Oleh: Robensjah Sjachran
Akademisi Hukum Perdata & Emeritus Notaris
Dua setengah ribu tahun lalu, kapal-kapal perang kayu Athena berlayar di Laut Aegea dan menumbuhkan kecemasan di Sparta. Hari ini, kapal induk, kecerdasan buatan, dan chip semikonduktor mengulang cerita yang hampir sama di panggung global antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Teknologi berubah, tetapi rasa takut manusia tampaknya tetap sama: takut kalah, takut tersaingi, dan takut kehilangan dominasi. Bahayanya, ketakutan itu melahirkan kebijakan agresif, terbukti nanti akhirnya terjadi konflik mematikan antara aliansi maritim dan aliansi darat.
Athena dan Sparta adalah dua negara-kota (polis) terbesar dan paling berpengaruh pada peradaban Yunani Kuno. Meskipun berasal dari satu kultur dan tradisi, keduanya memiliki sistem politik, nilai sosial, dan gaya hidup yang sangat bertolak belakang. Bangsa Sparta adalah orang-orang yang gila perang dan suka menaklukan daerah-daerah di sekitarnya. Masyarakatnya terbentuk karena kedisiplinan brutal dan kehebatan militernya berfokus penuh pada pembentukan prajurit tangguh, sementara Athena berpusat kepada pengembangan intelektual warganya, pelopor demokrasi langsung, dan sangat menjunjung tinggi seni, filsafat, dan debat.
Sejarawan dan jenderal Yunani kuno, Thucydides (baca:Thukidides) mencatat bahwa kebangkitan Athena dan ketakutan Sparta terhadapnya membuat perang menjadi hampir tak terhindarkan. Dari sinilah lahir istilah Thucydides Trap (Perangkap Thucydides), yang kemudian dipopulerkan ilmuwan politik Graham Allison dalam bukunya Destined for War: Can America and China Escape Thucydides’s Trap? untuk membaca hubungan modern antara United States sebagai kekuatan lama (ruling power) dan China sebagai kekuatan baru (rising power) yang sedang bangkit.
Allison mempopulerkan istilah ini, yang menggambarkan situasi ketika kekuatan yang sedang bangkit mengancam akan menggeser penguasa yang eksis. Dalam geopolitik, rasa takut sering lebih berbahaya daripada kebencian. Ketika sebuah kekuatan lama merasa posisinya terancam, ia cenderung memperketat pengaruh, membangun aliansi, dan membatasi lawan. Sebaliknya, kekuatan baru merasa kebangkitannya sah dan menuntut pengakuan. Dari sinilah spiral rivalitas muncul dan mulai bergerak dalam perselisihan yang terus meningkat, meluas, dan merusak seiring berjalannya waktu. Terbukti pada Athena dan Sparta yang pada akhirnya memuncak menjadi konflik militer terbuka di masa Yunani kuno, Perang Peloponnesos (431–404 SM).
Allison menganalisis 16 kasus dalam 500 tahun terakhir di mana kekuatan yang bangkit menantang kekuatan penguasa, dan menemukan bahwa 12 dari kasus tersebut berakhir dengan perang. Pada kondisi saat ini: Dia berpendapat bahwa AS dan Tiongkok "berada dalam jalur tabrakan menuju perang" jika perilaku keduanya tidak diubah. Namun, Allison menekankan bahwa perang tidak tak terhindarkan. Solusinya ? Allison menyarankan agar kedua negara belajar dari sejarah, menggunakan diplomasi yang intensif, serta melakukan langkah-langkah "menyakitkan" (kompromi) untuk menghindari bencana.
Dalam banyak kesempatan, Xi Jinping mencoba meredakan ketegangan itu. Saat menyambut Presiden AS Donald Trump di Beijing, China, pada hari Kamis, 14 Mei 2026 Xi menyampaikan kepada Trump dalam pidatonya untuk menekankan kerjasama ekonomi dan politik: “AS agar tidak membiarkan rasa takut terhadap kebangkitan Tiongkok memicu konflik yang merugikan kedua belah pihak (Perangkap Thucydides)”.
Kepada Donald Trump, Xi juga menyampaikan ajakan Tiongkok untuk beralih dari persaingan zero-sum (saling menjatuhkan) menuju kerja sama positif-sum, “We should be partners, not rivals”, katanya. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung pesan geopolitik yang sangat dalam. Xi seolah ingin berkata: jangan biarkan ketakutan menciptakan perang yang sebenarnya bisa dihindari.
Namun sejarah menunjukkan, dunia sering sulit keluar dari jebakan semacam itu. Kekuatan lama biasanya tidak rela kehilangan posisi puncaknya. Sebaliknya, kekuatan baru merasa berhak memperoleh pengakuan atas kebangkitannya. Dari sinilah lahir kecemasan geopolitik. Dalam dunia unipolar pasca-Perang Dingin, Amerika Serikat terbiasa menjadi pusat gravitasi dunia. Tetapi kebangkitan ekonomi, teknologi, dan militer Tiongkok perlahan mengubah keseimbangan itu menuju dunia yang lebih multipolar.
Yang menarik, persaingan modern tidak lagi semata tentang senjata. Jika dahulu perebutan terjadi di lautan dan koloni, kini pertarungan berlangsung melalui teknologi, data, energi, rantai pasok, dan chip semikonduktor. Siapa menguasai teknologi, mungkin akan menguasai masa depan. Karena itu, perang dagang, pembatasan teknologi, hingga perebutan pengaruh di Indo-Pasifik sesungguhnya adalah bentuk baru dari kecemasan lama.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: apakah manusia memang selalu gagal hidup berdampingan ketika kekuatan mulai berubah? Apakah setiap kebangkitan baru harus diikuti konflik dengan kekuatan lama? Jika iya, maka sejarah hanya akan menjadi lingkaran ketakutan yang terus berulang.
Mungkin inilah tantangan terbesar abad ini: bagaimana dunia mengelola transisi kekuatan tanpa terjerumus ke dalam paranoia geopolitik. Sebab perang besar sering tidak lahir dari kebencian semata, melainkan dari rasa takut kehilangan posisi. Dan ketika rasa takut itu bertemu ambisi, sejarah biasanya mulai menulis tragedinya sendiri.
Sebelum terlambat, Amerika Serikat dan Tiongkok harus belajar dari puing-puing peradaban Yunani Kuno. Menjadi mitra (partners) bukan berarti harus selalu sepaham, melainkan memiliki kedewasaan untuk berkompetisi tanpa harus saling membinasakan. Pada akhirnya, kedua raksasa ini harus memilih: menjadi arsitek perdamaian baru yang memutus kutukan masa lalu, atau menjadi martir berikutnya dari lingkaran ketakutan yang sama. (*)
Editor : Arief