Oleh : Nor Hasanah, S.Ag, m.I.Kom.
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin
Moment 17 Mei kembali hadir sebagai pengingat penting tentang hubungan antara buku dan masa depan bangsa. Tahun ini, Hari Buku Nasional bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-46 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang mengusung tema “Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa”. Tema tersebut sesungguhnya bukan sekadar slogan seremonial, melainkan peringatan kultural yang sangat relevan dengan situasi Indonesia hari ini. Di tengah arus digital yang bergerak tanpa jeda, bangsa ini sedang menghadapi ancaman yang sering tidak disadari: menjauh dari buku dan perlahan kehilangan kedalaman peradaban.
Kita hidup di zaman ketika informasi melimpah ruah. Dalam hitungan detik, manusia dapat mengetahui apa pun melalui layar di genggaman tangan. Namun ironi terbesar abad ini adalah semakin mudahnya memperoleh informasi tidak selalu membuat manusia semakin berpengetahuan. Sebaliknya, banjir informasi justru sering menghasilkan kelelahan berpikir. Orang mengetahui banyak hal secara cepat, tetapi sedikit yang benar-benar dipahami secara mendalam.
Di sinilah buku memiliki makna yang tidak tergantikan. Buku bukan sekadar tumpukan kertas berisi tulisan. Ia adalah ruang dialog antargenerasi, tempat gagasan besar dirawat melampaui zaman. Peradaban besar dunia lahir dari tradisi membaca dan menulis yang kuat. Dari buku-buku, manusia belajar tentang sejarah, moralitas, ilmu pengetahuan, hingga cara memahami dirinya sendiri.
Karena itu, ketika budaya membaca melemah, yang terancam bukan hanya kebiasaan intelektual, tetapi juga kualitas peradaban. Bangsa yang menjauh dari buku akan semakin mudah terjebak dalam budaya instan. Pengetahuan dipersempit menjadi potongan-potongan konten singkat. Pemikiran kritis digantikan reaksi spontan. Ruang refleksi kalah oleh kecepatan algoritma.
Fenomena ini tampak nyata dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang lebih tertarik membaca komentar media sosial daripada membaca buku utuh. Percakapan publik lebih sering dipenuhi sensasi dibanding argumentasi. Bahkan dalam dunia pendidikan, tidak sedikit pelajar yang lebih mengandalkan ringkasan instan ketimbang proses membaca yang sesungguhnya. Akibatnya, kemampuan memahami persoalan secara mendalam semakin menurun.
Padahal membaca adalah latihan kesabaran berpikir. Buku mengajarkan manusia untuk tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Ia melatih daya analisis, memperluas perspektif, sekaligus membangun empati. Ketika seseorang membaca, ia sebenarnya sedang belajar menjadi manusia yang lebih matang.
Krisis membaca yang terjadi saat ini sesungguhnya bukan hanya soal rendahnya minat baca, tetapi juga perubahan budaya. Kita sedang hidup dalam ekosistem digital yang dirancang untuk membuat manusia terus bergerak cepat. Video pendek, notifikasi tanpa henti, dan arus konten yang tidak pernah selesai membuat perhatian manusia semakin pendek. Dalam situasi seperti itu, membaca buku dianggap aktivitas yang melelahkan.
Generasi muda menjadi kelompok yang paling merasakan perubahan ini. Mereka tumbuh dalam dunia visual yang serba instan. Pengetahuan lebih sering dikonsumsi dalam bentuk potongan singkat yang mudah dilupakan. Akibatnya, kemampuan untuk fokus, merenung, dan membaca panjang perlahan terkikis. Padahal masa depan tidak hanya membutuhkan manusia yang cepat mengakses informasi, tetapi juga mampu memahami kompleksitas persoalan.
Inilah sebabnya mengapa tema “Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa” menjadi sangat penting. Merawat pustaka berarti menjaga kemampuan bangsa untuk berpikir mendalam. Sebab martabat bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau kemajuan teknologi, tetapi juga dari kualitas intelektual masyarakatnya.
Dalam sejarah dunia, perpustakaan selalu menjadi simbol peradaban. Ketika sebuah bangsa membangun perpustakaan, sesungguhnya ia sedang membangun ingatan kolektif. Ia sedang memastikan bahwa pengetahuan tidak hilang ditelan waktu. Karena itu, kehancuran perpustakaan dalam sejarah sering dipandang sebagai tragedi peradaban.
Namun tantangan perpustakaan hari ini tidak lagi sekadar soal koleksi buku. Tantangan utamanya adalah bagaimana membuat masyarakat kembali merasa dekat dengan pengetahuan. Perpustakaan harus berubah menjadi ruang yang hidup, terbuka, dan relevan dengan kebutuhan generasi sekarang. Ia perlu hadir bukan hanya sebagai tempat menyimpan buku, tetapi juga sebagai pusat literasi, kreativitas, dan dialog publik.
Di sisi lain, negara juga memiliki tanggung jawab besar. Buku masih belum sepenuhnya menjadi kebutuhan utama dalam banyak kebijakan pembangunan. Akses terhadap bacaan berkualitas masih timpang. Di beberapa daerah, perpustakaan sekolah bahkan masih menghadapi keterbatasan koleksi dan fasilitas. Padahal pemerataan literasi adalah fondasi penting bagi kemajuan bangsa.
Keluarga pun memiliki peran yang tidak kalah penting. Budaya membaca sesungguhnya lahir dari kebiasaan kecil di rumah. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan akrab buku cenderung memiliki rasa ingin tahu lebih tinggi. Sebaliknya, ketika rumah hanya dipenuhi layar tanpa ruang membaca, maka kedekatan dengan buku akan semakin sulit tumbuh.
Lebih jauh lagi, persoalan membaca bukan sekadar tentang kecerdasan individu, tetapi tentang arah masa depan bangsa. Bangsa yang tidak membaca akan mudah kehilangan daya kritis. Ia mudah dipengaruhi hoaks, propaganda, dan manipulasi informasi. Dalam era digital, kemampuan memilah informasi menjadi sangat penting, dan kemampuan itu hanya dapat dibangun melalui budaya literasi yang kuat.
Karena itu, Hari Buku Nasional tidak seharusnya berhenti pada seremoni tahunan. Ia harus menjadi momentum kebangkitan budaya membaca. Sekolah, kampus, perpustakaan, media, hingga ruang digital perlu bersama-sama membangun ekosistem yang membuat membaca kembali menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.
Pada akhirnya, merawat buku sesungguhnya adalah merawat masa depan. Buku menyimpan gagasan, pengalaman, dan nilai-nilai yang membentuk manusia. Ketika sebuah bangsa berhenti membaca, ia perlahan kehilangan kemampuan untuk memahami dirinya sendiri. Dan ketika bangsa kehilangan kemampuan itu, peradaban pun berada di ambang kemunduran.
Di tengah dunia yang semakin bising, mungkin membuka buku adalah tindakan sederhana yang justru paling revolusioner. Sebab dari halaman-halaman yang dibaca dengan sungguh-sungguh, lahir cara berpikir yang lebih jernih, manusia yang lebih bijak, dan bangsa yang lebih bermartabat.
Editor : Arief