Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Mengejar Kesejahteraan Psikologis Lansia

admin • Senin, 18 Mei 2026 | 20:11 WIB
Suryanto
Suryanto

Oleh: Suryanto
Guru Besar Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya

Hari Lansia Nasional seharusnya tidak hanya menjadi hari untuk memberi ucapan selamat kepada orang tua saja. Ia juga perlu menjadi waktu untuk menengok lebih dalam apakah para lansia kita benar-benar hidup sejahtera, atau baru sekadar bertahan hidup?

Secara nasional, Indonesia juga sudah memasuki era penduduk tua. Kementerian Kesehatan mencatat sekitar 12 persen atau 29 juta penduduk Indonesia merupakan lansia, dan proporsinya diprediksi meningkat hingga 20 persen pada 2045. Sementara itu untuk warga Banjarmasin berdasarkan Satu Data Disdukcapil  tahun 2024 menunjukkan penduduk berusia 60 tahun ke atas mencapai 69.920 jiwa. Rinciannya, usia 60–64 tahun sebanyak 27.737 jiwa, usia 65–69 tahun 19.327 jiwa, usia 70–74 tahun 11.661 jiwa, dan usia 75 tahun ke atas 11.195 jiwa.  

Angka itu tentunya bukan sekadar angka statistik. Di baliknya ada orang tua yang berjalan pelan di titian kampung. Ada yang duduk di teras rumah bantaran sungai. Ada yang masih berjualan kecil di pasar tradisional. Ada yang tinggal bersama anak-cucu, tetapi jarang diajak bicara. Ada pula yang hidup sendiri, menunggu tetangga menyapa, menunggu tubuh tetap kuat, menunggu hari berjalan tanpa rasa sepi.

Kita sering memahami kesejahteraan lansia sebatas bantuan sosial, pemeriksaan tekanan darah, obat, kursi roda, atau sembako. Semua itu penting. Namun kesejahteraan lansia tidak berhenti pada tubuh yang diberi makan dan penyakit yang diobati. Lansia juga membutuhkan rasa aman, rasa dihargai, rasa masih berguna, rasa didengar, dan rasa tidak ditinggalkan.

Inilah yang disebut kesejahteraan psikologis. Lansia yang sejahtera secara psikologis bukan berarti hidup tanpa penyakit. Ia mungkin punya darah tinggi, nyeri sendi, atau penglihatan yang menurun. Tetapi ia masih merasa hidupnya bermakna. Ia masih punya relasi sosial. Ia masih merasa pendapatnya dihargai. Ia masih memiliki tempat dalam keluarga dan masyarakat.

Dalam psikologi perkembangan, Elizabeth B. Hurlock menjelaskan bahwa masa lanjut usia memiliki tugas perkembangan yang khas. Lansia perlu menyesuaikan diri dengan menurunnya kekuatan fisik dan kesehatan. Mereka juga perlu menyesuaikan diri dengan masa pensiun, berkurangnya penghasilan, perubahan peran sosial, kehilangan pasangan atau teman sebaya, serta kebutuhan membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain.

Tugas perkembangan itu berat. Seorang ayah yang dulu menjadi tulang punggung keluarga, setelah pensiun bisa merasa kehilangan harga diri. Seorang ibu yang dulu sibuk mengurus anak-anak, setelah anak-anak dewasa bisa merasa tidak lagi dibutuhkan. Seorang kakek yang dulu aktif di masyarakat, ketika tubuhnya melemah bisa merasa hanya menjadi penonton kehidupan.

Masalah psikologis lansia sering tidak tampak. Mereka jarang berkata, “Saya kesepian.” Mereka mungkin hanya lebih banyak diam. Jarang keluar rumah. Mudah tersinggung. Sering mengulang cerita lama. Mengeluh sakit, tetapi setelah diperiksa tidak selalu ditemukan penyakit berat. Kadang yang sakit bukan hanya tubuhnya, tetapi perasaannya.

