Penulis:
- Rika Agustinah (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi UNISKA MAB Banjarmasin)
- Khairunnisa (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi UNISKA MAB Banjarmasin)
- Dr. Rico, S.Pd., M.Ikom (Peneliti & Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UNISKA MAB Banjarmasin)
RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mengembangkan potensi diri manusia (sikap, pengetahuan, keterampilan) guna mencapai kedewasaan, kemandirian, dan kepribadian baik. Ini mencakup proses bimbingan, pengajaran, dan pelatihan baik formal (sekolah), nonformal, maupun informal sepanjang hayat. Pendidikan krusial untuk membangun karakter, meningkatkan kecerdasan, serta membentuk manusia unggul, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab.
Adapun fenomena yang terjadi di ranah Pendidikan di Indonesia ialah pemerataan pendidikan yang tidak merata antara wilayah kota dan pedesaan, minimnya akses jalan bagi anak untuk ke sekolah, bangunan sekolah yang kurang layak, serta alat belajar dan mengajar yang kurang memadai. Ini berbanding terbalik dengan Pendidikan yang bertepatan di wilayah perkotaan, dimana akses jalan bahkan akses bangunan yang terbilang sangat layak, serta bahan pengajaran yang memadai. Ini sangat menjadi perhatian kami sebagai penulis bawasanya pendidikan di Indonesia masih sangat tertingal terutama di wilayah pedesaan.
Tenaga pengajar merupakan salah satu pembentukan karakter anak di lingkungan sekolah dan seperti yang kita ketahui bahwa guru adalah sebagai pondasi utama dalam pendidikan. Banyak kasus kesenjangan dalam pendidikan masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia yaitu kesenjangan antar guru dan siswa di lingkungan kota dan desa.
Mirisnya hal ini membuat perbedaan yang sangat mencolok baik dari pembentukan karakter anak didik, cara mengajar serta melakukan kegiatan pembelajaran lainya.
Guru adalah ujung tombak pembentukan karakter anak di sekolah. Kualitas guru bahkan menjadi fondasi dari seluruh sistem pendidikan. Persoalannya, terjadi kesenjangan yang signifikan antara mutu guru di perkotaan dan perdesaan. Kesenjangan ini tidak berdiri sendiri, melainkan berjalan seiring dengan kesenjangan yang dialami siswa.
Dampaknya sangat nyata: terlihat perbedaan mencolok dalam pembentukan karakter anak didik, pendekatan dan metode mengajar yang digunakan, hingga akses terhadap kegiatan pembelajaran penunjang. Jika dibiarkan, kesenjangan guru akan terus melanggengkan ketimpangan hasil pendidikan antara desa dan kota.
Kesenjangan mutu tenaga pengajar tersebut tidak terjadi begitu saja. Terdapat beberapa faktor struktural yang menjadi pemicunya. Pertama, distribusi guru berkualitas cenderung menumpuk di perkotaan akibat akses fasilitas, tunjangan, dan jenjang karier yang lebih menjanjikan.
Kedua, minimnya program pelatihan berkelanjutan bagi guru di daerah menyebabkan metode mengajar menjadi monoton dan tidak adaptif terhadap perkembangan kurikulum. Ketiga, beban administrasi yang tinggi ditambah sarana prasarana sekolah yang terbatas membuat guru di perdesaan kesulitan mengembangkan inovasi pembelajaran. Ketiga faktor ini menciptakan lingkaran setan: guru enggan ke desa, kualitas mengajar stagnan, karakter siswa pun terdampak.
Untuk memutus lingkaran tersebut, diperlukan intervensi berbasis daya ungkit. Pertama, skema insentif dan ikatan dinas khusus perlu diperkuat agar guru-guru muda terbaik mau mengabdi di perdesaan dengan jaminan karier yang jelas. Kedua, digitalisasi pelatihan harus diperluas melalui platform microlearning yang bisa diakses via ponsel, sehingga guru desa tetap update metode ajar tanpa harus ke kota.
Ketiga, kolaborasi “Guru Penggerak Lintas Wilayah” antara sekolah kota dan desa dapat menjembatani transfer metode, modul, dan praktik baik secara rutin. Dengan menargetkan perubahan pada aktor kunci yaitu guru, maka kesenjangan karakter dan capaian belajar siswa antara desa dan kota dapat dipersempit secara sistematis.
Ahli filsuf Karl Max berpendapat bahwa sistem Pendidikan yang ada pada abad ke-19 hanya memengaruhi kesenjangan ekonomi, karena hanya anak-anak dari keluarga kaya yang dapat mengakses Pendidikan yang berkualitas.
Sementara itu, anak-anak dari keluarga miskin hanya mengakses Pendidikan terbatas. Karl Max percaya untuk mengatasi itu perlu dilakukan revolusi sosial yang dapat mengubah sistem ekonomi dan politik yang ada. Dengan demikian Pendidikan menjadi lebih adil dan berkualitas bagi semua lapisan masyarakat
Pada akhirnya kesenjangan tenaga pengajar bukan sekadar masalah statistik distribusi guru, melainkan persoalan keadilan pendidikan yang berdampak langsung pada pembentukan karakter dan masa depan anak bangsa.
Jika dibiarkan, jurang kualitas antara siswa desa dan kota akan terus melebar, melanggengkan siklus ketimpangan antar generasi. Oleh karena itu, penanganan kesenjangan guru harus ditempatkan sebagai prioritas kebijakan, bukan sekadar program tambahan. Tanpa guru yang berkualitas dan merata, maka cita-cita pendidikan karakter sebagaimana amanat UU Sisdiknas akan sulit terwujud.
“Kesenjangan Pendidikan antara desa – Kota itu bukan ibarat Gedung bagus tinggi dan Gedung yang reyot tetapi ini soal hak yang dirampas secara halus. Anak desa bukan bodoh tapi mereka di paksa bertarung tanpa senjata”
Editor : Arief