Oleh: Prof. Dr. Syaiful Bahri Djamarah, M. Ag
Guru Besar Dosen S2 PAI Pascasarjana UIN Antasari Banjarmasin
Dalam perjalanan pulang, Jumat siang (14/4), dari memberi kuliah mahasiswa S2 di Pascasarjana Kampus 1 UIN Antasari, saya melihat sebuah tulisan di Baliho Km.7 "Selamat Memperingati Hari Pendidikan Nasional." Tulisan itu menyegarkan ingatan saya, bahwa setiap 2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Kita berharap peringatan hari pendidikan nasional tahun ini tidak sekadar euforia belaka. Ada pesan ideologis-religius di dalamnya, bahwa pendidikan dilaksanakan demi mencerdaskan intelektual bangsa dan meneguhkan nilai nasionalisme dan agama dalam bingkai Pancasila. Tanpa mengesampingkan investasi kerja, investasi ideologis-religus lebih utama. Baik investasi kerja berbasis kecerdasan akal maupun investasi ideologis-religius berbasis Pancasila diharapkan tumbuh bersama membentuk kepribadian Pancasilais yang rahmatan lil’alamin demi masa depan.
Tema yang diusung, yaitu “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua,” tidak hanya sekadar adagium pelengkap dari ritualitas tahunan. Akan tetapi sebagai refleksi kritis, pemicu semangat memperbaiki mutu pendidikan yang menurut Darmaningtyas sedang rusak-rusakan. Karena pendidikan bermutu untuk semua, maka partisipasi semesta diperlukan jika potret pendidikan rusak-rusakan.
Dalam sebuah analogi, ketika pendidikan kita rusak-rusakan, maka pendidikan kita sedang sakit keras. Itu berarti pendidikan kita lumpuh, tidak memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan. Padahal menurut Nelson Mandela, pendidikan adalah senjata paling ampuh yang dapat digunakan untuk mengubah dunia.
Perkataan sang tokoh ini bukan sekadar retorika puitis, melainkan sebuah aksioma yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi utama perubahan berperadaban, sebagai investasi masa depan. Ini bukan sebuah adagium latah-latahan, tetapi sarat muatan epistemologis yang menuntut tanggung jawab moral untuk dibuktikan di altar akademis.
Di Indonesia, adagium pendidikan adalah investasi masa depan sering didengar. Namun, di tengah gempuran disrupsi teknologi, tingginya biaya kuliah, cukup banyaknya pengangguran terdidik, muncul pertanyaan kritis reflektif. Apakah bangku sekolah masih bisa dipercaya menjadi lahan yang subuh untuk berinvestasi? Jika masih bisa dipercaya, seperti apa investasi pendidikan itu? Apakah investasi pendidikan hanya berorientasi investasi kerja belaka atau investasi berorientasi ideologis-religius?
Pendidikan: Wajah Investasi Krisis Identitas
Secara tradisional, pendidikan sering dipandang sebagai kewajiban sosial atau bagian dari tahap perkembangan hidup. Namun, dari kacamata ekonomi, pendidikan bergeser menjadi investasi modal manusia. Oleh karena itu, demi investasi pendidikan, seseorang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya di masa sekarang untuk mendapatkan imbal hasil berupa keahlian, status sosial, dan kesejahteraan ekonomi di masa depan.
Akan tetapi, masalahnya adalah wajah "investasi" ini sedang mengalami krisis identitas. Ada kegamangan investasi. Kita dihadapkan pada paradoks pendidikan. Jumlah sarjana meningkat, namun angka pengangguran terdidik juga merangkak naik. UIN Antasari, misalnya, setiap tahun sedikitnya 1000 orang mewisuda sarjana. Belum lagi perguruan tinggi lainnya. Akibatnya, pendidikan berorientasi kerja diragukan. Hal ini memicu pertanyaan kritis, apakah alumni perguruan tinggi memang bermutu secara kualitas, bukan kuantitas, dan keilmuannya relevan dengan kebutuhan dunia kerja?
Kebablasan Membangun Investasi
Untuk membentuk sumber daya manusia berkualitas yang diharapkan sebagai investasi di masa depan tidak semudah membalik telapak tangan. Dunia pendidikan sering kali berhadapan dengan isu-isu krusial. Dari soal mismatch keterampilan, inflasi nilai gelar hingga kekeliruan orientasi pendidikan.
