Oleh: Hery Purnobasuki
Guru Besar FST Universitas Airlangga
Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga
Di sebuah warung kopi kecil di sudut kota, saya mengamati sekelompok anak muda yang tengah asyik berdiskusi tentang pekerjaan, tentang kekhawatiran keluarga, tentang bagaimana menyeimbangkan hidup di masa yang serba tak menentu. Wajah mereka menunjukkan campuran optimisme dan kegelisahan, ciri khas generasi yang tumbuh dengan internet sebagai jendela utama dunia. Mereka adalah bagian dari generasi Z: generasi yang lahir di tengah derasnya arus informasi, yang menyaksikan konflik global lewat layar ponsel dan merasakan dampaknya dalam keseharian. Di tengah itu semua, muncul pertanyaan penting: apakah nilai-nilai Pancasila masih relevan? Dan jika iya, bagaimana generasi muda ini mengimplementasikannya dalam hidup mereka?
Pancasila kerap dipandang sebagai landasan formal negara, tertulis di buku pelajaran, diperdengarkan pada upacara resmi, menjadi tema pidato kenegaraan. Namun bagi generasi Z, nilai-nilai itu seringkali menemukan bentuk baru, tidak selalu melalui seremonial, melainkan lewat perilaku sehari-hari yang lebih cair, pragmatis, dan adaptif. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, misalnya, bukan hanya soal ritual dan kebaktian, melainkan juga praktik toleransi beragama di ruang virtual dan nyata. Dalam timeline media sosial, saya melihat dialog antarumat beragama yang hangat, orang muda saling berbagi pengalaman spiritual tanpa menghakimi, dan ada pula gerakan-gerakan solidaritas antarumat beragama ketika terjadi bencana atau ketegangan sosial. Bukan berarti konflik agama hilang, namun jauh dari itu adalah bagaimana cara mereka menyikapi berbeda; lebih banyak mencari titik temu, mengedepankan empati, dan menolak narasi kebencian yang mudah tersebar.
Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab terasa nyata ketika generasi Z bergerak dalam aksi-aksi kemanusiaan yang spontan dan terorganisir lewat platform digital. Kampanye penggalangan dana, bantuan logistik yang diorganisir melalui grup chat, hingga upaya advokasi untuk isu-isu marginal. Semua itu menjadi contoh bagaimana empati diwujudkan praktis. Saya teringat salah satu inisiatif anak muda di kampus yang mendirikan jaringan sukarelawan untuk membantu pekerja migran yang terdampak krisis ekonomi serta masyarakat yang terdampak bencana. Mereka bukan hanya memberikan bantuan materi; mereka juga melakukan pendampingan hukum dan psikososial, menunjukkan bahwa kemanusiaan bagi mereka meliputi perhatian holistik terhadap martabat orang lain.
Persatuan Indonesia, sebagai cita-cita ketiga Pancasila, mendapat tantangan berat di era polarisasi informasi. Namun generasi Z menemukan cara baru untuk merevitalisasi semangat kebangsaan. Mereka sering kali membangun komunitas lintas budaya dan lintas wilayah melalui minat Bersama seperti musik, gim, seni, dan isu-isu lingkungan. Dalam komunitas-komunitas ini, perbedaan suku, bahasa, dan latar belakang bukan penghalang tetapi sumber kekayaan. Selain itu, ketika konflik global menaikkan tensi politik dunia dan memicu eksodus pengungsi, generasi muda di Indonesia menunjukkan solidaritas yang mengingatkan kita bahwa rasa kebangsaan tidak harus berarti eksklusif; sebaliknya, kebangsaan dapat menjadi dasar untuk membuka tangan, menawarkan bantuan, dan menegaskan bahwa persatuan bisa dilandasi kemanusiaan universal.
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi relevan ketika kita melihat ketimpangan yang kian nyata oleh dinamika ekonomi global. Generasi Z, yang dibentuk oleh akses informasi yang luas, tidak mudah menerima narasi status quo. Mereka menuntut transparansi, akuntabilitas, dan kebijakan yang berpihak pada masyarakat. Namun cara mereka menuntut berbeda: lebih sering lewat kampanye digital, riset independen yang dipublikasikan di blog atau platform alternatif, serta kolaborasi lintas disiplin untuk merumuskan solusi nyata. Anak muda ini juga menyadari bahwa perubahan struktural membutuhkan kerja panjang, sehingga mereka menggabungkan tindakan praktis seperti pemberdayaan ekonomi lokal dan inisiatif pendidikan berbasis teknologi serta dengan upaya advokasi yang terus menerus.
