Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Konflik yang Merekat: Gerakan Boikot dalam Perspektif Lewis Coser dan Ibnu Khaldun

Arief • Senin, 11 Mei 2026 | 10:20 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Penulis :
- Nuarinda Panda Sari (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi UNISKA MAB Banjarmasin)
- Fenny R (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi UNISKA MAB Banjarmasin)
- Dr. Rico, S.Pd., M.Ikom (Peneliti & Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UNISKA MAB Banjarmasin)

RADARBANJARMASIN.JAWAPOS.COM, Sejak 2023 hingga kini, tagar #boikotprodukproisrael telah menjadi salah satu gerakan sosial paling masif yang pernah terbentuk dari linimasa Indonesia. Jutaan netizen dari berbagai latar belakang bergerak dalam satu arah yaitu menghukum merek-merek produk pro Israel lewat dompet mereka sendiri.

Bagi sebagian orang, ini hanyalah kegaduhan sesaat. Namun, jika kita lihat lebih jernih, gerakan ini menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam secara sosiologis, fenomena ini menjadi sebuah konflik yang alih-alih memecah tatanan sosial malah justru merekat.

Kita terbiasa memandang konflik sebagai sesuatu yang harus dihindari. Namun seorang sosiolog Amerika, Lewis Coser, dalam bukunya, menantang asumsi itu secara langsung. Bagi Coser, konflik bukan sekadar ancaman terhadap tatanan sosial, konflik juga bisa menjadi kekuatan yang membangun kembali.

Jauh sebelum Coser, pemikir Islam abad ke-14, Ibnu Khaldun, telah meletakkan fondasi yang serupa dalam Muqaddimah nya. Ia memperkenalkan konsep asabiyyah, semangat solidaritas kelompok yang lahir dari tekanan bersama. Menurut Ibnu Khaldun, kelompok yang menghadapi ancaman dari luar justru akan memperkuat ikatan internal mereka. Dua pemikir dari dua era dan dua tradisi berbeda ini bertemu pada satu kesimpulan yang sama, yaitu konflik.

Inilah yang persis terjadi pada gerakan boikot ini. Netizen yang sebelumnya terpencar menemukan titik temu moral yang sama. Mereka saling merekomendasikan produk lokal, membangun jaringan konsumsi alternatif, dan menciptakan identitas kolektif baru yaitu konsumen yang sadar politik.

Coser menyebut mekanisme ini sebagai penguatan batas kelompok. Konflik menciptakan garis antara kita dan mereka, dan dalam proses itu, kohesi internal mengeras. Ibnu Khaldun akan membacanya sebagai bangkitnya asabiyyah digital. Solidaritas yang melampaui batas suku, kelas, dan agama, disatukan oleh satu musuh bersama yang dipersepsikan secara moral.

Yang menarik, gerakan ini justru mempertemukan kelompok-kelompok yang selama ini tersekat menjadi berbagi satu tagar, satu rekomendasi, satu arah. Ini adalah konflik yang bekerja sebagai katalis persatuan, fungsi yang Coser tekankan dalam teorinya.

Krisis Gaza memantik emosi moral yang dalam di masyarakat Indonesia. Kemarahan itu nyata, dan ia butuh saluran. Gerakan boikot mengubah emosi yang membara menjadi tindakan yang terukur.

Masyarakat menjadi memilih dimana uang dibelanjakan, bukan kemana batu dilemparkan. Coser menyebut fungsi ini sebagai safety valve, katup pengaman yang menyalurkan ketegangan sosial sebelum ia meledak lebih destruktif.

Ibnu Khaldun pun akan mengenali pola ini. Dalam pemikirannya, asabiyyah yang tidak tersalurkan dapat berubah menjadi kekerasan dan disintegrasi. Sebaliknya, ketika energi kolektif itu diarahkan melalui gerakan yang terorganisir meski informal, ia menjadi kekuatan yang membangun. Boikot, dalam kerangka ini, adalah asabiyyah yang menemukan bentuknya yang paling sipil.

Tentu tidak semua konflik otomatis positif. Coser sendiri menegaskan bahwa fungsi konstruktif konflik hanya bisa bekerja jika dikelola dengan kematangan. Ibnu Khaldun pun mengingatkan bahwa asabiyyah yang berlebihan dan kehilangan arah moral justru bisa berbalik menjadi fanatisme yang merusak.

Risisko dalam gerakan boikot ini adalah misinformasi daftar produk yang beredar liar, tekanan sosial berlebihan terhadap mereka yang tidak ikut boikot, hingga tertutupnya ruang dialog yang sehat. Disinilah asabiyyah membutuhkan apa yang oleh Ibnu Khaldun sebut sebagai landasan etis, harus berakar pada nilai, bukan sekadar emosi massa.

Gerakan boikot netizen Indonesia bukan sekadar tren yang akan berlalu bersama pergantian tagar. Ia adalah cermin dari sesuatu yang lebih mendasar, bagaimana masyarakat merespons ketidakadilan yang dipersepsikan secara kolektif dan bagaimana konflik jika dikelola dengan bermartabat mampu memperkuat solidaritas, menjaga keseimbangan, dan menyatukan yang beragam.

Lewis Coser sudah menduga ini jauh sebelum era linimasa. Ibnu Khaldun bahkan lebih jauh lagi Yang berubah hanyalah panggungnya. Yang tetap adalah manusia, ketika menghadapi tekanan bersama, cenderung bersatu dan dari persatuan itu, kadang lahir sesuatu yang lebih besar dari sekadar gerakan boikot.

Maka mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan seberapa jauh boikot ini akan bertahan, tetapi seberapa dalam ia telah mengubah cara kita memahami diri sendiri sebagai masyarakat bahwa kita bukan sekadar konsumen, tetapi juga manusia yang masih punya hati nurani.

Editor : Arief
#Uniska MAB Banjarmasin #Opini