Pertama, Mismatch Keterampilan. Ketidaksesuaian keterampilan problem belum terurai. Dunia pendidikan sering kali bergerak seperti kura-kura, sementara dunia industri berlari seperti cheetah. Banyak institusi pendidikan yang masih terjebak mengajarkan teori belaka, sementara pasar kerja sudah menuntut penguasaan aplikatif, dan kemampuan berpikir kritis yang adaptif. Akibatnya, gelar yang diperoleh menjadi aset yang tidak likuid, sulit ditukarkan dengan peluang kerja yang layak.
Kedua, Inflasi nilai gelar. Dahulu, ijazah SMA sederajat adalah tiket menuju pekerjaan bergengsi. Kini, sarjana (S1) bahkan sering dianggap sebagai standar minimum hanya untuk posisi administratif. Fenomena ini menurunkan "nilai tukar" pendidikan. Seorang sarjana (S1) seharusnya menempati posisi penting sesuai latar belakang pendidikan.
Posisi problematik yang menurunkan nilai gelar itu tentu tidak mereka inginkan sehingga memaksa setiap individu untuk terus berinvestasi lebih tinggi (S2 hingga sertifikasi profesional) yang memakan biaya besar. Sayangnya, gelar sarjana magister pun tidak selalu menjanjikan untuk diterima di dunia kerja, apalagi dengan kualitas “karbitan.” Sarjana S1 boleh jadi mengalami kebablasan investasi jika terlena.
Ketiga, Kekeliruan orientasi Pendidikan. Dalam menempuh studi di PT (perguruan tinggi), ketika orientasi mengejar gelar lebih kuat daripada orientasi keilmuan, maka dunia pendidikan tanpa disadari kehilangan semangat akademis, kebablasan akademis merajalela, kegiatan literasi sirna, mengejar nilai menguat, mengejar ijazah tujuan utama, nalar kritis tumpul.
Ketika kuliah hanya untuk mengejar ijazah, nalar kritis cenderung tergradasi dan sikap mental keilmuan termarjinalkan. Sikap mental “tempe” ini justru tidak memberi ruang untuk bertumbuh dan berkembangnya nalar kritis. Padahal nalar kritis dengan dengan kualitas berpikir tingkat tinggi atau HOTS (High Order Thinking Skills) sangat diperlukan sebagai investasi pendidikan di masa depan.
Dalam banyak praktik pendidikan, menurut Syaifuddin Sabda, kekeliruan orientasi pendidikan semakin terukur di mana keberhasilan sering kali diukur melalui nilai ujian, ijazah, dan sertifikat. Padahal idealnya, pendidikan tidak terjebak pada pencapaian akademik-sertifikatif tetapi lebih peduli membangun karakter, menghidupkan nalar kritis, memberi ruang seluas-luasnya kreativitas berpikir sehingga potret investasi pendidikan terlihat jelas memotret masa depan.
Reorientasi Makna Investasi
Agar adagium pendidikan sebagai investasi tetap relevan, kita harus mengubah cara pandang dari pendidikan formal sentris menjadi pendidikan sepanjang hayat (life long education). Investasi masa depan tidak selalu berorientasi kerja tentang mengumpulkan lembar ijazah, tentang orientasi angka-angka, melainkan tentang investasi berorientasi ideologis-religus, yaitu membangun kapasitas sumber daya insani yang adaptasi dalam merespons dinamika jaman sepanjang hayat tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa yang berkarakter Pancasilais yang rahmatan lil’alamin.
Paradigma investasi pendidikan berorientasi kerja bukan harga mati. Paradigma investasi pendidikan berorientasi ideologis-religius tidak bisa ditawar-tawar. Pemikiran masyarakat tradisional perlu dicerahkan, bahwa seorang sarjana yang sudah bekerja tidak identik dengan pegawai negeri. Di sektor swasta juga ada masa depan. Apa pun pekerjaan yang digeluti, itulah investasi karena pendidikan demi masa depan.
Akhirul kalam. Jika masih percaya, mari berinvestasi dengan berpendidikan. Menjadikan pendidikan sebagai ladang investasi masa depan berarti membangun suasana kebatinan tentang sebuah adagium bahwa masa depan itu ditentukan hari ini, oleh kualitas pendidikan kita sekarang.
Investasi pendidikan berorientasi kerja dan ideologis-religius mungkin mahal, namun biaya dari kebodohan jauh lebih menghancurkan bagi masa depan sebuah bangsa. Selembar ijazah adalah investasi kerja. Keunggulan nalar kreatif dan ketinggian budi pekerti adalah investasi ideologis-religius. Di antara dua pilihan, investasi kerja atau investasi ideologis-religius? Kedua-duanya, itu lebih baik? Up-to you..!!! (*)
Editor : Arief