Oleh: M Ramli Arisno
Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin
Setiap musim haji, berita itu muncul lagi. Jemaah risiko tinggi. Risti. Di Kotabaru jumlahnya ratusan. Di Banjarmasin juga begitu. Ada yang harus rutin minum obat. Ada yang tensinya gampang naik. Ada yang jalannya sudah pelan bahkan sebelum sampai Tanah Suci.
Biasanya kita membaca berita semacam itu sambil lewat. Memaklumi saja, kalau yang berangkat memang kebanyakan sudah sepuh. Lalu halaman berganti. Obrolan pindah ke berita politik yang lebih seksi. Padahal kalau dipikir-pikir, mungkin seperti itulah wajah kita nanti.
Bayangkan anak muda umur 25 tahun. Baru mulai kerja. Gajinya memang pas-pasan, tapi niat hajinya serius. Sedikit demi sedikit ia sisihkan uang. Begitu cukup setoran awal, ia daftar. Rasanya lega. Seperti sudah setengah jalan menuju Mekkah.
Lalu petugas bilang antreannya sekitar 26 tahun. Mungkin ia masih santai mendengarnya. Umur 51 terasa jauh sekali. Padahal waktu itu sesuatu yang tidak terasa—tau-tau berlalu begitu saja. Tiba-tiba rambut mulai beruban. Pinggang mulai sering pegal. Teman nongkrong mulai bicara kolesterol dan gula darah. Grup WhatsApp lebih ramai kiriman obat herbal daripada jadwal futsal.
Anehnya, keadaan seperti itu sekarang dianggap biasa. Yang penting dapat porsi dulu. Sisanya urusan nanti.
Di situlah kadang kita lupa melihat hal yang sederhana. Orang mendaftar haji supaya bisa beribadah dalam keadaan siap. Fisik siap. Mental siap. Biaya siap. Tapi antrean yang terlalu panjang diam-diam mengubah semuanya.
Yang dulu kuat jalan kaki, nanti mungkin lebih sering mencari tempat duduk. Yang dulu sehat, mulai akrab dengan obat rutin. Bahkan ada yang baru berangkat justru ketika tubuhnya mulai banyak syarat. Ironis, memang.
Haji diwajibkan bagi yang mampu. Tapi banyak orang baru mendapat giliran saat rasa "mampu" itu mulai berkurang sedikit demi sedikit.
Tentu ini bukan salah satu pihak saja. Yang ingin berangkat memang terlalu banyak. Semua merasa terpanggil. Semua takut terlambat daftar. Sementara kuota tak pernah sesuai harapan. Akhirnya manusia seperti sedang berlomba dengan umurnya sendiri. Dan umur tidak pernah benar-benar bisa ditunggu.
Karena itu, berita jamaah risiko tinggi sebenarnya bukan cuma soal kesehatan jamaah. Itu cerita tentang orang-orang yang menghabiskan masa kuatnya di ruang antrean. Tentang harapan yang dijaga puluhan tahun, sampai badan sendiri pelan-pelan berubah.
Mungkin itu sebabnya banyak orang menangis saat sampai di Kakbah. Bukan hanya karena doanya terkabul. Tapi karena akhirnya mereka tiba, sebelum tubuhnya benar-benar menyerah. (*)
Editor : Arief