Oleh: Ahmad Syawqi
Setiap hari, umat manusia menghasilkan sekitar 2,5 kuintiliun byte data. Setiap menit, lebih dari 500 jam video diunggah ke YouTube, 1,8 miliar foto dibagikan di berbagai platform, dan jutaan pesan berseliweran di WhatsApp, Instagram, TikTok, hingga X. Di Indonesia sendiri, rata-rata warga menghabiskan lebih dari tiga jam sehari di media social, salah satu yang tertinggi di dunia. Angka-angka itu terdengar luar biasa. Namun ada satu pertanyaan sederhana yang jarang kita tanyakan kepada diri sendiri: dari semua data yang kita konsumsi hari ini, berapa banyak yang benar-benar kita pahami? Berapa banyak yang mengubah cara kita berpikir, mengambil keputusan, atau memperlakukan sesama?
Di sinilah letak paradoks terbesar era digital kita: kita adalah generasi paling kaya data sepanjang sejarah peradaban manusia, namun sekaligus menjadi generasi yang paling miskin makna. Kita tahu segalanya secara dangkal dan tidak tahu apa-apa secara mendalam. Kita hafal nama artis Korea terbaru tetapi tidak tahu nama ketua RT kita sendiri. Kita bisa melafalkan kutipan motivasi dari ratusan tokoh, tetapi tidak mampu bertahan membaca satu buku utuh selama sebulan. Kita terpapar informasi tanpa henti, tetapi semakin sulit membedakan mana fakta, mana opini, dan mana rekayasa.
Tepat pada Hari Media Sosial Indonesia yang diperingati setiap 10 Juni, kita seharusnya tidak hanya merayakan betapa pesatnya pertumbuhan pengguna platform digital di negeri ini. Kita justru perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah pertumbuhan itu telah membawa kita menjadi masyarakat yang lebih cerdas, lebih kritis, dan lebih bijak? Atau justru sebaliknya, kita semakin tergesa-gesa dalam menelan informasi, semakin reaktif dalam merespons berita, dan semakin mudah dikendalikan oleh algoritma yang dirancang bukan untuk mencerdaskan kita, melainkan untuk membuat kita terus menggulir layar selama mungkin?
Sebagai seorang pustakawan, saya sering menggunakan sebuah analogi sederhana. Perpustakaan adalah tempat di mana jutaan halaman pengetahuan disimpan dengan rapi, diorganisasi secara sistematis, dan dapat diakses oleh siapa saja yang datang dengan niat untuk belajar. Namun media sosial hari ini ibarat perpustakaan yang seluruh raknya terbalik, jutaan buku berserakan di lantai, tidak ada katalog, tidak ada panduan, dan di setiap sudut ada pengeras suara yang berisik memperebutkan perhatian Anda. Di perpustakaan, Anda yang memilih buku apa yang ingin Anda baca. Di media sosial, algoritmalah yang memilihkan buku mana yang akan tampil ke hadapan Anda berdasarkan bukan apa yang baik untuk Anda, melainkan apa yang paling mungkin membuat Anda terpancing untuk terus menatap layar.
Dampaknya sudah kita rasakan di mana-mana. Hoaks menyebar lebih cepat dari klarifikasi. Ujaran kebencian lebih viral dari pesan perdamaian. Seorang anak yang belum tamat SD bisa meyakini teori konspirasi hanya karena sebuah video pendek yang dikemas dengan meyakinkan. Orang dewasa yang berpendidikan tinggi pun tidak kebal, mereka membagikan informasi palsu karena judulnya mengonfirmasi apa yang ingin mereka percaya, tanpa pernah membaca isi artikelnya. Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai post-truth society, masyarakat pasca-kebenaran, di mana perasaan dan keyakinan lebih berpengaruh daripada fakta dan data yang terverifikasi.
Akar masalahnya bukan pada teknologinya, teknologi hanyalah alat. Akar masalahnya ada pada lemahnya ekosistem literasi kita. Selama ini kita mengira bahwa literasi berarti kemampuan membaca dan menulis. Tetapi di era digital yang sarat dengan derasnya arus informasi ini, literasi harus diperluas maknanya menjadi kemampuan untuk membaca secara kritis, memverifikasi sumber, memahami konteks, mengenali bias, dan mengolah informasi menjadi pengetahuan yang bermakna. Inilah yang disebut literasi informasi dan inilah yang paling mendesak dibangun di Indonesia saat ini.
Di sinilah peran pustakawan menjadi lebih relevan dari sebelumnya. Bukan pustakawan dalam bayangan lama sebagai sosok yang diam di balik tumpukan buku dan bertugas menstempel tanggal pengembalian. Pustakawan masa kini adalah navigator di tengah samudra data yang tak bertepi. Mereka terlatih untuk mengorganisasi informasi, mengevaluasi sumber, menyaring konten berkualitas dari kebisingan digital, dan yang paling penting: mengajarkan kepada masyarakat bagaimana cara berpikir secara mandiri dan bertanggung jawab dalam mengelola informasi. Profesi ini bukan sedang menuju kepunahan tetapi ia sedang menuju masa paling krusialnya.
Tentu saja, membangun ekosistem literasi informasi bukan tugas pustakawan semata. Ini adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah perlu memperkuat kurikulum literasi digital di semua jenjang pendidikan, bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan perangkat lunak, tetapi mengajarkan cara berpikir kritis di dunia yang penuh dengan manipulasi informasi. Platform media sosial perlu lebih serius dalam merancang fitur yang mendorong pengguna berpikir sebelum membagikan konten, bukan sekadar mengejar waktu tonton. Dan masyarakat kita sendiri perlu membangun kebiasaan baru: melambat sebelum membagikan, memverifikasi sebelum mempercayai, dan membaca lebih dari sekadar judul.
Hari Media Sosial Indonesia adalah momentum yang tepat untuk merefleksikan hal ini. Bukan untuk anti-media sosial, sebab media sosial jika digunakan dengan bijak adalah alat demokrasi informasi yang luar biasa. Ia bisa menjadi jembatan antara warga dan pemerintah, antara petani dan pasar, antara ilmuwan dan masyarakat. Tetapi potensi itu hanya akan terwujud jika kita yang menggunakannya memiliki kemampuan untuk membedakan mana informasi yang membangun dan mana yang menghancurkan. Data yang melimpah tanpa kemampuan mengolahnya hanyalah kebisingan. Dan kebisingan yang cukup keras, pada akhirnya, bisa membungkam kebenaran.
Maka di hari yang istimewa ini, mari kita jadikan Hari Media Sosial bukan sekadar perayaan konektivitas, melainkan titik balik menuju kedewasaan digital. Karena kekayaan data yang sesungguhnya bukan diukur dari berapa gigabyte yang kita konsumsi setiap hari, melainkan dari seberapa besar data itu mengubah kita menjadi manusia yang lebih bijak, lebih berempati, dan lebih bertanggung jawab terhadap sesama. Kita sudah lebih dari cukup kaya data. Kini saatnya kita mulai mengejar makna. (*)
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin
Editor : Muhammad Rizky