Oleh: Hery Purnobasuki
Guru Besar FST Universitas Airlangga,
Ketua LPMB Universitas Airlangga
Ribuan sarjana baru berbaris di depan gerbang kampus, toga beterbangan, mimpi setinggi langit. Tapi begitu keluar, realitas menghantam seperti ombak dingin. Lowongan kerja minim, CV numpuk tak bergerak, dan akhirnya banyak yang jadi "pengangguran terselubung" – ngopi di warung sambil scroll lowongan di HP.
Di Indonesia, masalah ini bukan cerita baru. Data BPS tahun 2025 bilang, pengangguran terbuka di kalangan sarjana capai 7,5 persen, lebih tinggi dari lulusan SMA. Lulusan melimpah, dunia kerja tak sanggup menyerap, jiwa kewirausahaan tumpul, kompetensi gak nyambung, dan pendidikan kayak terputus dari realitas sehari-hari. Ini resep bencana pelan-pelan. Mari kita obrolin santai, tapi serius, kenapa begini dan gimana caranya biar gak tambah parah.
Lulusan Melimpah, Kursi Kerja Habis Duluan
Coba hitung: setiap tahun, ada sekitar 1,2 juta lulusan perguruan tinggi dari 4.500-an kampus di negeri ini. Angka fantastis, kan? Tapi dunia kerja? Industri manufaktur lesu gara-gara otomatisasi, sektor jasa bergantung digital skill yang spesifik, dan UMKM masih kesulitan ekspansi. Hasilnya? Oversupply tenaga kerja sarjana. Menurut Kemenaker, pada 2025, hanya 60 persen lulusan baru yang langsung terserap dalam enam bulan pertama. Sisanya? Ngantri, atau ambil pekerjaan di bawah kualifikasi – jadi sales, driver ojek online, atau bahkan tukang kopi.
Ini bukan salah lulusan yang males. Struktur ekonominya yang bermasalah. Pertumbuhan ekonomi kita rata-rata 5 persen per tahun, tapi penciptaan lapangan kerja baru cuma 2 juta per tahun, padahal populasi usia kerja nambah 3 juta. Pandemi COVID-19 memperparah: banyak perusahaan tutup, dan sekarang AI mulai gantikan pekerjaan rutin. Kalau dibiarkan, ini bom waktu sosial – frustrasi muda-mudi yang berujung pada ketidakstabilan.
Jiwa Kewirausahaan Tumpul, Mental Pegawai Abadi
Nah, solusi gampang katanya: "Jadi wirausaha dong!" Tapi kok susah ya? Jiwa entrepreneurship kita tumpul banget. Survei Global Entrepreneurship Monitor 2024 bilang, Indonesia cuma rank 60-an dari 100 negara soal kewirausahaan fear of failure – orang takut gagal tinggi sekali. Di kampus, mata kuliah wirausaha sering cuma teori: bikin business plan, presentasi, selesai. Gak ada inkubasi nyata, gak ada modal usaha murah, apalagi mentoring dari pebisnis sukses.
Bandingkan sama Singapura atau Vietnam: mereka punya program startup grant untuk fresh grad, hasilnya unicorn lahir deras. Kita? Banyak lulusan lebih suka aman jadi PNS atau karyawan BUMN. Budaya "iyain atasan" dan mental "gaji tetap" bikin inovasi mandek. Padahal, data BPS tunjukkan UMKM nyumbang 60 persen PDB, tapi fresh grad jarang tertarik – takut rugi, tak punya network. Akar masalahnya di pendidikan: kita ajarin hafal, bukan berani ambil risiko.
Kompetensi Lulusan: Teori Melimpah, Praktik Nol
Ini poin paling nyeri: lulusan pintar di kertas, tapi dunia kerja bilang "gak bisa apa-apa". Kompetensi gak nyambung. Studi World Bank 2025 ungkap, 70 persen perusahaan Indonesia complain skill mismatch. Lulusan teknik gak paham software industri terkini seperti AutoCAD terbaru atau PLC programming. Sarjana ekonomi hafal teori Keynes, tapi gak bisa analisis data pakai Python atau Excel advance. Hukum? Bisa hafal KUHP, tapi gak ngerti kontrak digital atau compliance GDPR.
Kenapa? Kurikulum kampus ketinggalan zaman. Banyak dosen masih pakai buku 20 tahun lalu, praktikum minim, magang cuma formalitas. Di era Industri 4.0, dunia butuh soft skill seperti critical thinking, adaptability, dan digital literacy. Tapi kita masih fokus IPK tinggi, bukan portofolio nyata. Contoh: lulusan ITB atau UI yang hebat di kompetisi, tapi masuk perusahaan langsung training ulang tiga bulan. Buang-buang duit dan waktu.
Pendidikan Terputus dari Realitas
Inti masalahnya di sini: pendidikan kita kayak pulau terpencil, gak terhubung realitas. Kurikulum dirancang di menara gading, oleh akademisi yang jarang turun lapangan. Kebijakan Merdeka Belajar dari Kemendikbud bagus, tapi implementasi? Masih kacau. Kampus swasta bersaing rebut mahasiswa dengan jurusan "trendy" seperti digital marketing, tapi kontennya copy-paste dari YouTube.
Realitas ekonomi Indonesia: 70 persen lapangan kerja di sektor informal, butuh skill vokasi seperti agribisnis atau pariwisata berkelanjutan. Tapi pendidikan tinggi fokus elit: manajemen, hukum, kedokteran. Gak ada kolaborasi serius dengan industri. Bandingkan Jerman dengan dual system-nya: mahasiswa kuliah sambil kerja di pabrik, hasilnya pengangguran nol koma. Kita? Magang unpaid, perusahaan ogah ambil risiko.
Akibatnya, lulusan shock culture: dari AC kampus ke panasnya dunia kerja. Mental entitlement tinggi – "Saya sarjana, harusnya gaji 10 juta!" Padahal, kompetisi global butuh lifelong learning. Data OECD bilang, pekerja Indonesia rata-rata upskill cuma 20 jam per tahun, kalah jauh dari Korea Selatan 100 jam.
Bangun Jembatan, Hidupkan Jiwa Juang
Gak usah pesimis, ini bisa diatasi. Pertama, reformasi kurikulum: 50 persen mata kuliah praktik, kolaborasi dengan industri via apprenticeship. Kampus harus punya career center aktif, bukan cuma job fair setahun sekali. Contoh sukses: Politeknik Negeri Bandung, lulusannya 90 persen langsung kerja karena link langsung ke perusahaan.
Kedua, hidupkan kewirausahaan. Buat dana seed untuk startup mahasiswa, seperti program BEKRAF (Badan Ekonomi Kreatif). Ajarkan kegagalan sebagai guru, bukan aib. Pemerintah bisa kasih insentif pajak untuk wirausaha muda.
Ketiga, hubungkan pendidikan dengan realitas via tracer study rutin. Setiap kampus wajib track lulusan lima tahun, sesuaikan kurikulum berdasarkan data. Dorong soft skill: public speaking, teamwork, via ekstrakurikuler wajib.
Keempat, libatkan swasta. CSR perusahaan alokasikan untuk pelatihan vokasi. Pemerintah percepat penciptaan lapangan kerja via infrastruktur dan green jobs – sesuai SDGs.
Lulusan juga harus proaktif: freelance di Upwork, bangun portofolio GitHub, ikut bootcamp online. Dunia kerja gak nunggu, kita yang harus kejar.
Jangan Cuma ngopi dan mengkhayal, Waktunya Bergerak. (*)
Editor : Arief