Uang. Siapa yang tidak kenal uang? Tidak kenal berarti abnormal. Tapi, siapa sangka karena magnet uang orang tidak segan-segan menipu orang lain sehingga orang lain pun tertipu. Penipu tidak pandang bulu. Siapa pun menjadi sasaran objek penipuannya. Caranya, menghalalkan segala cara.
Itulah uang. Di tengah kehidupan masyarakat, tradisional atau modern, uang merupakan kebutuhan primer. Meski begitu, keinginan terhadap uang yang terlalu besar sering kali membuat orang tertentu mengalami gelap mata, mengambil jalan pintas, yaitu menipu. Fenomena penipuan di era modern seperti sekarang ini bukan barang langka. Dalam keseharian, entah pagi, sore atau malam, selalu terjadi penipuan.
Magnet Uang
Uang adalah kebutuhan hidup. Uang magnet yang tidak pernah pudar. Dalam dunia percintaan, ada uang abang sayang, tiada uang abang melayang. Meski uang bukan segalanya, setiap hari, setiap waktu dan kapan pun magnet uang selalu menarik siapa pun untuk mencarinya. Tiada hari tanpa uang.
Meski tidak selalu, karena magnet uang orang bisa sengsara. Pikiran jadi sempit ketika tidak memiliki uang. Karena magnet uang, ketiadaan uang bisa menjadi gelap mata. Karena magnet uang, orang ingin memiliki uang sebanyak-banyaknya. Itulah sebabnya, karena ketiadaan uang, sebagian orang terdorong mengambil jalan pintas dengan menipu.
Cara Penipu Menipu
Uang bukanlah kejahatan, tetapi keinginan untuk memiliki banyak uang dengan cepat dan mudah sering kali menjadi api pembakar penipuan. Banyak penipu melihat orang lain sebagai sasaran yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan materi mereka.
Ada berbagai cara yang sering dilancarkan penipu untuk menipu. Mulai dari penipuan jual-beli barang palsu di pasar daring, arisan online, judi online, modus investasi palsu yang menjanjikan keuntungan besar, hingga penipuan via pesan singkat atau telepon yang mengaku dari bank atau perusahaan tertentu.
Penipuan juga terjadi dengan memanfaatkan kepercayaan orang lain. Misalnya, meminjam uang dengan janji dikembalikan tapi tidak dilaksanakan atau menipu teman dekat dengan alasan bohong.
Tak disangka, penipuan juga ada dalam pengelolaan dana publik. Misalnya, penipuan dengan modus mencari tenaga kerja dan menjanjikan pekerjaan untuk perusahaan tertentu. Uang muka diserahkan tetapi penipu tidak pernah kembali. Setiap bentuk penipuan ini memiliki pola yang sama, yaitu penipu membuat cerita yang menarik dan meyakinkan, membuat korban merasa aman atau beruntung, hingga akhirnya korban kehilangan uangnya.
Di pasar, terkesan wajar-wajar saja dalam transaksi jual beli, padahal pembeli sering kali ditipu penjual. Cara penjual menipu pembeli seperti memasak paku di alat timbangan, membuat cekung dasar literan alias takaran beras, mengurangi timbangan, memotong kain kurang dari ukuran, menutupi cacat barang, mencampur beras, langsat bermutu dengan kualitas rendah, dsb.
Tidak hanya itu. Di dunia pengemis juga ada penipuan. Ada geng pengemis. Ironisnya, ada orang kaya jadi pengemis. Menjadi pengemis bukan soal kemiskinan, tetapi soal meraup uang sebanyak mungkin tanpa bersusah payah. Tidak sedikit pengemis palsu menjadi orang kaya mendadak. Trik mereka sederhana, berpura-pura cacat fisik, berperilaku seperti orang buta, berpenampilan seperti badut, di anggota tubuh tertentu diberi perban berwarna merah darah dan duduk di gerobak, dsb.
