Oleh: Wira Surya Wibawa, SH, MH
Koordinator Social Justice Institute Kalimantan
Bulan Mei selalu menghadirkan ruang refleksi yang istimewa. Dalam satu rentang waktu, masyarakat memperingati Hari Buruh, Hari Pendidikan Nasional, Hari Kebangkitan Nasional, dan Hari Reformasi. Rangkaian momentum tersebut bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat tentang persoalan mendasar yang masih dihadapi bangsa, termasuk Kalimantan Selatan.
Di Banua, Mei seperti cermin yang memantulkan berbagai wajah pembangunan. Ada kemajuan yang patut diapresiasi, tetapi ada pula pekerjaan rumah yang belum selesai. Pertumbuhan ekonomi terus bergerak, pembangunan infrastruktur berlangsung, dan Banjarbaru mulai mengukuhkan diri sebagai ibu kota provinsi. Namun di balik itu, pertanyaan tentang kualitas pendidikan, kesejahteraan pekerja, kesehatan demokrasi, dan keberlanjutan lingkungan tetap relevan untuk diajukan.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional mengingatkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya diukur dari angka partisipasi sekolah atau tingkat kelulusan. Pendidikan sejatinya bertujuan membentuk manusia yang merdeka dalam berpikir, mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, sekaligus memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial di sekitarnya.
Tantangan pendidikan di Kalimantan Selatan masih nyata. Kesenjangan kualitas antara wilayah perkotaan dan daerah yang lebih terpencil belum sepenuhnya teratasi. Di saat yang sama, perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan menuntut kemampuan baru yang harus segera direspons oleh dunia pendidikan. Jika pendidikan hanya menghasilkan lulusan yang siap bekerja tanpa kemampuan berpikir kritis dan kesadaran sosial, maka kita berisiko melahirkan generasi yang unggul secara teknis, tetapi kurang peka terhadap persoalan masyarakatnya.
Momentum Hari Buruh juga mengingatkan bahwa di balik statistik pertumbuhan ekonomi terdapat jutaan pekerja yang menopang kehidupan daerah. Mereka adalah buruh perkebunan, pekerja tambang, tenaga kesehatan, guru honorer, pekerja jasa, hingga sektor informal yang kerap luput dari sorotan.
Kalimantan Selatan dikenal sebagai daerah yang kaya sumber daya alam. Namun ukuran keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya dilihat dari nilai investasi atau angka pertumbuhan ekonomi. Pertanyaan yang lebih penting adalah sejauh mana manfaat pembangunan tersebut dirasakan secara merata oleh masyarakat. Keadilan ekonomi tetap menjadi agenda yang harus diperjuangkan melalui pekerjaan yang layak, perlindungan sosial yang memadai, dan kesempatan yang setara bagi seluruh warga.
Di sisi lain, peringatan Reformasi mengajak kita meninjau kembali kualitas demokrasi yang telah dibangun selama hampir tiga dekade terakhir. Reformasi membawa ruang kebebasan yang lebih luas bagi masyarakat sipil, organisasi kemasyarakatan, komunitas anak muda, dan berbagai kelompok yang ingin terlibat dalam kehidupan publik.
Namun demokrasi tidak hanya diukur dari kebebasan menyampaikan pendapat. Demokrasi juga ditentukan oleh kemampuan pemerintah dan institusi publik untuk mendengar, merespons, dan melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan. Ketika aspirasi warga memperoleh ruang yang memadai, kepercayaan publik terhadap pembangunan akan tumbuh lebih kuat.
Persoalan lingkungan hidup juga menjadi isu yang tidak bisa dipisahkan dari masa depan Banua. Sungai dan hutan bukan sekadar sumber daya ekonomi, melainkan bagian dari identitas masyarakat Kalimantan Selatan. Perubahan bentang alam yang berlangsung dalam beberapa dekade terakhir telah menghadirkan berbagai konsekuensi ekologis, mulai dari banjir, penurunan kualitas lingkungan, hingga ancaman terhadap keanekaragaman hayati.
Karena itu, pembangunan dan pelestarian lingkungan tidak boleh ditempatkan sebagai dua pilihan yang saling bertentangan. Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan menemukan titik keseimbangan agar pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan perlindungan terhadap daya dukung alam. Generasi mendatang berhak mewarisi lingkungan yang tetap mampu menopang kehidupan mereka.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, muncul alasan untuk tetap optimistis. Di banyak daerah, generasi muda semakin aktif membangun komunitas, menghidupkan ruang diskusi, mengembangkan kegiatan seni dan budaya, serta terlibat dalam berbagai gerakan sosial dan lingkungan. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa kesadaran kritis masyarakat masih tumbuh dan menjadi modal penting bagi masa depan daerah.
Pada akhirnya, pelajaran terpenting dari seluruh momentum sepanjang Mei adalah pentingnya mendengarkan. Mendengarkan guru yang berbicara tentang pendidikan, buruh yang menuntut keadilan, petani dan nelayan yang menghadapi perubahan lingkungan, serta anak-anak muda yang menawarkan gagasan tentang masa depan.
Masa depan Kalimantan Selatan tidak ditentukan oleh satu kebijakan atau satu peristiwa. Masa depan itu dibangun melalui kemampuan seluruh elemen masyarakat menjaga dialog tentang pendidikan, kesejahteraan, demokrasi, dan lingkungan hidup secara berkelanjutan. Banua saat ini berada pada persimpangan penting antara peluang pertumbuhan ekonomi dan tantangan sosial-ekologis yang semakin kompleks.
Pertanyaannya sederhana: apakah Kalimantan Selatan hanya akan dikenal sebagai daerah kaya sumber daya alam, atau mampu menjadi daerah yang mengubah kekayaan tersebut menjadi kesejahteraan yang adil, pendidikan yang berkualitas, lingkungan yang lestari, dan kehidupan yang bermartabat bagi seluruh warganya? Jawabannya sedang ditulis bersama oleh masyarakat hari ini. Dan selama ruang untuk mendengar serta berdialog tetap terjaga, harapan bagi Banua akan terus menyala. (*)
Editor : Arief