Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Asyiknya Berteman Tanpa Perundungan

admin • Kamis, 16 Juli 2026 | 22:15 WIB
Teguh Pamungkas
Teguh Pamungkas

Oleh: Teguh Pamungkas
Penyuluh Keluarga Berencana Perwakilan Kemendukbangga
BKKBN Kalimantan Selatan

Tahun ajaran baru 2026/2027 sudah dimulai. Anak-anak kembali bersekolah. Mereka ada yang naik kelas, ada pula mereka yang melanjutkan untuk ke jenjang pendidikan berikutnya. Setiap siswa beradaptasi di tempat pendidikan dengan mengikuti masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS). Adapun memiliki tujuan momen mengenalkan peserta didik dengan lingkungan sekolah dan membangun harmonisasi guru, siswa dan orangtua. 

Pada 1984, Presiden Soeharto menggagas Hari Anak Nasional. (HAN). Usulan tersebut hadir setelah terbit Undang-Undang No. 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, yang disahkan pada tanggal 23 Juli 1979. Kemudian, dilanjutkan melalui Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1984 bertanggal 19 Juli 1984. yang kemudian ditandai pada tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional.

Peringatan tersebut diadakan guna meningkatkan kepedulian serta perlindungan terhadap hak-hak dan kesejahteraan anak. Anak merupakan aset kemajuan bangsa, mereka pantas merasakan terpenuhinya kebutuhan material dan sosial, sehingga dapat mengembangkan diri dan hidup layak. Kesejahteraan seperti dari aspek kesehatan, pendidikan dan keamanan. Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 tahun 2026 bertema “Sayang anak, lindungi dan bangun masa depan”.

Ada beberapa sikap yang sekiranya perlu dibangun sebagai tindakan pencegahan ataupun sikap tatkala telah menjadi korban perundungan. Seperti melakukan; pertama, memperbanyak teman sebaya. Hiduplah secara bersosial, yang di dalamnya terjalin pertemanan dengan banyak teman. Berteman tanpa memandang sosial tidak berpilih-pilih teman, namun tetap berdasar pada pertemanan yang sehat.

Kedua, sikap yang baik kepada teman. Untuk memperbanyak teman, tentunya anak memperhatikan tutur kata dan perilaku yang baik. Dalam melakukan interaksi sosial, senantiasa anak-anak menghindari kata-kata kasar yang bisa memicu emosi teman. Bercanda untuk keakraban yang tidak menyakiti teman sesama. Apabila ketidaksengajaan telah dilakukan, maka segera memohon maaf dari kesalahan itu.

Di saat teman sebayanya ada yang melakukan perundungan, maka diingatkan untuk tidak melakukan perundungan. Dan tentunya tidak melakukan bullying balik, karena malah akan menambah rentetan bullying berikutnya.

Ketiga, jangan pernah sendirian. Pertemanan yang telah dibangun dengan baik akan menumbuhkan rasa menolong, membantu dan kepedulian. Mereka akan terbiasa untuk tergerak memperhatikan apa yang meski diperbuat kepada temannya.

Kolaborasi peran
Kita selaku orangtua, pihak sekolah dan masyarakat, guna mencegah dan atau menyikapi anak korban perundungan di antaranya perlu menghadirkan; pertama, sikap membuat anak mau terbuka. Memang anak beranjak remaja di sekolah lanjutan lain halnya mereka yang di sekolah dasar. Mereka yang menjajaki remaja akan senang bercerita kehidupannya dengan teman sebayanya. Dengan beranggapan lebih asyik dan lebih nyambung.

Meskipun demikian, dari bercerita dengan kawan biasanya ada yang menyampaian persoalan siswa kepada guru atau pihak sekolah. Namun persoalan lain tatkala anak menutup diri, tidak bercerita kepada siapa pun. Atau mungkin telah menceritakan tentang perundungan yang menimpa siswa kepada teman atau ke guru, tapi belum sempat terselesaikan.

Begitu dengan kehadiran keluarga. Andil orangtua atau keluarga dalam kehidupan anak dan remaja sekolah begitu besar. Dari keluarga lah support untuk menumbuhkan karakter anak terbangun. Amati, dekati, mengobrol dan mengajak diskusi atau sekadar bercerita, terutama kehidupannya saat di sekolah dan lingkungan bermain dengan teman-temannya. Berangkat dari situlah perlahan menanamkan kepercayaan kepada anak.

Kedua, kolaborasi orangtua dan pihak sekolah. Komunikasi antara orangtua dan pihak sekolah hadir sebagai penghubung anak didik. Karena dengan adanya komunikasi kedua belah pihak, informasi siswa dapat terpantau kebiasannya. Keberadaan anak di sekolah bisa menjadi perhatian pula untuk evaluasi ketika di rumah. Bentuk komunikasinya bisa bertemu langsung dan atau menggunakan group sosial media kelas/sekolah.

Begitu sebaliknya, perihal informasi yang perlu diketahui pihak sekolah, sebaiknya keluarga pun menyampaikan ke pengajar. Sehingga apa yang perlu disikapi dan dimonitoring pun tersampaikan kepada anak saat di sekolah. Peran kolaborasi orangtua dan sekolah memiliki dampak besar dalam menempuh pendidikan. Karena dari sanalah perkembangan anak akan bisa lebih terperhatikan. Di mana anak-anak mengalami perkembangan dan pertumbuhan ditandai dengan variabel, yakni secara fisik dan psikis.

Selain itu, perlunya upaya pencegahan dan penanganan kekerasan di satuan pendidikan, yaitu dengan menerapkan Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Satuan Pendidikan. 

Ketiga, keterlibatan masyarakat. Seperti halnya kaum dewasa, anak dan remaja juga merupakan makhluk sosial. Membutuhkan interaksi dengan sesama dalam kehidupan sosialnya. Karena itu, masyarakat berperan sebagai pengawas dalam mengantisipasi adanya potensi dan kasus perundungan bagi pergaulan anak di masyarakat. Memediasi dan atau melapor kepada pihak terkait apabila menjumpai kasus perundungan di tengah masyarakat, bertujuan agar kehidupan sosial anak di masyarakat segera kembali kondusif.

Perundungan harus segera diakhiri, apapun bentuknya. Perundungan, baik secara langsung maupun melalui media sosial memiliki dampak negatif bagi kehidupan anak. Bukan hanya berdampak sampai saat itu saja, namun dapat terpendam dalam jangka waktu lama, bahkan bisa sepanjang hidup. Karena pertemanan sehat di sekolah adalah dambaan anak-anak untuk mengenal sosial dan sesamanya di lingkungan pendidikan.

Selamat bersekolah dan mengikuti MPLS. (*)

Editor : Arief
perundungan Opini