Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Pendidikan; Paduan Belajar dan Bermain

admin • Senin, 18 Mei 2026 | 20:13 WIB
Teguh Pamungkas
Teguh Pamungkas

Oleh: Teguh Pamungkas
Penyuluh Keluarga Berencana Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN Kalimantan Selatan

Masa anak-anak merupakan masa-masa yang penuh dengan kebebasan. Bebas bergerak, bebas bermain, bebas berkreasi untuk mengasah ide dan potensi. Kebebasan dalam belajar dan bemain. Bukan hanya guru di sekolah, keberadaanya memerlukan peran orangtua dan masyarakat dalam mengarahkan eksistensi anak. Tak jarang minat dan bakat anak yang kurang tersalurkan membuat anak lekas bosan, ketika potensi anak masih perlu dipahami oleh orangtua.

Anak-anak diliputi rasa keingintahuan yang tinggi, kepenasaran yang membawa pada tumpuan kreativitas. Jika dipahami, rasa ingin tahu anak bermuara pada belajar dan bermain. Belajar yang mengasah otak dalam kecerdasan berpikirnya. Sedangkan sisi bermain anak mengarah pada mempraktekan kepenarasan tersebut pada suatu hal yang aplikatif.

Tersebar tempat belajar formal untuk anak-anak. Namun wahana belajar yang tidak mengikat, lebih mengembangkan pada kebebasan menyalurkan ide dan kreativitasnya dirasa masih kurang.

Pendampingan anak dan kehidupannya dalam upaya mencerdaskan anak meliputi dua sisi yang tak terpisahkan. Keberadaannya saling berkaitan pada pendidikan, yakni belajar dan bermain. Keduanya membutuhkan wadah untuk mewakili kebutuhan anak-anak. Seperti apakah tempat yang baik untuk menumbuhkan kedewasaan positif anak? Tentu saja sesuai dengan dunia anak-anak, yaitu belajar dan bermain.

Salah satu lokasi yang biasanya menjadi ajang belajar sekaligus bermain adalah taman bermain. Selain enjoy dengan permainan, juga untuk media pembelajaran bagi anak-anak. Taman bermain cukup menarik dan efektif mengajarkan kebersamaan dan sosial.

Selain itu, kegiatan membaca yang dibawakan dengan cara bermain merupakan hal yang penting. Rumah dan lingkungan bisa sebagai sarana belajar. Kemanfaatan tempat bermain, taman bacaan, tempat wisata edukasi merupakan zona yang tepat untuk mengasah kepekaan kecerdasan anak. Di mana kegiatan belajar di sekolah perlu ditunjang dengan kegiatan di lingkungan sosial.

Dari kegemaran membaca misalnya, kebiasaan anak untuk mempelajari terhadap sesuatu semakin penasaran. Sebagai anak yang berbakat, anak suka mencoba sesuatu yang baru, ingin melakukan suatu yang awalnya belum mengetahuinya, lalu coba-coba. Anak yang berbakat sering kali melakukan petualangan untuk memenuhi rasa ingin tahu. Mengubah apa-apa yang lazim menjadi sesuatu yang baru sama sekali dan bermanfaat. Hal inilah yang mendorong anak untuk melakukan aktivitas tertentu.

Sementara itu, bermain ke tempat wisata atau bermain bagi anak adalah pola belajar yang bersifat praksis. Di samping sebagai relaksasi dari belajar formal di sekolah, tempat wisata bagi anak pun pada prinsipnya tempat belajar juga. Biasanya wisata edukatif ditandai dengan adanya kunjungan-kunjungan ke tempat wisata sejarah, seperti museum atau monumen, wisata alam dan lingkungan atau petualangan, serta berbagai jenis wisata belajar lainnya.

Awalnya tempat bermain lebih sebagai tempat liburan, atau bersenang-senang untuk menghabiskan uang. Namun, kini seiring variatifnya tempat wisata atau bermain, mulai banyak tempat bermain atau wisata yang menjadikan lokasinya sekaligus tempat edukasi.

Bahwasanya anak merupakan buah hati yang berhak memperoleh pendidikan, siapa pun mereka. Tidak memandang status sosial, jenis kelamin maupun ekonomi. Tempat belajar pun demikian, tak hanya bersifat sekolah formal, tetapi para orangtua dan masyarakat dituntut mampu membuat serta mengarahkan anak untuk tetap belajar. Apalagi dunia gadget yang telah memasuki anak-anak.

Selain memperoleh pendidikan formal, anak berhak pula bermain dan hidup untuk berpartisipasi. Keterlibatannya ketika berada di sekolah dan masyarakat. Anak belajar hidup mengenal lingkungan dan bersosial, semuanya untuk menyalurkan potensinya.

Dalam menempa pendidikan, manusia tak bisa hidup seorang diri, termasuk juga anak-anak. Karena saat belajar dan bermain sama halnya ingin memiliki teman, bisa mengetahui lingkungan, bermain dan terlibat pada berbagai aktivitas. Yakni merasakan aman dan nyaman saat berpartisipasi di masyarakat. Pendidikan menjadi terganggu tatkala lingkungannya dirasa kurang mendukung, anak-anak sering kali menjadi was-was karena sesuatu hal bisa saja terjadi di luar kendali.

Secara komprehensif, kehadiran rasa aman bagi anak mesti diarasakan semua, karena aktivitas yang dilakukan anak melingkupi di berbagai tempat dan kegiatan. Memberikan keamanan pada anak bukan hanya tugas pendidik dan orangtua saja.

Mereka (anak-anak) yang tiada pendamping di rumah pun mendapatkan perilaku demikian, dapat belajar dan bermain dengan aman. Sehingga kita dapat mendampingi dan mengantarkan anak-anak untuk menggapai cita-citanya.

Dari mana pun anak dapat merasakan pendidikan. Dengan melibatkan anak pada situasi bermain dan belajar, maka anak lebih dapat mengenal lebih dekat pada kehidupan sosial serta bisa mengeksplorasi ide dan kreativitasnya hingga tak terbatas.

Sebagai penutup tulisan, menurut tokoh pemikir, Buya Hamka, menekankan bahwa pendidikan Islam merupakan integrasi aspek spiritual dan moral, karena untuk membentuk kepribadian dan akhlak yang baik. (*)

Editor : Arief
#Opini