisi beberapa kritik sejarah yang menunjukkan bahwa para pejabat dan pengusaha memiliki pengaruh yang sangat besar di dalam ruang lingkup pemerintahan. Pemerintah pada saat itu buka hanya memanipulasi sejarah dan mencuci tangan mereka agar bersih di depan masyarakat, tetapi juga melakukan beberapa tindakan kepada mereka yang berbahaya. Membuat kata “pewaris penghianat negara” kepada para keturunan Tapol, Pendidikan yang tidak membebaskan manusianya berpikir, hingga praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).
KRITIK KEPADA SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA
Bagian ini memuat salah satu permalasahan Pendidikan di Indonesia dalam memerdekakan pikiran dan membentuk identitas sebagai manusia yang bermartabat .Perbedaan antara sekolah tempat sang tokoh Sagara Alam yang bernama SMA Putra Nusa yang sangat niat dalam membentuk karakter manusia yang bukan cuma bermatabat tapi juga peduli terhadap kondisi di masyarakat sangat berbeda dengan sekolah lainnya. Sebuah sekolah yang punya mata pelajaran yang hampir mustahil ditemukan di sekolah lain seperti filsafat, antropologi, Civil (mirip PKN) atau bahkan sejarah yang punya program unggulan. Hal ini sangat berbeda karena menunjukkan perbedaan antara sekolah yang mengajarkan muridnya untuk berpikir ktitis dengan sekolah yang lebih mengutamakan hafalan dalam pengajaran.
Novel “Namaku alam” sangat menyentuh sisi kemanusian karena memperlihatkan sebuah gambaran sejarah yang sangat mendalam melalui sebuah trauma hingga luka sejarah bagi sang tokoh karakter. (*)
Editor : Arief