Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Bukan Anestesi Global, Ketika Perang Hadir di Kehidupan Sehari-hari

admin • Selasa, 28 April 2026 | 20:04 WIB
Arum Budiastuti, Ph.D
Arum Budiastuti, Ph.D

Oleh: Arum Budiastuti, Ph.D
Staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga.

Tulisan Mohammad Ayub Mirdad berjudul “Anestesi Global: Dunia yang Terbiasa Perang” pekan lalu (14/4) di rubrik ini menghadirkan kegelisahan moral yang penting. Di tengah rentetan konflik dari Ukraina hingga Gaza, ia menyoroti bagaimana perhatian publik sekadar datang dalam gelombang besar di awal perang. Perhatian publik perlahan surut ketika kekerasan justru terus berlangsung. Menurut Ayub Mirdad, “anestesi global” merujuk pada kondisi mati rasa terhadap penderitaan berulang. Metafora ini terasa puitis dan menggugah, namun sesungguhnya menyederhanakan sesuatu yang jauh lebih rumit dari sekadar matinya nurani.

Kita perlu berhati-hati ketika menilai bahwa masyarakat kehilangan empati hanya karena percakapan tentang konflik global kerap diterjemahkan menjadi pertanyaan domestik: apakah harga BBM akan naik, ongkos kirim melonjak, atau tiket pesawat makin mahal. kerap dibaca sebagai egoisme, ketika seseorang lebih peduli pada dompet dibanding nyawa manusia di negeri jauh. Padahal, justru di situlah letak persoalannya. Perang tidak akan berhenti di medan tempur. Perang terus bergerak melalui jalur pelayaran, rantai pasok, harga bahan bakar, dan inflasi pangan. Pada ranah domestik kelas menengah bawah, kenaikan seribu atau dua ribu rupiah perliter bukanlah isu remeh. Kenaikan harga berimbas pada harga bahan pokok, ongkos kerja, cicilan, dan ruang bernapas yang semakin sempit. Seorang Ibu yang cemas karena harga beras melonjak bukan tidak peduli pada ibu di Gaza. Ia justru sedang menanggung dalam diam segala konsekuensi dari keputusan geopolitik yang tidak pernah ia buat. Konflik internasional telah menyentuh kehidupan nyata seorang Ibu dalam setiap ruang geraknya.

Di era saling keterhubungan seperti sekarang, jarak geografis tidak selalu sama dengan jarak dampak. Selat Hormuz berjarak ribuan kilometer dari Indonesia, tetapi gangguannya sangat terasa di SPBU, pasar tradisional, hingga biaya logistik antarwilayah. Perang hadir bukan hanya lewat gambar reruntuhan di layar televisi dan media sosial. Perang hadir lewat tagihan listrik, harga telur, dan kecemasan urusan rumah tangga. Warga sipil di berbagai negara menjadi penonton sekaligus korban terdampak konflik global. Dan, fokus respons mereka pada area ekonomi domestik mencerminkan ketepatan yang sama. Ini bukan lagi soal ketidakpedulian, melainkan kepedulian yang dipaksa mengambil bentuk paling dekat dengan kelangsungan hidup.

Di sisi lain, menyebut dunia mati rasa juga berisiko mengabaikan kenyataan bahwa solidaritas publik masih terus hidup dan terus beradaptasi. Gerakan boikot produk terafiliasi Israel menyebar luas di Indonesia sepanjang 2023–2025 dan bahkan sampai sekarang. Konsumen yang secara aktif beralih merek dan mendokumentasikan pilihan mereka di media sosial adalah satu contoh konkret. Boikot tidak terjadi karena instruksi negara. Ia tumbuh dari kesadaran sipil bahwa konsumsi sehari-hari sejalan dengan sikap politik. Perhatian media memang bergerak cepat, tetapi bukan berarti nurani publik ikut lenyap. Masyarakat terbukti tetap peduli, hanya saja mereka hidup di tengah ritme krisis yang tak memberi jeda untuk terus berduka secara terbuka.

