Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Gen Z Siap Memimpin Perubahan (Refleksi Harkitnas 2026)

admin • Senin, 25 Mei 2026 | 21:43 WIB
Bihman Rio Pratama, SAg
Bihman Rio Pratama, SAg

Oleh: Bihman Rio Pratama, SAg
Guru di MTsN 3 Tanah Bumbu
 

                Setiap tanggal 20  Mei kita  rakyat dan bangsa Indonesia selalu mengenang sebuah tonggak perjuangan bangsa yang tiada pernah terlupakan. Sebuah  peristiwa  sejarah perjuangan bangsa  sebagai titik awal diletakkan fondasi  nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa dalam menghadapi penindasan  dan penjajahan. Itulah momentum Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas).

Tanggal  20 Mei  1908   tidak hanya menandai lahirnya sebuah Organisasi Boedi Oetomo oleh Dr. Soetomo dan rekan-rekannya, tetapi juga menjadi pengingat pentingnya kesadaran kolektif bahwa pendidikan, persatuan, dan semangat perubahan adalah fondasi untuk membangun masa depan  bangsa.

Akan tetapi  sejalan dengan berlalunya waktu dari  masa kemasa, kiranya makna kebangkitan  nasional ini sering kali meredup di balik formalitas peringatan sehingga kemudian memunculkan pertanyaan  apakah semangat kebangkitan itu masih hidup dalam keseharian kita sebagai warga negara Indonesia ? Ataukah kita sudah  terlena  dengan rutinitas dan simbol-simbol  kenegaraan yang kehilangan rohnya ? Kondisi  ini semakin terasa di kalangan generasi muda Indonesia, khususnya Generasi Z ( Gen Z ).

Saat ini, kita dihadapkan pada perubahan  dunia yang telah  menjadi ruang kompetisi yang sangat kompleks. Digitalisasi, tekanan sosial, ketimpangan ekonomi, dan percepatan gaya hidup membentuk lanskap baru yang menuntut ketahanan mental dan kemampuan adaptasi yang tinggi. Secara eksplesit ini tentu akan berdampak  pada tumbuhkembangnya nilai-nilai nasionalisme dan nilai persatuan di kalangan  generasi  muda yang  notabenenya adalah pewaris estapet perjuangan  bangsa.

Kita tidak  memungkiri dunia saat ini bergerak dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di tengah arus disrupsi teknologi, krisis iklim, dan dinamika sosial yang kompleks, Generasi Z (Gen Z) muncul sebagai aktor utama yang tidak hanya harus beradaptasi, tetapi juga memimpin. sebagai "tunas bangsa", menciptakan  masa depan peradaban yang kini berada di pundak mereka.

Generasi Z, yang lahir dan tumbuh di tengah era digital, membawa karakteristik yang unik. Mereka melek teknologi, adaptif, dan berpikir cepat. Akses terhadap ilmu pengetahuan dan peluang global terbuka begitu luas bagi mereka. Namun di sisi lain, mereka juga menghadapi tekanan tersendiri: kelelahan mental, overload informasi, dan beban ekspektasi yang kadang membingungkan arah hidup. Apabila  hal ini tidak diperhatikan tentu akan menjadi bumerang bagi kehidupan mereka dan juga masa depan bangsa.

Dalam proses pencarian jati diri dan posisi di masyarakat  sering  muncul berbagai ekspresi yang kadang dianggap berlebihan  ( serba ingin cepat). Akan tetapi  di balik dinamika itu,  sesungguhnya terdapat sebuah  profil generasi yang tengah berjuang untuk menemukan keseimbangan antara potensi dan realitas. Memang mereka tidak terlepas dari kritikan, tapi mereka juga memerlukan ruang untuk belajar dan berkembang.

Dari perkembangan pesatnya  budaya sosial media, tentu semakin sering kita melihat perbincangan di ruang publik, baik di media sosial maupun akademik  munculnya pertentangan kesenjangan tidak saja dalam bidang ekonomi, tetapi juga akses terhadap pendidikan, informasi, dan kesempatan. Berangkat dari sekedar sindiran Internet, fenomena tersebut kian berevolusi menjadi stratifikasi sosial yang dapat mempengaruhi persepsi dan psikis masyarakat.

Kondisi tersebut semakin diperparah dengan sikap skeptis terhadap produk lokal, kurangnya apresiasi terhadap potensi dalam negeri,  dan adanya kecenderungan mengukur nilai hanya melihat tampilan luar saja. Situasi ini menunjukkan bahwa kita masih menghadapi tantangan dalam membangun rasa percaya, baik antarindividu, antargenerasi, maupun antara masyarakat dengan institusi.

