Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Berburu Sekolah Favorit Saat SPMB

admin • Jumat, 26 Juni 2026 | 21:35 WIB
Muhamad Yusuf, S.Pd
Muhamad Yusuf, S.Pd

Oleh: Muhamad Yusuf, S.Pd
Pengajar Bahasa Indonesia di SMA Negeri  1 Banjarmasin

Setiap tahun ajaran baru, pemandangan yang hampir selalu terulang adalah ramainya orang tua dan siswa berburu sekolah favorit. Meskipun sistem penerimaan peserta didik baru atau yang kini dikenal dengan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) telah mengalami berbagai perubahan, antusiasme masyarakat untuk memasukkan anak ke sekolah tertentu tidak pernah surut. Bahkan, dalam beberapa kasus, orang tua rela mengantre sejak dini hari, mencari berbagai informasi, hingga merasa kecewa berat ketika anaknya tidak diterima di sekolah yang diidamkan.

Fenomena berburu sekolah favorit ini sebenarnya menunjukkan satu hal yang positif, yakni tingginya perhatian masyarakat terhadap pendidikan. Orang tua tentu menginginkan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Mereka berharap sekolah yang memiliki reputasi baik dapat membantu anak meraih prestasi akademik yang lebih tinggi, memperoleh lingkungan pergaulan yang positif, serta memiliki peluang lebih besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Namun, di balik semangat tersebut, terdapat sejumlah persoalan yang patut menjadi bahan renungan bersama. Salah satunya adalah pandangan bahwa hanya sekolah tertentu yang mampu menghasilkan lulusan berkualitas. Anggapan ini secara tidak langsung menciptakan pengelompokan sekolah menjadi sekolah favorit dan sekolah nonfavorit. Akibatnya, sekolah yang dianggap favorit selalu menjadi tujuan utama, sedangkan sekolah lain sering kali dipandang sebelah mata.

Padahal, keberhasilan seorang siswa tidak semata-mata ditentukan oleh nama besar sekolahnya. Banyak faktor lain yang berperan, seperti kemauan belajar, dukungan keluarga, kedisiplinan, karakter, serta kualitas interaksi antara guru dan peserta didik. Tidak sedikit tokoh sukses yang berasal dari sekolah biasa, bahkan dari daerah terpencil dengan fasilitas yang terbatas. Sebaliknya, ada pula lulusan sekolah unggulan yang tidak mampu mengembangkan potensi dirinya secara optimal.

Pandangan bahwa sekolah favorit adalah satu-satunya jalan menuju kesuksesan juga dapat menimbulkan tekanan psikologis bagi anak. Pada masa pendaftaran, banyak siswa mengalami kecemasan karena merasa harus diterima di sekolah tertentu demi memenuhi harapan orang tua. Ketika hasil seleksi tidak sesuai harapan, sebagian anak merasa gagal, minder, bahkan kehilangan kepercayaan diri.

Di era digital seperti sekarang, fenomena berburu sekolah favorit juga semakin dipengaruhi oleh arus informasi yang berkembang di media sosial. Berbagai unggahan mengenai prestasi sekolah, tingkat kelulusan, fasilitas modern, hingga testimoni alumni sering kali membentuk persepsi masyarakat tentang kualitas suatu sekolah. Tidak jarang informasi tersebut kemudian menyebar luas dan menciptakan citra bahwa sekolah tertentu jauh lebih unggul dibandingkan sekolah lainnya. Padahal, informasi yang beredar di media sosial belum tentu menggambarkan kondisi sekolah secara menyeluruh. Ada banyak aspek pendidikan yang tidak dapat diukur hanya dari jumlah prestasi atau popularitas di dunia maya. Lingkungan belajar yang nyaman, hubungan yang harmonis antara guru dan siswa, serta kesempatan bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi diri juga merupakan faktor penting yang sering luput dari perhatian. Oleh karena itu, orang tua perlu bersikap lebih kritis dalam menerima berbagai informasi tentang sekolah. Keputusan memilih sekolah sebaiknya didasarkan pada kebutuhan dan karakteristik anak, bukan semata-mata karena mengikuti tren atau pendapat yang berkembang di masyarakat.

