Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Menjaga Harmoni di Tengah Perbedaan

admin • Rabu, 10 Juni 2026 | 14:05 WIB
Oleh: Bihman, S. Ag*
Oleh: Bihman, S. Ag*

 

Tanggal 1 Juni merupakan salah satu hari penting bagi bangsa Indonesia karena diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016, penetapan tanggal tersebut merujuk pada catatan sejarah pelaksanaan sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dalam upaya merumuskan dasar negara Republik Indonesia. Sidang pertama BPUPKI yang berlangsung pada 29 Mei 1945 membahas landasan dan dasar-dasar Indonesia merdeka.

Dalam forum tersebut, Ir. Soekarno menyampaikan pidato mengenai gagasan dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila. Pidato yang awalnya tidak memiliki judul itu selanjutnya diberi nama “Lahirnya Pancasila”. Setelah melalui proses pembahasan yang panjang, termasuk berbagai penyesuaian dan penyempurnaan, Pancasila akhirnya disahkan dalam Sidang PPKI pada 18 Agustus 1945 dan dicantumkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar negara Indonesia.

Dari kilas sejarah tersebut, Hari Lahir Pancasila merupakan bagian penting dari perjalanan bangsa yang perlu terus diingat. Momentum ini tidak hanya menjadi sarana mengenang sejarah, tetapi juga menghormati perjuangan para pendiri bangsa dalam merumuskan fondasi Indonesia. Sebagai generasi penerus, kita perlu memahami dan memaknai Pancasila bukan hanya sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai landasan perilaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Sebagai masyarakat Indonesia, kita memahami bahwa Pancasila merupakan dasar negara, ideologi negara, sekaligus pandangan hidup bangsa yang digali dan ditetapkan oleh para pendiri bangsa. Pancasila menjadi anugerah yang sangat berharga karena mampu menjadi perekat yang menyatukan masyarakat Indonesia dengan segala latar belakang yang berbeda.

Pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara merupakan wujud nyata cinta tanah air. Nilai tersebut dapat diwujudkan melalui sikap saling menghargai, bekerja sama, bergotong royong, dan saling menghormati. Dengan nilai inklusivitas yang dimilikinya, Pancasila menjadikan keberagaman sebagai kekuatan yang dapat dirajut menjadi identitas nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Karena itu, seluruh komponen bangsa perlu menjadikan peringatan Hari Lahir Pancasila sebagai momentum untuk terus menjaga dan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Memaknai Pancasila bagi Generasi Muda

Banyak nilai luhur Pancasila yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Filosofi Bhinneka Tunggal Ika mengajarkan bahwa perbedaan yang ada di tengah masyarakat Indonesia bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang harus dirawat. Sebagai penerus perjuangan bangsa, generasi muda perlu menjadi generasi yang moderat dan mampu menghargai keberagaman suku, agama, ras, dan budaya yang menjadi kekayaan Nusantara.

Generasi muda Indonesia, baik generasi milenial maupun Generasi Z, juga harus berada di garis depan dalam membentengi bangsa dari paham radikalisme, terorisme, intoleransi, dan berbagai pemikiran yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila. Sudah saatnya setiap generasi Indonesia menjadi contoh dalam pengamalan ideologi Pancasila melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai warga negara Indonesia yang menjunjung tinggi Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, kita perlu menyadari bahwa Indonesia hanya memiliki satu ideologi negara, yakni Pancasila. Ideologi inilah yang mempersatukan berbagai karakteristik masyarakat Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia demi mencapai kesejahteraan dan kemakmuran bersama.

Tindakan konkret dalam memaknai Hari Lahir Pancasila bagi generasi muda tentu menjadikan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai kompas moral dan pedoman hidup di tengah berbagai tantangan global. Implementasi tersebut tidak cukup berhenti pada hafalan, tetapi harus diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.

Pertama, menjunjung tinggi nilai toleransi. Generasi muda harus menghargai keberagaman suku, agama, ras, dan budaya dengan menolak segala bentuk diskriminasi. Penerapan nilai ini dapat dilakukan melalui pergaulan yang tidak membedakan latar belakang, menghormati ibadah pemeluk agama lain, serta membangun komunikasi yang sehat dengan siapa pun. Sikap tersebut akan menciptakan hubungan sosial yang harmonis dan memperkuat persatuan masyarakat.

Kedua, melek digital secara positif. Penggunaan media sosial harus dilakukan secara bijaksana dengan menyebarkan narasi perdamaian, ketenteraman, dan persatuan. Generasi muda juga perlu membiasakan diri memverifikasi informasi sebelum membagikannya agar tidak ikut menyebarkan hoaks yang dapat memicu konflik dan perpecahan. Kemajuan teknologi komunikasi semestinya menjadi sarana memperkuat persaudaraan dan menjaga suasana yang damai di tengah masyarakat.

Ketiga, mengembangkan semangat kebersamaan dan gotong royong. Generasi muda memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar nilai-nilai Pancasila tetap tumbuh dan berakar kuat di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Hal ini dapat diwujudkan melalui keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan sosial seperti kerja bakti lingkungan, membantu masyarakat yang membutuhkan, kegiatan kemanusiaan, maupun aktivitas sosial lainnya. Bagi para pelajar, mahasiswa, dan aktivis organisasi, tersedia banyak ruang untuk mengembangkan semangat kebersamaan tersebut.

Keempat, menanamkan kecintaan terhadap produk dan budaya lokal. Upaya ini penting untuk mendukung keberlangsungan usaha masyarakat kecil dan menengah sekaligus menjaga warisan budaya bangsa. Mengapresiasi karya anak bangsa, menggunakan produk lokal, serta melestarikan budaya daerah merupakan bentuk nyata pengamalan nilai Pancasila di tengah arus globalisasi yang semakin kuat.

Kelima, berprestasi dan berkarakter. Generasi muda harus terus belajar, mengembangkan kemampuan diri, dan memaksimalkan potensi yang dimiliki sesuai bidang masing-masing. Prestasi yang dibangun di atas karakter yang kuat akan memberikan dampak positif tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi masyarakat, daerah, dan bangsa Indonesia.

Pada akhirnya, menjaga, memperkokoh, dan melestarikan nilai-nilai Pancasila bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga pendidikan, melainkan tanggung jawab seluruh elemen bangsa. Di tengah berbagai tantangan sosial, budaya, dan perkembangan teknologi yang semakin cepat, Pancasila tetap relevan sebagai pedoman dalam menjaga persatuan dan harmoni kehidupan bangsa.

Karena itu, masyarakat dan generasi muda perlu terus merawat nilai-nilai Pancasila dalam tindakan nyata sehari-hari. Dengan menjunjung tinggi toleransi, memperkuat gotong royong, memanfaatkan teknologi secara bijaksana, mencintai produk dan budaya lokal, serta terus berprestasi, harmoni di tengah perbedaan akan tetap terjaga. Sebab, kekuatan Indonesia terletak pada kemampuannya mempersatukan keberagaman dalam satu tujuan bersama: Indonesia yang maju, damai, dan sejahtera. Berbeda dalam persatuan, bersatu dalam perbedaan. (*)

 

Penulis: Guru MTsN 3 Tanah Bumbu.

Editor : Muhammad Rizky
#Menjaga Harmoni #Perbedaan #Guru MTsN 3 Tanah Bumbu #Opini #hari lahir pancasila