Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Menalar Kebohongan Pertempuran Informasi

admin • Senin, 27 April 2026 | 20:41 WIB
Hery Purnobasuki
Hery Purnobasuki

Oleh: Hery Purnobasuki
Guru Besar FST Universitas Airlangga
Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga
 

Napoleon Bonaparte pernah berkata, "Sejarah hanyalah kumpulan kebohongan yang disepakati." Kutipan ini terdengar sinis, tapi dalam konteks perang, ini adalah realitas yang harus diakui. Dalam sejarah, perang tidak hanya dimenangkan oleh peluru, tetapi oleh opini. Dan di era digital 2026, perang atas pikiran semakin brutal—bukan lagi dengan selebaran udara atau siaran radio gelap, melainkan dengan algoritma, deepfake, dan banjir disinformasi yang menghujam kesadaran kita setiap detik.

Pertanyaannya bukan "apakah ada kebohongan dalam perang?" melainkan bagaimana kita menalar, mengidentifikasi, dan menolak kebohongan tersebut sebelum ia merusak persepsi, memecah belah masyarakat, dan menentukan arah kebijakan yang salah.

Ruang pertempuran kini tak lagi terjadi hanya di dunia nyata tetapi juga di dunia maya. Perang 12 hari antara Iran dan Israel pada Juni 2025 menjadi contoh nyata: dunia maya menjadi ruang pertempuran baru untuk menyebar propaganda yang bertujuan merebut opini publik.

Dalam konflik itu, video lama difabrikasi sedemikian rupa seolah-olah terjadi pada situasi perang Iran-Israel. Video pertempuran udara yang diklaim antara pesawat tempur Iran dan Israel sebenarnya berasal dari potongan simulasi permainan militer Arma 3 dan War Thunder, tapi telah dilihat 928.000 pengguna di platform X.

Lebih parah lagi, video ledakan yang diklaim sebagai serangan nuklir Iran ke Israel sebenarnya adalah ledakan di kawasan industri Tianjin, Tiongkok, satu dekade lalu yang menyebabkan lebih dari 100 orang tewas. Video itu dilihat 1,8 juta pengguna sebelum akhirnya terungkap kebohongannya.

Inilah yang disebut perang kognitif (cognitive warfare) — "pertempuran untuk menguasai pikiran manusia" yang memadukan teknik psychological operations (PSYOPS), information operations, dan teknologi disruptif seperti AI dan deepfake.

 

Gangguan Informasi

Sebelum kita bisa menalar kebohongan, kita harus memahami jenis-jenisnya. Menurut Wardle dan Derakhsan (2017) serta Ehrenfeild dan Barton (2019), gangguan informasi terdiri dari tiga kategori yang berbeda berdasarkan niatnya: Pertama, Misinformasi (informasi palsu yang dibagikan tanpa niat jahat), motif karena ketidaktahuan atau kurang informasi. Kedua, Disinformasi (infoemasi palsu yang sengaja dibuat untuk menyebabkan kerugian), motif untuk menipu, memanipulasi atau melemahkan lawan. Dan Ketiga, Malinformasi (informasi asli yang dibagikan untuk menyebabkan kerugian), motifnya merugikan seseorang/kelompok.

Yang paling berbahaya dalam perang adalah disinformasi — karena ini deliberate, terorganisir, dan bertujuan strategis: melemahkan lawan, menggalang dukungan, atau menciptakan kebingungan.

Peneliti di University of Notre Dame, Matthew Facciani, menemukan bahwa disinformasi menyebar semakin cepat ketika orang dihadapkan pada pilihan biner, seperti yang ditimbulkan oleh konflik dan politik. Secara umum, individu akan membagikan isu sosial dan psikologis yang sesuai dengan identitas politiknya. Konten yang sensasional dan emosional akan menyebar lebih cepat secara online.

Ini bukan kebetulan. Perang kognitif modern memanfaatkan Cognitive Load Theory dan Information Overload Paradigm — banjir informasi untuk melemahkan kapasitas analitis publik. Dengan informasi yang berlebihan, kemampuan masyarakat untuk memilah fakta dari fiksi menurun drastis, membuka celah bagi narasi yang sudah dikurasi pihak tertentu.

AI generatif semakin memperburuk situasi. Menurut Brookings Institution (2024), AI kini mampu menciptakan konten audio-visual yang hampir tak terdeteksi sebagai palsu oleh manusia rata-rata. Deepfake video seorang pemimpin negara yang mengumumkan kebijakan fiktif dapat menyebar secara viral sebelum ada klarifikasi resmi.

