Oleh: Edwin Yulisar
Guru MTsN 2 HST
Ada kejadian unik ketika saya bersama rekan membawa anggota English Club untuk mengoptimalkan keterampilan linguistik di sebuah lembaga kursus di Pare selama satu minggu. Para siswa yang rata-rata duduk di kelas 8 dan juga 9 menangis ketika pembelajaran disana berakhir dan mengadakan perpisahan dengan para tutornya. Mereka tidak ingin berpisah dengan para tutor dan ingin terus belajar disana. Dari kejadian itu terlintas pemikiran reflektif, apakah pembelajaran yang diberikan di sekolah sudah memberikan pengalaman yang sama seperti ditempat ini? Atau ada bumbu penyedap yang kurang pada penyampaian materi ajar di sekolah?
Jika dilihat dari alokasi belajar di Pare, para siswa belajar mulai dari setelah shalat subuh hingga malam. Jumlah alokasi waktu kelihatannya banyak, namun siswa terlihat tak sedikitpun loyo ataupun mengantuk dalam pembelajarannya. Malahan mereka makin percaya diri dan berani berbahasa inggris dengan lawan bicara dengan warga lokal maupun turis asing.
Penulis menyimpulkan bahwa secara sadar di tempat tersebut deep learning berhasil bukan hanya terbatas pada implementasi namun menjadi habituasi. Yang terlihat bukan hanya keterampilan berbahasa berhasil terasah, namun para pengajar di lembaga kursus berhasil menciptakan kesadaran kolektif serta mengaktifkan rasa memiliki (sense of belonging) kepada siswa sebagai pembelajar. Dengan melihat fenomena tersebut, guru di sekolah harus melakukan berbagai upaya memaksimalkan refleksi dan evaluasi menyeluruh untuk membangun rasa memiliki serta keterikatan secara psikologis dengan siswa.
Pertama, guru harus mampu memposisikan dirinya sebagai teman bagi siswa. Hal ini terdengar kontradiktif terhadap relasi hierarki di sekolah namun cara ini berhasil mengikat sisi sosial-emosional siswa di kelas. Posisi teman di sini adalah guru harus adaptif dalam pembelajaran yang akan disampaikan. Mulai dari penggunaan apersepsi yang santai dan topik yang trending di kalangan remaja seusianya.
Dengan begini, guru mengikuti alur pemikiran siswa dalam mengintegrasikan pembelajaran mulai dari penggunaan media lagu, tarian serta istilah yang kekinian agar siswa merasa terikat dan menganggap bukan hanya gurunya namun pembelajarannya yang adaptif atau kontemporer (Teenagers Friendly). Transformasi dalam memposisikan guru sebagai teman harus menjadi perhatian yang dimulai dari kemampuan guru melek digital dan informasi tentang kehidupan anak remaja di zaman sekarang.
Kedua, pengajar kursus di Pare sering melakukan evaluasi perhari bersama rekan sejawat untuk mendeteksi kekuatan dan kelemahan dalam pengajaran. Guru di sekolah harus mampu melakukan evaluasi dirinya dengan melakukan diskusi bersama rekan sejawat terhadap beberapa tantangan pengajaran kelas yang diampu. Sayangnya, sebagian guru tenggelam dalam tugas administrasi tanpa menghiraukan refleksi pembelajaran secara dini. Semakin optimal deteksi terhadap kekuatan dan kelemahan pembelajaran bersama rekan sejawat, maka semakin berpeluang pula pembelajaran mendalam dapat berhasil diterapkan di sekolah.
Ketiga, membangun ikatan emosional yang berkelanjutan dengan siswa. Guru yang baik adalah guru yang bersikap terbuka, menampung saran dan kritik siswa. Dalam hal ini, guru harus memposisikan dirinya sebagai wadah berbagi untuk siswa ketika mereka masih belum menguasai materi atau keterampilan yang sudah diajarkan. Hal ini terlihat kompleks karena para pendidik harus mampu mengelola psikologis siswa dalam radar capaian pembelajaran yang tercatat di jurnal pengajaran. Jika guru memfokuskan pada aspek pembelajaran yang menyenangkan saja, maka konsekuensinya pengajaran yang diberikan tidak lebih dari ajang sirkus belaka sebagai hiburan sekali habis yang minim substansi.
Guru harus menempatkan posisi moderat dalam penguatan ikatan emosional seperti pengajar di Pare. Mereka bertindak sebagai teman namun tetap melakukan pembelajaran yang terarah dan progresif untuk membimbing siswa dalam belajar bukan hanya pada aspek sense of belonging, namun juga sense of feeling dan learning yang kuat. Jika seluruh sense ini mampu timbul, maka pembelajaran yang ideal akan tercipta karena siswa sudah menyukai dan merasa diperhatikan karena tingginya keterikatan sosial dalam pembelajaran.
Oleh karena itu, pembelajaran yang diimplementasikan dan dihabituasikan lembaga kursus di Pare harus menjadi bahan renungan dan inspirasi bagi guru seluruh Indonesia. Pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran yang bermakna, berkesadaran dan menyenangkan. Bermakna berarti siswa mendapatkan perhatian serta langsung merasakan manfaat untuk kehidupan sehari-hari. Sedangkan pada aspek berkesadaran terlihat pada terciptanya dogma bahwa segala kesulitan akan dapat diatasi dengan berbagai solusi dalam prosesnya jika dipecahkan secara komunal.
Dan, belajar harus menyenangkan. Pembelajaran yang menyenangkan terejawantahkan dengan terintegrasinya keseimbangan materi ajar dengan aspek kognitif, sosial-emosional siswa melalui kegiatan-kegiatan yang menghibur namun tetap edukatif tanpa menjatuhkan marwah guru sebagai pendidik. Singkatnya, guru yang hebat bukan dinilai seberapa banyak sertifikat penghargaan yang dimiliki, namun seberapa banyak antusias belajar siswa pada tiap kelas yang mereka ajari. Pilihannya kembali kepada guru itu sendiri, menjadi pengajar yang duduk manis di zona nyaman atau melakukan terobosan memperbaiki pembelajaran sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman. (*)
Editor : Arief