Di tengah konflik global yang sering memunculkan narasi “kita versus mereka”, nilai Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan diuji. Generasi Z cenderung skeptis terhadap otoritas tradisional, namun bukan berarti mereka menolak demokrasi; mereka justru menuntut demokrasi yang lebih deliberatif dan partisipatif. Forum-forum diskusi publik yang diselenggarakan secara daring, inisiatif untuk melibatkan warga dalam pengambilan keputusan lokal, dan eksperimen demokrasi langsung di komunitas-komunitas menunjukkan betapa mereka ingin suara kolektif didengar. Di saat yang sama, generasi muda menyadari bahaya disinformasi yang mengguncang proses deliberasi. Oleh karena itu, literasi media menjadi bagian dari kewajiban moral mereka dalam menjaga kualitas ruang publik.
Keadilan sosial dan kerakyatan ini kerap beririsan dengan isu-isu lingkungan, tema yang sangat dekat dengan banyak anak muda. Konflik global, seperti perang yang memutus rantai pasokan atau perubahan iklim yang memperparah bencana, membuat generasi Z semakin menyadari pentingnya keberlanjutan. Mereka menerjemahkan nilai-nilai Pancasila ke dalam aksi-aksi konkret: mendukung pertanian berkelanjutan, mempromosikan ekonomi sirkular di komunitas lokal, hingga bergabung dengan kampanye internasional untuk menekan emisi gas rumah kaca. Perhatian mereka pada lingkungan bukan sekadar tren estetik; itu adalah pemahaman mendasar bahwa keadilan antar-generasi dan kesejahteraan kolektif saling terkait.
Cara generasi Z mempraktekkan Pancasila seringkali lebih personal dan kontekstual. Mereka merayakan pluralitas dalam keseharian, memilih kawan lintas identitas, merayakan perbedaan makanan dan perayaan, serta menuntut ruang aman bagi kelompok marginal. Mereka juga memakai teknologi bukan hanya sebagai alat konsumsi, tetapi sebagai medium untuk membangun solidaritas. Namun optimisme ini tidak bebas dari dilema. Ketergantungan pada platform digital juga membuat mereka rentan pada polarisasi algoritmik, tekanan performatif, dan fatigued activism. Situasi di mana intensitas respons online tidak selalu berbanding lurus dengan perubahan di dunia nyata.
Menghadapi dilema itu, generasi Z menunjukkan kapasitas reflektif. Banyak dari mereka yang secara sadar mengadopsi praktik-praktik “aktivisme bertahan lama”: menyeimbangkan kerja aktivis dengan kesejahteraan pribadi, mengutamakan kolaborasi lintas generasi, dan membangun jaringan pendukung yang lebih inklusif. Ada pula kecenderungan untuk menerjemahkan idealisme menjadi inovasi sosial seperti startup sosial, gerakan lokal yang mengintegrasikan kearifan lokal dengan teknologi, dan upaya pendidikan alternatif yang memperkaya kurikulum formal.
Pancasila di tangan generasi Z bukanlah warisan yang dikotomi antara formalitas dan inovasi. Ia menjadi bahan mentah yang terus dibentuk oleh pengalaman hidup, tantangan global, dan kreativitas lokal. Nilai-nilai itu hidup ketika anak muda mengambil tanggung jawab dan bukan sekadar berdiskusi, melainkan juga bertindak: memberi pertolongan nyata saat krisis, membuka ruang dialog ketika konflik memanas, memperjuangkan kebijakan yang adil, serta menjaga bumi untuk generasi mendatang.
Kita, generasi yang lebih tua, mungkin sukar memahami logika digital mereka atau kecewa pada cara mereka menyuarakan kritik. Namun jika kita melihat lebih dekat, kita akan menemukan benang merah yang menghubungkan: sebuah tekad untuk hidup bermartabat bersama, sebuah kemauan untuk bertoleransi, dan rasa tanggung jawab terhadap masa depan kolektif. Pancasila, dilihat dari perspektif ini, bukanlah teks kuno yang harus dipertahankan secara literal, melainkan fondasi yang harus diperbarui melalui praktik nyata.
Saat konflik global terus memberi tekanan pada struktur sosial dan ekonomi, peran generasi Z menjadi krusial. Mereka bukan hanya penerima dampak, tetapi juga agen perubahan. Dengan kreativitas, empati, dan solidaritas lintas batas, mereka sedang menguji dan memaknai kembali Pancasila serta menjadikannya pedoman hidup yang relevan untuk zaman yang gelisah. Bila suara mereka didengarkan dan diberi ruang untuk beraksi secara nyata, saya percaya nilai-nilai Pancasila akan menemukan kehidupan baru, bukan sebagai slogan di atas kertas, melainkan sebagai gaya hidup yang menyelamatkan dan mempersatukan di tengah turbulensi dunia.
Apakah generasi Z akan berhasil? Hanya waktu yang akan menjawab. Tapi dari sudut warung kopi itu, dari komunitas online, dan dari gerakan-gerakan kecil yang tumbuh di berbagai kota, saya melihat secercah harapan: Pancasila bukan hanya warisan, melainkan janji yang terus diperbarui oleh mereka yang berani bertanya, berempati, dan bertindak. (*)
Editor : Arief