Oleh: Randu Alamsyah
Novelis yang juga penulis biografi tokoh-tokoh.
LEWAT setahun lebih setelah pelantikannya pada 20 Februari 2025, Haji Muhidin menghimpun banyak kontroversi lebih daripada dua periode masa jabatan pendahulunya--Sahbirin Noor. Belum menghitung berbagai konten dari akun-akun media sosial anonim yang akhir-akhir ini berusaha mengekspos kekurangan dari orang-orangnya.
Bagi yang tak mengenali Haji Muhidin, mungkin mengira sang gubernur sudah terhuyung-huyung dan limbung dengan serangan yang, baik langsung tak langsung, mengarah kepadanya. Di dunia di mana tak melakukan klarifikasi bisa dianggap salah, atau bahkan lemah, orang-orang menunggu tanggapan haji Muhidin dalam gairah menanti slip-tongue apa yang bakal terjadi.
Ekspektasinya terlalu besar. Sebagai orang yang pernah menjadi wartawan di masa-masa Haji Muhidin menjadi walikota Banjarmasin pada 2010 silam, tak aneh untuk menebak bahwa Haji Muhidin akan membiarkan berbagai kontroversi ini, membeli waktu, atau mungkin membelokkannya sekalian dengan gaya dan bahasanya yang khas.
jika Anda ingat komentarnya terhadap Purbaya dan Banjir Kalsel--Anda akan tahu tak banyak hal di dunia ini yang membuat haji Muhidin tak bisa menemukan sisi humornya.
Saat kalah dari Sahbirin Noor dengan persentase yang bisa membuat seorang politisi kehilangan akalnya, Haji Muhidin bahkan dengan tertawa menyebut dirinya sendiri sebagai gubernur quick count. Betapapun susahnya saat itu, karena menurutnya "Walaupun kalah, saya dan tim harus selalu tersenyum karena kaya apa pang sudah terlanjur menggunakan tagline Murah Senyum."
Anda tak bisa mengalahkan politisi semacam ini. Politisi yang tak pernah tegang dan gegas dengan dinamika politik modern yang penuh stigma, norma, dan penghakiman. Lahir dari rahim budaya politik tradisional Haji Muhidin memiliki semacam kekebalan khas politisi teflon: dia hampir selalu tak membuat kontroversi melengket atau merusak kebijakan maupun pandangannya.
Dia seperti anggota di grup Whatsapp Anda yang bagaimanapun gentingnya pembahasan selalu berhasil menemukan stiker lucu yang tepat untuk membuat kita tertawa.
Terserah bagi Haji Muhidin jika dia ingin punya karakter sendiri, namun pertanyaan serius yang relevan menunggu untuk dijawab adalah: Apakah gaya pak haji seperti itu baik untuk masyarakat Kalsel? Apakah sebanding dengan performanya?
Terus terang, saya tidak punya jawabannya. Saya tak mengamati sepenuhnya. Data dan fakta mungkin bisa menjawab dengan baik: Pertumbuhan ekonomi Kalsel pada Triwulan II-2025 mencatatkan angka 5,39 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di 5,12 persen.
Inflasi tercatat minus 0,16 persen bulan per bulan atau hanya 2,68 persen pertahun, lebih rendah dibanding inflasi nasional, menunjukkan kestabilan harga di Kalsel.
Jika Anda percaya pada kredibilitas Tempo, Haji Muhidin juga terpilih menjadi satu-satunya kepala daerah di luar Pulau Jawa yang masuk lima besar nasional dengan kinerja tinggi dalam penyelenggaraan daerah. Administrasi haji Muhidin dinilai top dalam berbagai kategori, termasuk penurunan pengangguran, pengendalian inflasi, hingga inovasi pembiayaan daerah.
Dalam survei gubernur terbaik 2026, Haji Muhidin juga tak jelek-jelek amat. Dia memang tak berada di lima teratas yang biasanya diisi oleh gubernur-gubernur populer seperti Sherly Tjoanda dan Dedy Mulyadi, namun Haji Muhidin masih jauh dari peringkat gubernur dengan kinerja terburuk.
Jika ada yang bisa dikritik, mungkin hanya pada kualitas komunikasi personalnya. Saya berasumsi bahwa mungkin saja Haji Muhidin sangat pelit bicara akhir-akhir ini karena dia sadar bahwa ketika dia bicara, publik akan menanggapi jokes-jokesnya dengan serius.
Mis-interpretasi atas keajaiban bahasa haji Muhidin beberapa kali membuatnya kerepotan. Orang banjar mungkin paham dengan konteks kelucuan saat dia mengatakan "Intinya banyaki acara haja buhannya ai" --tapi bagi banyak orang di luar Banjar yang tidak mengerti letak kejenakaan barucauan Banjar, ini menjadi respons yang kurang sensitif.
Celakanya, dengan kemajuan media sosial, kadang orang luar Banjar bisa mendikte narasi publik dan politik banua, memanfaatkan kemampuan Instagram untuk meresonansi secara emosional--dan kita langsung terbawa-- sepenuhnya, tak mengindahkan maksim populer tentang "all politics is always local."
Di kesemuanya, tidak dapat disangkal bahwa jalan di depan Haji Muhidin masih sangat panjang. Dalam setahun terakhir, publik Kalsel mungkin masih beradaptasi dengan gaya koboi Pak Haji. Saya tidak yakin bahwa beliau mungkin akan mengubah gaya komunikasinya.
Mungkin juga tak perlu. Sepanjang dia bisa membuktikan pencapaian-pencapaian yang lebih banyak dan lebih gemilang lagi dari sekarang-- saya secara pribadi tak akan keberatan menerima celetukan sereceh apapun yang mungkin bakal dilontarkannya.
Banyaki tetawa aja, Ji. (*)
Editor : Arief