Di sinilah kita perlu bertanya: apakah penanganan lansia selama ini sudah memenuhi kebutuhan psikologis mereka?
Jawabannya mungkin sudah ada perhatian, tetapi belum cukup. Banjarmasin sebenarnya sudah memiliki landasan kebijakan. Perda Kota Banjarmasin Nomor 11 Tahun 2023 mengatur pemberdayaan dan perlindungan lanjut usia, termasuk pengembangan kawasan ramah lanjut usia. Ada pula layanan sosial dan kesehatan bagi lansia melalui puskesmas, posyandu lansia, bantuan sosial, serta program perlindungan lansia terlantar. Bahkan sebuah kajian tentang lansia terlantar di Banjarmasin mencatat jumlah lansia terlantar meningkat dari 162 orang pada 2022, menjadi 269 orang pada 2023, dan 358 orang pada 2024.

Namun program yang ada sering masih berpusat pada kebutuhan dasar. Lansia diperiksa kesehatannya, diberi bantuan, dicatat datanya, lalu selesai. Padahal kebutuhan psikologis mereka memerlukan pendampingan yang lebih dekat dan berkelanjutan. Tidak cukup hanya hadir saat acara. Tidak cukup hanya datang saat peringatan Hari Lansia Nasional. Lansia perlu dirawat dalam kehidupan sehari-hari.

Apa yang harus disiapkan?
Pertama, keluarga harus menjadi ruang psikologis yang aman. Anak dan cucu tidak cukup hanya memastikan orang tua makan dan minum obat. Mereka perlu menyediakan waktu untuk mendengar cerita, meminta pendapat, dan melibatkan lansia dalam keputusan keluarga. Bagi lansia, didengar adalah bentuk penghormatan. Dilibatkan adalah tanda bahwa dirinya masih berarti.

Kedua, posyandu lansia perlu diperkuat menjadi pusat deteksi kesejahteraan psikologis. Kader tidak hanya mengukur tekanan darah, gula darah, dan berat badan. Mereka juga perlu dilatih mengenali tanda kesepian, kecemasan, depresi, demensia, dan penelantaran. Pertanyaan sederhana seperti “Apakah pian sering merasa sendiri?” atau “Apakah pian masih sering bertemu keluarga dan tetangga?” bisa menjadi pintu masuk penting.

Ketiga, RT, kelurahan, masjid, langgar, majelis taklim, PKK, dan karang taruna perlu menjadi jejaring penjaga lansia. Setiap lingkungan sebaiknya memiliki peta sederhana: siapa lansia yang tinggal sendiri, siapa yang sakit, siapa yang tidak punya penghasilan, siapa yang jarang keluar rumah, dan siapa yang membutuhkan kunjungan rutin. Kesejahteraan psikologis lansia tidak mungkin hanya ditangani kantor pemerintah. Ia harus dirawat oleh komunitas.

Keempat, pemerintah kota perlu membuat layanan publik yang ramah lansia. Antrean di puskesmas, kantor kelurahan, rumah sakit, dan layanan administrasi perlu memiliki jalur prioritas. Ruang tunggu harus menyediakan tempat duduk yang layak. Petugas harus sabar menjelaskan prosedur, terutama ketika layanan semakin digital. Digitalisasi jangan sampai membuat lansia merasa tersisih.

Kelima, lansia perlu diberi ruang untuk tetap berdaya. Tidak semua lansia ingin diperlakukan sebagai orang lemah. Ada yang masih bisa mengajar mengaji, menjaga cucu, membuat kue, berkebun, bercerita tentang sejarah kampung, atau menjadi penasihat warga. Peran-peran kecil seperti ini penting bagi kesehatan psikologis mereka. Lansia yang merasa berguna biasanya lebih kuat menghadapi masa tua.

Pada akhirnya, mengejar kesejahteraan psikologis lansia adalah mengubah cara pandang. Lansia bukan beban pembangunan. Mereka adalah memori kota. Mereka pernah membangun keluarga, pasar, sekolah, rumah ibadah, kampung, dan Banjarmasin dengan tenaga mereka.

Hari ini, ketika langkah mereka mulai pelan, tugas kita adalah memastikan mereka tidak berjalan sendirian. Dengan peringatan Hari Lansia Nasional ini, kita menjadikan hari ini adalah pengingat bahwa kota yang baik bukan hanya kota yang sibuk membangun jalan, gedung, dan pusat ekonomi. Kota yang baik adalah kota yang tetap memberi tempat terhormat bagi orang tua. Dan Banjarmasin yang menjadi pionernya. (*)

Editor : Arief
#lansia