Di dalam naskah akademik Pembelajaran Mendalam, Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua, dinyatakan bahwa Indonesia menghadapi berbagai tantangan masa depan yang menuntut persiapan yang sangat serius pada sektor pendidikan. Berbagai tantangan tersebut meliputi kehidupan masyarakat yang akan semakin kompleks, dinamis, tidak pasti, tak terduga dan ambigu yang sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tantangan-tantangan tersebut hanya dapat dijawab melalui transformasi pendidikan dalam rangka mewujudkan pendidikan bermutu dan merata untuk semua. Untuk menghadapi tantangan-tantangan itu, sistem pendidikan nasional Indonesia perlu ditransformasi secara terstruktur, sistemik dan masif (Suyanto, dkk, 2025:1).
Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yaitu membuat terobosan strategis dengan program pembelajaran mendalam (deep learning). Pembelajaran mendalam mencakup kemampuan peserta didik dalam memahami konsep secara utuh, menghubungkan pengetahuan konseptual dengan prosedural, serta menerapkan pemahaman tersebut pada situasi dan konteks baru (Hattie & Donoghue, 2016; Parker et al., 2011; Winch, 2017).
Dalam mengimplementasikan pembelajaran mendalam, terdapat empat komponen kerangka kerja pembelajaran mendalam. Pertama, delapan dimensi profil lulusan (8 DPL). Kedua, prinsip pembelajaran yaitu berkesadaran, bermakna, menggembirakan. Ketiga, tahapan pengalaman belajar, terdiri dari: memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Keempat, desain pembelajaran meliputi: praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan pemanfaatan digital.
Pemanfaatan teknologi digital memegang peran penting sebagai katalisator untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, kolaboratif, dan kontekstual. Tersedianya beragam sumber belajar menjadi peluang menciptakan pengetahuan bermakna pada peserta didik.
Dalam konteks ini, peran pengawas sekolah menjadi sangat strategis. Pengawas tidak hanya bertugas melakukan supervisi administratif maupun manajerial di sekolah binaan, tetapi berperan sebagai agen perubahan (agent of change) yang mendorong inovasi pembelajaran di sekolah binaannya. Salah satu inovasi yang dapat dioptimalkan adalah pemanfaatan Medigrafi 3D (media tiga dimensi dan infografis), yang mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih konkret, interaktif, dan bermakna bagi peserta didik.
Namun demikian, implementasi teknologi seperti Medigrafi 3D di sekolah binaan masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan kompetensi guru, kurangnya sarana pendukung hingga minimnya pemanfaatan teknologi secara optimal.
Strategi dan Proses Pendampingan
Adapun strategi pendampingan yang penulis lakukan antara lain: (1) Melakukan pendampingan kepada satuan pendidikan berdasarkan data angket guru dalam pemanfaatan teknologi digital infografis dan media 3 dimensi, baik melalui kegiatan coaching, mentoring, maupun in house trainning (IHT), (2) Monitoring dan evaluasi melalui observasi supervisi pembelajaran guru di kelas dan (3) Berbagi praktik baik, baik melalui komunitas belajar di masing-masing satuan pendidikan sekolah binaan maupun di forum yang lebih besar, seperti KKG, MGMP, KKKS, MKKS, maupun MKPS.
Pemanfaatan Teknologi Digital Medigrafi 3D
Penggunaan media secara inovatif memungkinkan siswa belajar kreatif dan dapat meningkatkan motivasi belajar, sekaligus mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa, di mana siswa mampu mengucapkan atau menghafal kata-kata/istilah dengan baik, namun tidak memahami makna atau hakikat di baliknya (Suyanto dan Jihad, 2013:107).
Menurut Sudjana (2017), bahwa media tiga dimensi merupakan alat peraga yang memiliki panjang, lebar dan tinggi. Tampilannya dapat diamati dari arah pandang mana saja dan mempunyai dimensi panjang, lebar, dan tinggi/tebal. Media tiga dimensi juga dapat diartikan sekelompok media tanpa proyeksi yang penyajiannya secara visual tiga dimensi. Kelompok media ini dapat berwujud sebagai benda asli baik hidup maupun mati, dan dapat berwujud sebagai tiruan yang mewakili aslinya, bahkan dapat dimanipulasi dengan memanfaatan papan tulis digital (Rohmatullah, dkk, 2022).
Media ini membuat konsep yang abstrak menjadi lebih konkret dan mudah dipahami oleh peserta didik. Penggunaan media 3D membantu: 1) meningkatkan pemahaman konsep secara mendalam, 2) mendorong keterlibatan aktif siswa dan mengembangkan imajinasi dan 3) keterampilan berpikir spasial yaitu kemampuan untuk memahami, membayangkan, mengingat, dan memanipulasi objek serta ruang secara visual dan tiga dimensi. Banyak aplikasi atau platform pendidikan yang menawarkan beragam kemudahan, khususnya untuk memanfaatkan media infografis dan media 3 dimensi.
Ruang Murid di Platform Rumah Pendidikan
Di dalam fitur Sumber Belajar terdapat pilihan fitur Lab. Maya, Gim Edukasi, Video, Teks, dan Gambar. Apabila kita membuka fitur Lab Maya (Praktik di Laboratorium Virtual), guru dan peserta didik dapat menggunakan beberapa media yang sangat interaktif dan menarik, misalnya, media 3D organ tubuh manusia, proses terjadinya gerhana, simulasi rotasi bumi, dan sebagainya.
Pemanfaatan Tools dan Website Media Pembelajaran 3D dan Infografis
Beberapa platform atau tools media 3 dimensi antara lain: Lab. Maya, Biodigital, AssemblrEdu, Earthspacelab, Sketchfab, google earth, canva, dll. Sedangkan untuk pembuatan materi pembelajaran berupa infografis dengan akses gratis, dapat menggunakan beberapa tools, seperti notebookLM (google), Gemini, Grok, ChatGpt, dan lain-lain. Apabila ingin mendapatkan infografis dengan hasil yang lebih menarik dapat menggunakan tools yang pro/berbayar.
Kendala
Kendala yang muncul selama melaksanakan pendampingan dan pengimbasan tentang implementasi pembelajaran mendalam berbasis inovasi medigrafi 3D di sekolah binaan antara lain: (1) Ketersediaan perangkat pendukung seperti papan tulis digital (interaktive flat panel), lcd proyektor maupun laptop masing-masing guru belum merata dan proporsional, (2) kurangnya motivasi dalam memanfaatkan kecerdasan artifisial (KA), dan (3) Kualitas jaringan internet yang belum stabil dan merata disetiap satuan pendidikan.
Dampak Pendampingan
Pendampingan implementasi pembelajaran mendalam berbasis inovasi medigrafi 3D di sekolah binaan memberikan beberapa manfaat. Pertama, meningkatkan kompetensi guru dalam mengeksplorasi media 3 dimensi dan infografis dalam pembelajaran. Kedua, motivasi belajar siswa meningkat secara signifikan saat guru menggunakan media infografis dan media 3 dimensi dalam pembelajaran.
Begitu bermanfaatnya media infografis dan media 3 dimensi dalam pembelajaran, harapan penulis adalah guru-guru hebat saat ini senantiasa mengembangkan kompetensinya termasuk dalam meng-upgrade penggunaan teknologi digital dalam pembelajaran. Mari wujudkan guru Inspiratif, untuk siswa Kreatif, menuju Pendidikan Bermutu. (*)
Pengawas Sekolah Disdik Kabupaten Tanah Bumbu
Editor : Muhammad Rizky