Saudara Ayub Mirdad mengakui bahwa masalah utama kita bukan kekurangan empati, melainkan keterbatasan kapasitas. Manusia modern dibanjiri perang, bencana iklim, krisis ekonomi, PHK, dan ketidakpastian politik secara bersamaan. Di lini masa seseorang, berita reruntuhan Gaza bisa hadir berdampingan dengan berita kecelakaan berulang dan kematian akibat jalan berlubang yang tak kunjung diperbaiki atau kabar kesialan pegiat hak asasi manusia. Dalam lanskap informasi seperti itu, seseorang yang menggeser layar dari video reruntuhan kota ke video kucing lucu bukan sedang mati rasa—ia sedang mencari jeda. Psikolog Charles Figley menyebut kondisi ini compassion fatigue: kelelahan emosional yang justru muncul karena seseorang terlalu banyak terpapar pada penderitaan nyata, bukan karena ia tidak peduli. Dan, peralihan ke konten hiburan ringan adalah bagian dari mekanisme itu—sebuah eskapisme yang, dalam tradisi studi budaya, telah lama tidak dipandang sebagai kelemahan. 

John Fiske, dalam kajiannya tentang budaya populer, berargumen bahwa kesenangan pada hiburan sederhana adalah cara orang biasa merebut kembali ruang bagi dirinya sendiri di tengah tekanan yang tidak ia pilih. Michel de Certeau menyebutnya sebagai ’taktik‘, cara-cara kecil yang digunakan orang yang tanpa kuasa untuk tetap bertahan dan berfungsi dalam sistem yang lebih besar dari dirinya. Dalam kerangka ini, seseorang yang menutup berita perang dan membuka video memasak bukan sedang menyerah pada ketidakpedulian. Dia sedang mengisi ulang kapasitasnya untuk kembali hadir esok hari. Hal ini sangat berbeda dengan mati rasa. Kelelahan seperti ini mengasumsikan bahwa empati masih ada, hanya saja sedang kehabisan ruang untuk terus menyala. Dan, kelelahan itu bukan semata-mata karena kegagalan moral, melainkan hasil dari tekanan hidup, banjir informasi, dan cara perang kini menjalar ke ruang-ruang sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Jika kelelahan ini adalah kondisi yang nyata—bukan kelemahan karakter—maka pertanyaan dapat bergeser: Siapa yang bertanggung jawab untuk menjaga kepedulian itu tetap hidup dan tersalurkan? Di sinilah peran negara dan media menjadi krusial. Jika seluruh beban moral diletakkan pada individu untuk terus merasa sedih dan terus aktif secara politik, barang kali kita sedang meminta sesuatu yang mustahil sekaligus tidak adil. Masyarakat mustahil berjuang sendirian melawan keacuhan struktural. Kebutuhan bersama kita saat ini adalah kebijakan yang melindungi warga dari dampak ekonomi konflik global, diplomasi yang aktif mendorong perdamaian, dan—yang paling mendesak—ekosistem informasi yang membantu publik memahami keterhubungan antara perang jauh dan kehidupan sehari-hari mereka. Selama mata rantai itu tidak dijelaskan, publik akan terus merespons gejala tanpa memahami akar masalah.

Dunia berada di puncak kelelahan. Namun kelelahan berbeda dari kebekuan hati. Orang yang lelah masih bisa peduli—hanya caranya berbeda, dan lebih pendiam. Kepedulian  tidak lagi hadir dalam slogan besar di jalanan, tetapi dalam keputusan kecil di pasar swalayan. Dalam kecemasan diam-diam hadir pertanyaan, bagaimana memberi makan keluarga bulan depan ketika harga-harga terus melambung sebagai dampak perang yang tak kunjung usai.

Jadi, barangkali persoalan saat ini bukan sekadar anestesi global. Dunia terlalu penuh luka, sementara manusia biasa masih harus bangun pagi, mengantar anak ke sekolah, dan membayar tagihan rumah tangga, sembari di sudut hatinya yang paling sunyi, tetap berempati kepada dunia yang masih belum baik-baik saja.
Arum Budiastuti, PhD, adalah staf pengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, dengan minat riset kajian budaya. Saat ini menjabat sebagai Ketua UP3D (Unit Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Publikasi, dan Dokumentasi) serta Ketua Redaksi Jurnal Mozaik Humaniora.  (*)

Editor : Arief
#Opini