Tantangan Multidimensi di Era Modern

Indonesia, negara yang kaya dengan sumber daya. Kekayaan alam, keragaman budaya, dan kekuatan solidaritas sosial adalah modal besar yang tidak dimiliki oleh semua negara di dunia . Akan tetapi yang sangat  kita perlukan pada saat ini adalah kesadaran kolektif untuk menjaga dan mengelola kekayaan tersebut demi generasi mendatang. 

Generasi muda hari ini, terutama Gen Z, adalah generasi yang dibentuk oleh zaman yang serba cepat dan kompleks. Namun justru karena itu, mereka memiliki daya imajinasi dan kreativitas yang bisa menjadi arsitek perubahan negara. Mereka memahami tren global, punya kepekaan sosial, dan yang paling penting mereka membawa identitas yang otentik, yang tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh mesin.

Walaupun terdapat berbagai rintangan dari berbagai sudut, justru disinilah narasi kebangkitan dapat diperkuat: bahwa manusia, dengan empati, nilai, dan kreativitas nya, tetap menjadi pusat dari perubahan. Multimedia yang canggih bisa menjadi alat yang mempercepat kemajuan, jika dimaknai dan dikelola secara bijaksana.

Pergerakan Boedi Oetomo tidak menciptakan kemerdekaan dalam waktu singkat, namun melalui perjalanan  yang panjang dan berliku. Pergerakan ini memantik munculnya kesadaran dan  menyalakan percikan perubahan yang terus menyala hingga hari ini. Maka semangat kebangkitan bukanlah milik masa lalu, tetapi tugas lintas generasi. Kebangkitan bukanlah suatu peristiwa, melainkan proses yang terus berjalan. Berbanding terbalik dengan revolusi yang spontanitas terjadi perubahan.

Era transisi kepemimpinan ini bukanlah jalan tol tanpa hambatan. Di balik penguasaan teknologi, Gen Z dihadapkan pada berbagai tantangan baru. Mulai dari tekanan kesehatan mental akibat paparan media sosial, ketidakpastian ekonomi global, hingga tuntutan untuk selalu tampil sempurna. Selain itu, mereka juga harus menghadapi stigma negatif yang sering kali melabeli mereka sebagai generasi instan yang rapuh. Kondisi ini tentu  memerlukan  rehabilitasi  sempurna dari  berbagai pihak untuk memunculkan  generasi  yang unggul

Generasi Z  memiliki potensi besar yang sangat luar  biasa untuk mengubah tantangan menjadi inovasi. Ada beberapa langkah strategis yang dapat diterapkan untuk menghasilkan  satu generasi  yang mumpuni dan siap menghadapi tantangan. Strategi tersebut  meliputi: Pertama menumbuhkan kepemimpinan dengan Empati dan Keterbukaan: Berbekal kesadaran sosial yang tinggi, Gen Z mampu menjadi pemimpin yang otentik dan peduli. Mereka dapat membangun lingkungan yang memprioritaskan kesejahteraan bersama.

Untuk menempa calon-calon pemimpin yang cakap dan terampil  tentu perlu adanya regenerasi dengan melibatkan secara aktif kaum muda dalam ruang-ruang diskusi dan kepemimpinan saat ini sebagai  hal  yang  terpenting,  baik dalam skala lingkungan terkecil seperti komunitas masyarakat, hingga skala nasional, tunas bangsa harus diberi ruang untuk bersuara dan mengeksekusi ide-ide brilian mereka.

Kedua menggali transformasi digital yang berkelanjutan: Kemampuan adaptasi teknologi yang mereka miliki  tentu akan menjadi   kunci dalam mendorong efisiensi di berbagai sektor, baik itu ekonomi kreatif, lingkungan hidup, maupun pemerintahan sehingga akan tercipta sebuah etos kerja  yang efisien, berimbang dan terkontrol yang terpenting lagi  terciptanya suatu siklus masyarakat  yang  bertanggung jawab terhadap eksistensi negaranya dengan tetap menjaga persatuan , kesatuan dan integrasi nasional.

Membangun Ketahanan Mental (Resilience): Untuk memimpin perubahan, Gen Z perlu memperkuat mental mereka agar tidak mudah menyerah pada kegagalan dan mampu bangkit dari tekanan. Apa jadinya suatu bangsa kalau generasinya begitu  lemah tentu sangat riskan dan membahayakan   bagi kelangsungan eksistensi negara tersebut.

Generasi  Z  merupakan katalis utama yang sangat diperlukan untuk membawa Indonesia menuju visi masa depan yang tangguh, adil, dan makmur. Tantangan boleh saja baru, tetapi potensi, keberanian, dan idealisme yang dimiliki generasi ini adalah energi utama yang akan memimpin perubahan. Saatnya bagi tunas bangsa untuk mengambil alih kemudi. Selamat Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke- 112 Tahun 2026. (*) 

 

Editor : Arief
#Opini #pemuda