Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Rupiah Melemah, Kenapa Kita Rugi?

admin • Rabu, 15 Juli 2026 | 12:58 WIB
Rizky Aulia, S.Pd, Gr
Rizky Aulia, S.Pd, Gr

 

Oleh: Rizky Aulia, S.Pd, Gr
Pengurus Asosiasi Guru Ekonomi Indonesia (AGEI)
Guru Ekonomi SMA Negeri 4 Banjarmasin

 Pernahkah Anda bertanya mengapa harga minyak goreng, susu, obat-obatan, bahkan tiket pesawat tiba-tiba menjadi lebih mahal? Banyak orang langsung menyalahkan pedagang atau menganggap itu sekadar dampak inflasi. Padahal, ada satu faktor yang sering luput dari perhatian, yaitu nilai tukar rupiah.

Berita tentang rupiah yang menguat atau melemah hampir setiap hari menghiasi media. Sayangnya, tidak sedikit masyarakat yang menganggap informasi itu hanya penting bagi bank, pelaku ekspor-impor, atau para ekonom. Padahal, cepat atau lambat, perubahan nilai tukar akan sampai juga ke meja makan setiap keluarga Indonesia.

Nilai tukar rupiah ibarat "cermin kesehatan" ekonomi suatu negara. Ketika rupiah kuat, Indonesia memiliki daya beli yang lebih baik terhadap barang dari luar negeri. Sebaliknya, saat rupiah melemah, biaya membeli barang impor ikut meningkat. Masalahnya, Indonesia masih bergantung pada berbagai bahan baku, mesin industri, obat-obatan, gandum, hingga komponen elektronik yang berasal dari luar negeri. Akibatnya, ketika rupiah melemah, biaya produksi naik dan harga barang di pasar pun ikut terkerek.

Inilah alasan mengapa nilai tukar bukan sekadar angka yang bergerak di layar bursa. Angka itu pada akhirnya menentukan berapa banyak kebutuhan yang dapat dibawa pulang dengan uang yang sama.

Ekonom peraih Nobel, Paul Krugman, menjelaskan bahwa nilai tukar memengaruhi daya saing suatu negara, investasi, perdagangan, hingga tingkat kesejahteraan masyarakat. Dengan kata lain, perubahan kurs bukan hanya urusan pasar keuangan, tetapi juga memengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari.

Kesadaran akan pentingnya nilai tukar juga tercermin dalam kebijakan Bank Indonesia. Undang-Undang menugaskan Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai rupiah karena kestabilan tersebut menjadi fondasi untuk mengendalikan inflasi, menjaga kepercayaan investor, dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Lalu, apa yang sebenarnya membuat rupiah naik atau turun?

Jawabannya sederhana: kepercayaan. Ketika investor percaya bahwa ekonomi Indonesia dikelola dengan baik, mereka akan menanamkan modalnya di Indonesia. Mereka membeli rupiah untuk berinvestasi sehingga permintaan terhadap rupiah meningkat dan nilainya menguat. Sebaliknya, jika muncul ketidakpastian ekonomi atau gejolak global, investor cenderung memindahkan dananya ke aset yang dianggap lebih aman. Akibatnya, permintaan terhadap rupiah menurun dan nilainya melemah.

Dana Moneter Internasional (IMF) juga menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar memiliki peran penting dalam menjaga inflasi, perdagangan, investasi, dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Fluktuasi kurs yang terlalu tajam menciptakan ketidakpastian yang membuat dunia usaha enggan melakukan ekspansi.

Memang ada anggapan bahwa rupiah yang melemah menguntungkan eksportir karena harga produk Indonesia menjadi lebih murah di pasar internasional. Pendapat ini tidak sepenuhnya salah. Namun, manfaat tersebut sering kali tidak sebesar biaya yang harus ditanggung masyarakat. Sebab, sebagian besar industri nasional masih menggunakan bahan baku impor. Ketika harga bahan baku naik akibat pelemahan rupiah, biaya produksi ikut meningkat dan pada akhirnya dibebankan kepada konsumen melalui kenaikan harga.

Karena itu, menjaga nilai tukar rupiah tidak cukup hanya mengandalkan Bank Indonesia melalui kebijakan moneter. Pemerintah perlu memperkuat fondasi ekonomi dengan meningkatkan produktivitas industri, memperbesar ekspor bernilai tambah, mengurangi ketergantungan terhadap impor, memperbaiki iklim investasi, serta menjaga disiplin fiskal. Semakin kuat fundamental ekonomi, semakin besar pula kepercayaan dunia terhadap rupiah.

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran. Menggunakan produk dalam negeri, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta membangun budaya produktif bukan sekadar slogan nasionalisme. Langkah-langkah tersebut secara perlahan akan memperkuat daya saing ekonomi Indonesia dan mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri.

Pada akhirnya, rupiah bukan hanya alat pembayaran yang berpindah dari tangan ke tangan setiap hari. Rupiah adalah simbol kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia. Ketika rupiah stabil, harga-harga lebih mudah dikendalikan, dunia usaha lebih percaya diri untuk berinvestasi, lapangan pekerjaan bertambah, dan kesejahteraan masyarakat pun lebih terjaga.

Maka, lain kali ketika mendengar kabar bahwa rupiah melemah atau menguat terhadap dolar Amerika, jangan anggap itu sekadar berita ekonomi yang jauh dari kehidupan kita. Sebab, di balik perubahan angka tersebut, tersimpan satu pertanyaan sederhana yang sangat dekat dengan keseharian: apakah besok uang di dompet kita masih mampu membeli kebutuhan yang sama seperti hari ini?

Editor : Arief
Opini Ekonomi Bisnis