Tekanan tersebut sering kali tidak disadari oleh orang tua. Dengan niat baik, mereka berusaha memberikan yang terbaik bagi anak. Namun, dalam beberapa kasus, keinginan orang tua justru lebih dominan dibandingkan minat dan kenyamanan anak itu sendiri. Ada siswa yang sebenarnya ingin bersekolah di tempat yang dekat dengan rumah atau memiliki program yang sesuai dengan bakatnya, tetapi akhirnya mengikuti pilihan orang tua karena tidak ingin mengecewakan mereka.

Selain itu, fenomena berburu sekolah favorit juga mencerminkan masih adanya kesenjangan kualitas pendidikan antar sekolah. Jika seluruh sekolah memiliki fasilitas, tenaga pendidik, dan kualitas layanan yang relatif merata, maka masyarakat tidak akan terlalu terfokus pada beberapa sekolah tertentu. Oleh karena itu, pemerintah perlu terus berupaya meningkatkan mutu pendidikan secara menyeluruh agar setiap sekolah mampu menjadi tempat belajar yang berkualitas.

Pemerataan kualitas pendidikan bukan hanya soal pembangunan gedung atau penyediaan sarana belajar. Yang lebih penting adalah peningkatan kompetensi guru, penguatan budaya belajar, pengembangan karakter siswa, serta kepemimpinan sekolah yang efektif. Ketika kualitas sekolah semakin merata, masyarakat akan memiliki lebih banyak pilihan dan tidak lagi terjebak dalam persaingan yang terlalu ketat untuk masuk ke sekolah tertentu.

Di sisi lain, orang tua juga perlu memperluas cara pandang dalam memilih sekolah. Pertimbangan memilih sekolah sebaiknya tidak hanya didasarkan pada reputasi atau tingkat popularitas. Faktor jarak dari rumah, keamanan lingkungan sekolah, kenyamanan anak, kegiatan ekstrakurikuler, budaya sekolah, serta kesesuaian dengan minat dan bakat siswa juga perlu diperhatikan. Sekolah yang baik bukan hanya sekolah yang terkenal, melainkan sekolah yang mampu membantu anak berkembang secara optimal sesuai potensinya.

Peran guru dan sekolah juga sangat penting dalam mengubah stigma mengenai sekolah favorit. Setiap sekolah perlu menunjukkan berbagai prestasi dan keunggulan yang dimiliki. Prestasi tidak selalu berbentuk nilai akademik. Keberhasilan dalam bidang seni, olahraga, kepemimpinan, kewirausahaan, maupun kegiatan sosial juga merupakan indikator penting dalam membentuk generasi yang berkualitas.

Pada akhirnya, tujuan pendidikan bukanlah sekadar memasukkan anak ke sekolah yang dianggap bergengsi. Tujuan utama pendidikan adalah membantu anak tumbuh menjadi manusia yang berpengetahuan, berkarakter, mandiri, dan mampu menghadapi tantangan kehidupan. Sekolah hanyalah salah satu sarana untuk mencapai tujuan tersebut.

Fenomena berburu sekolah favorit saat SPMB hendaknya menjadi momentum untuk melakukan refleksi bersama. Orang tua, sekolah, dan pemerintah perlu menyadari bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Kesuksesan masa depan tidak ditentukan oleh label sekolah semata, melainkan oleh proses belajar yang dijalani dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, alih-alih terjebak pada gengsi dan popularitas sekolah, akan lebih bijaksana jika semua pihak fokus pada bagaimana menciptakan lingkungan pendidikan yang mampu mendukung perkembangan setiap anak secara optimal. Dengan demikian, pendidikan dapat benar-benar menjadi sarana untuk membangun generasi yang unggul, tanpa harus dibatasi oleh sekat-sekat sekolah favorit dan nonfavorit. (*)

Editor : Arief
#Sekolah #Opini