Wakil Direktur Radar Banjarmasin
Oleh: Toto Fachrudin
Wakil Direktur Radar Banjarmasin
Pernahkah terpikir oleh kita dalam kurun waktu 10 tahun ke depan Indonesia akan bubar? Pemikiran yang terkesan menakutkan ini ternyata telah diprediksi oleh Presiden Prabowo jauh sebelum beliau terpilih memimpin negeri Ini.
Semoga apa yang pernah beliau ucapkan bukan menjadi doa. Namun, apa yang pernah disampaikan Prabowo bisa menjadi pengingat. Bahwa bukan tidak mungkin Indonesia akan mengalami situasi yang membuat prediksi itu menjadi kenyataan.
Bila melihat beberapa indikator sosial, ekonomi, dan politik saat ini, prediksi itu sangat mungkin terjadi. Tak perlu menggunakan teori dan metode akademis untuk melakukan analisa dan kajian.
Cukup mengamati ruang publik digital kita saat ini. Begitu riuh dan ramai dengan narasi dan opini kebencian yang saling menghujat. Hoaks bertebaran. Sulit untuk membedakan antara opini dan fakta.
Batas antara ilusi dan realita semakin kabur. Tak mudah untuk melihat kebenaran empirik berbasis data. Kekaburan ini membuka ruang yang lebar masuknya pseudosains dan infomasi manipulatif.
Inilah era post truth, di mana fakta dan data dikalahkan oleh narasi like or dislike. Ruang publik digital menjadi arena pertarungan dalam membangun framing, narasi, dan penggiringan opini.
Agenda setting untuk mengendalikan isu dan narasi membuat publik semakin terpolarisasi. Pertarungan ini membuat algoritma platform digital menjadi ruang gema yang mengamplifikasi semua informasi.
Tak peduli fakta atau opini, salah atau benar, baik atau buruk, semua bertarung berebut kendali algoritma. Inilah awal dari situasi yang sangat mungkin mengarah pada perpecahan.
Bukan secara harfiah, tapi kebencian karena perbedaan pendapat, ideologi, atau cara pandang. Satu sama lain menganggap sebagai musuh bila tak sejalan atau tak sepaham.
Hadirnya buzzer, influencer, dan KOL, membuat ruang gema platform digital semakin riuh dengan informasi sampah. Mereka lebih dipercaya daripada analisis dan kajian akademisi.
Argumen mereka dianggap kebenaran dibanding fakta yang terverifikasi. Perlahan tapi pasti, bila semua ini terus terjadi, maka Indonesia akan terpolarisasi oleh preferensi politik.
Tak perlu menunggu 10 tahun, rasanya Indonesia akan terjebak menjadi negara yang menganut ideologi kebencian. Sebelum terlambat, sebelum terjadi, maka berilah ruang dan kesempatan untuk generasi saat ini.
Biarkan generasi Z dan Alpha berekspresi memberi warna dan makna terhadap nilai-nilai kebangsaan menurut versi mereka. Karena justru generasi mereka lah yang paling paham makna dan arti simpati, empati, dan kebersamaan sesungguhnya.
Mereka tak terjebak pada slogan nasionalisme, tapi terlibat langsung dalam praktik dan aksi nyata melalui berbagai program kemanusiaan. Generasi Z dan Alpha lebih suka beraksi daripada bereaksi. Bagi mereka slogan dan narasi birokrasi hanya omong kosong bila tanpa aksi dan bukti.
Maka, sebelum Indonesia benar-benar bubar, serahkan beri akses kepada mereka untuk beraksi dan berekspresi. Karena 10 tahun dari sekarang, Indonesia akan dipenuhi anak muda produktif dan kreatif.
Jangan seret mereka dalam algoritma kebencian. Mereka lebih paham bermain medsos bukan untuk menyebar hoaks, tapi menjadi ruang ekspresi dan aksi kreatif. (*)
Editor : Arief