Tips Selamat dari Penipuan
Untuk melindungi diri dan keluarga dari penipuan, berikut panduan praktis dan tips ringkas cara selamat dari berbagai jenis penipuan.
Pertama, penipuan lewat digital dan HP (SMS, WA, Online Shop, Judol). Gunakan Rumus "2T" (Tolak dan Telaah). Jangan langsung klik link, apa pun yang dikirim oleh nomor tidak dikenal (seperti foto paket palsu, atau undangan pernikahan digital).
Kedua, abaikan iming-iming menang undian. Jika kita merasa tidak pernah mengikuti lomba atau undian, sudah pasti itu penipuan.
Ketiga, hindari "Peluang" Judi Online (Judol). Selain ilegal, sistem judol sudah diatur oleh bandar agar pengguna selalu kalah dalam jangka panjang. Jangan pernah tergiur promosi atau kemenangan awal yang sengaja diberikan sebagai pancingan.
Keempat, verifikasi toko online. Saat belanja online, selalu gunakan platform resmi (e-commerce) dan manfaatkan fitur rekening bersama (rekber). Jangan mau diajak transaksi langsung via WA dengan alasan "biar diskon".
Kelima, penipuan Keuangan (arisan online dan investasi bodong). Pakai prinsip Logis dan Legal. Sebelum menyetor uang, cek apakah lembaga tersebut berizin OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Jika ada arisan atau investasi yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat tanpa risiko, maka 99% itu adalah penipuan skema Ponzi, yaitu modus penipuan investasi palsu.
Keenam, jangan terpukau gaya hidup pengelola. Penipu arisan online sering memamerkan kemewahan di media sosial untuk menarik korban baru. Jangan mudah percaya hanya karena penampilannya meyakinkan.
Ketujuh, penipuan Lowongan Kerja (Loker Palsu). Ciri utama adalah minta duit duluan. Loker resmi tidak pernah memungut biaya sepeser pun dari pelamar, baik untuk uang seragam, kartu id, maupun biaya travel/akomodasi tertentu.
Kedelapan, riset perusahaan. Cek alamat kantor dan email pengirim. Perusahaan bonafide menggunakan email domain resmi (contoh: hrd@nama-perusahaan.com), bukan email gratisan seperti Gmail atau Yahoo.
Kesembilan, waspada Hipnotis. Di tempat ramai seperti pasar atau terminal, hindari orang asing yang tiba-tiba menepuk pundak, mengajak ngobrol terlalu akrab, atau menawarkan barang antik/jimat. Tetap fokus dan segera menjauh jika merasa tidak nyaman.
Kesepuluh, cek timbangan dan kembalian. Saat belanja di pasar konvensional, pastikan melihat proses penimbangan dan selalu hitung kembali uang kembalian sebelum meninggalkan kios.
Kesebelas, penipuan fisik (di Pasar dan berkedok Pengemis). Salurkan sedekah ke lembaga resmi. Untuk menghindari sindikat pengemis palsu (yang memanfaatkan anak-anak atau pura-pura cacat demi keuntungan pribadi/bos sindikat), lebih baik salurkan bantuan kita melalui lembaga amil zakat atau yayasan sosial yang kredibel.
Akhirul kalam. Demikianlah, soal penipu, uang dan tertipu. Uang memiliki magnet. Orang menipu karena uang. Uang hilang melayang karena tertipu. Cara penipu melakukan penipuan bermacam-macam. Siapa pun yang terperdaya, pasti tertipu. Tapi, jangan khawatir, agar selamat dari penipuan ada jurus ampuhnya, yaitu tips selamat dari penipuan. Dengan tips ini, semoga kita semua selamat dari penipuan. Eh, tunggu dulu, ini ada saran, penipu, bertindaklah, jadilah penipu yang budiman. Daa ....aaaahh. (*)
Guru Besar Dosen S2 PAI Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin