Oleh: Ahmad Syawqi
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin
Pekan ketiga Juni 2026 menyodorkan tiga peristiwa besar dalam satu waktu. Piala Dunia FIFA 2026 turnamen terbesar sepanjang sejarah dengan 48 tim dan 104 pertandingan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, sedang memanaskan seluruh penjuru bumi. Bersamaan itu, turbulensi ekonomi global akibat kebijakan tarif agresif Amerika Serikat tengah mengguncang rantai pasok internasional dan memukul nilai tukar negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Dan pada 16 Juni 2026, tibalah 1 Muharram 1448 Hijriyah sebagai tahun baru Islam yang membawa seruan untuk berhenti, merenung, dan memperbarui arah. Tiga peristiwa yang tampak tidak berhubungan ini sesungguhnya menyampaikan satu pesan yang sangat koheren.
Ada ironi nyata dalam pertemuan ketiganya. Ratusan juta manusia begadang menyaksikan duel-duel terbaik sepak bola dunia, terbawa euforia sejenak. Namun di balik layar yang sama, ekonomi global berjalan di atas tali yang rapuh. Tarif Amerika Serikat yang mencapai 32 persen terhadap produk Indonesia menciptakan tekanan nyata: rupiah tertekan, ekspor terancam melambat, dan sektor padat karya dibayangi risiko pemutusan hubungan kerja. Sementara sorak sorai Piala Dunia memenuhi udara, jutaan pekerja justru menghadapi ketidakpastian tentang masa depan. Ironi inilah yang membuat peringatan 1 Muharram tahun ini terasa jauh lebih berat dari sekadar seremoni.
Di tengah kontradiksi itulah, Muharram hadir dengan pesan yang paling tepat waktu. Muharram bukan sekadar pergantian angka di kalender, ia adalah undangan untuk muhasabah, introspeksi mendalam bagi setiap Muslim dan setiap bangsa: ke mana kita sedang melangkah, dan perubahan apa yang harus segera dilakukan? Semangat hijrah perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah yang bukan sekadar perjalanan fisik melainkan lompatan peradaban adalah jawaban paling relevan untuk zaman yang penuh guncangan ini. Hijrah mengajarkan bahwa ketika kondisi tidak bisa dipertahankan, pilihan terbaik bukan menyerah melainkan bergerak menuju babak baru dengan strategi yang lebih matang.
Dari lapangan hijau Piala Dunia pun ada pelajaran yang lebih dalam dari hiburan semata. Tim-tim yang bersinar bukan selalu dari negara terkaya melainkan bangsa yang mampu mengorganisasi sumber daya secara cerdas, membangun sistem yang bekerja, dan menanamkan mentalitas pantang menyerah pada setiap individunya. Sepak bola adalah meritokrasi yang demokratis: tidak ada warisan keluarga, tidak ada koneksi korporasi, tidak ada tarif yang melindungi dari kompetitor lebih tangguh. Yang ada hanyalah kerja keras, strategi, dan ketangguhan. Ini persis semangat yang dibutuhkan Indonesia dan dunia Islam untuk melewati turbulensi ekonomi yang tidak akan selesai dalam waktu dekat.
Realita ekonomi global menuntut kita membacanya dengan jernih. Amerika Serikat tuan rumah Piala Dunia yang membuka stadionnya untuk 6,5 juta pengunjung pada saat bersamaan menutup pasarnya dengan tembok tarif yang kian tinggi. Paradoks ini mengingatkan Indonesia bahwa kita tidak bisa hanya menjadi penonton yang terpesona. Kita perlu memperkuat fondasi ekonomi domestik, mendiversifikasi mitra dagang, dan meningkatkan nilai tambah produk ekspor agar tidak terus bergantung pada komoditas mentah yang paling rentan terhadap gejolak kebijakan negara lain. Momentum Muharram adalah waktu terbaik untuk meneguhkan kembali tekad itu.
Di antara gol dan dolar, ada dimensi ketiga yang sering kita lupakan: doa. Bukan doa yang sempit dan magis memohon rezeki tanpa usaha. Melainkan tawakkal yang produktif: menyempurnakan ikhtiar sepenuh kemampuan lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah dengan penuh ketenangan. Peradaban Islam di masa keemasannya tidak dibangun hanya dengan doa tanpa kerja, juga tidak dengan kerja tanpa nilai. Baghdad, Cordoba, dan Samarkand menjadi pusat ilmu dunia karena kombinasi sempurna antara keunggulan intelektual, etos kerja tinggi, dan landasan spiritual yang kokoh. Kombinasi itulah yang paling kita butuhkan kembali hari ini.
Bagi Indonesia, 1 Muharram 1448 H mengandung pesan spesifik. Kita adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, namun potensi ekonomi umat masih jauh dari optimal. Potensi zakat nasional ratusan triliun rupiah per tahun belum terealisasi secara optimal. Di tengah Piala Dunia yang ditonton ratusan juta orang Indonesia, jersey yang paling banyak dibeli justru produk impor, sementara industri tekstil lokal sedang tertekan tarif dan persaingan. Muharram 1448 H adalah momentum hijrah dari mentalitas konsumen menuju mentalitas produsen yang berdaulat.
Hijrah nyata yang dibutuhkan Indonesia bukan soal ritual semata. Pertama, hijrah kebijakan: memperkuat daya saing struktural, bukan hanya reaktif merespons tarif negara lain. Kedua, hijrah mentalitas: beralih dari budaya konsumtif yang mengagungkan produk asing menuju kebanggaan pada karya bangsa sendiri, sebagaimana hijrah mengajarkan bahwa kekuatan sejati dibangun dari dalam. Ketiga, hijrah literasi: kemampuan membaca peluang, menganalisis risiko, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi terverifikasi adalah modal strategis paling berharga yang harus kita bangun bersama di tengah banjir informasi yang penuh manipulasi ini.
Gol mengajarkan bahwa prestasi terbaik lahir dari disiplin dan kerja keras tanpa kompromi. Dolar mengingatkan bahwa ekonomi adalah medan nyata tempat bangsa-bangsa bersaing, arena yang tidak mengenal belas kasihan kepada yang lengah. Dan doa sebagai nilai-nilai spiritual Muharram, mengajarkan bahwa semua ikhtiar duniawi hanya bermakna jika dilandasi integritas, keadilan, dan orientasi yang melampaui kepentingan diri sendiri. Ketiganya bukan pilihan yang harus dipilih salah satunya, ia adalah satu kesatuan yang harus dijalani bersamaan oleh setiap Muslim yang ingin menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar penonton dari permasalahan zaman.
Selamat memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriyah. Di tengah gemuruh stadion Piala Dunia dan deru ketidakpastian ekonomi global, semoga kita semua sebagai individu, umat, dan bangsa mampu menemukan ketenangan yang bukan berarti pasif, keberanian yang bukan berarti gegabah, dan kebijaksanaan yang cukup tidak hanya untuk bertahan tetapi untuk melangkah maju. Karena pesan terdalam dari hijrah adalah ini: perjalanan terbaik bukan selalu yang paling mudah, melainkan yang paling bermakna. (*)
Editor : Arief