Kasus paling terkenal adalah video deepfake Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada 2022 yang menyerukan pasukannya untuk menyerah. Meskipun segera dibantah, dampaknya terhadap moral pasukan dan opini publik tetap signifikan pada jam-jam awal.

 

Menalar Kebohongan

            Di era digital yang semakin canggoh ini diperlukan langkah-langkah pencegahan yang bisa menalar kebohongan agar dapat menentukan keputusan dan tindakan yang tepat agar tidak hanyut dalam kebohongan.

Pertama, Verifikasi sumber informasi, apakah rekam jejaknya terpercaya. Kedua, Membandingkan dengan media lain yang lebih kredibel. Ketiga, Hindari berita yang mengandung unsur ajakan emosional. Keempat, waktu dan konteks, Informasi lama yang dikemasan ulang seringkali menyesatkan. informasi palsu seringkali memuat tanggal yang salah atau jadwal yang diubah.

Kelima, Gunakan situs seperti TurnBackHoax, Google Fact Check, atau CekFakta.com untuk memverifikasi klaim yang diragukan. Institusi seperti UNESCO juga menyediakan panduan komprehensif untuk pendidikan kewartawanan dan literasi. Keenam, Kenali sinyal manipulasi visual, dalam perang modern, video dan gambar palsu sangat umum.

Dan Ketujuh, Kemampuan berpikir kritis dan pentingnya melakukan verifikasi sebelum membagikan ulang menjadi benteng utama dalam menangkal disinformasi. Tanyakan pada diri sendiri: "Apakah saya sudah memastikan ini benar? Apa motiv saya membagikan ini? Apakah ini bisa merugikan orang lain?"

 

Perang dimenangkan oleh narasi

Invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022 menjadi case study paling komprehensif dalam literasi perang kognitif modern. Rusia memposisikan tindakannya sebagai "operasi militer khusus" untuk "denazifikasi" Ukraina, sebuah kerangka yang diulang-ulang di media domestik dan jaringan propaganda luar negeri.

Ukraina di bawah kepemimpinan Zelensky, di sisi lain, menempatkan narasi "perlawanan rakyat" dan "pertahanan demokrasi" di garis depan komunikasi internasionalnya. Ukraina menggunakan media digital dengan presisi tinggi, termasuk real-time social media updates, pesan video langsung dari Zelensky, dan kampanye crowdsourced intelligence yang melibatkan warga sipil.

Hasilnya? Ukraina berhasil memenangkan.supportan global meskipun secara militer terdesak. Ini membuktikan bahwa perang atas pikiran bisa mengimbangi bahkan mengalahkan keunggulan militer.

 

Kesadaran Individu Menjaga Kebenaran

Perang kognitif memaksa kita memindahkan pusat gravitasi pertahanan dari pagar perbatasan ke ruang yang paling rapuh sekaligus paling menentukan: kesadaran warga.

Kita perlu literasi kognitif — bukan sekadar literasi digital generik. Ini melatih kebiasaan memeriksa konteks, mengenali sinyal manipulasi, memahami bagaimana emosi dieksploitasi, serta berlatih menghadapi skenario disinformasi yang realistis.

Kita juga harus membangun ekosistem media yang tangguh: kolaborasi cepat antara redaksi, pemeriksa fakta, peneliti, dan regulator platform untuk merilis klarifikasi sinkron ketika kampanye hoaks besar terdeteksi.

Yang paling penting: kepercayaan publik adalah tameng terkuat terhadap manipulasi. Kepercayaan hanya lahir dari konsistensi, transparansi, dan kemampuan mengakui serta memperbaiki kesalahan.

Napoleon benar bahwa sejarah sering kali adalah kumpulan kebohongan yang disepakati. Tapi kita — generasi yang hidup di era informasi — punya kesempatan untuk mengubah narasi itu.

Menalar kebohongan dalam perang bukan hanya tugas jurnalis, intelijen, atau pemerintah. Ini adalah tanggung jawab setiap warga negara. Setiap kali Anda memverifikasi sebelum membagikan, setiap kali Anda menolak untuk membagikan konten emosional tanpa sumber jelas, setiap kali kita mengkritisi narasi yang terlalu sempurna untuk menjadi benar, kitaa sedang bertahan di medan pertempuran informasi.

Dunia maya bukan cerisolikan realitas, namun dapat menjadi medan pertempuran baru yang juga tak kalah sengitnya dengan medan fisik. Gelombang disinformasi yang berasal dari video manipulasi hingga narasi buatan AI telah menunjukkan betapa mudahnya memanipulasi opini publik.

Tapi kita tidak harus menjadi korban. Dengan keterampilan menalar, instincts kritis, dan komitmen pada kebenaran, kita bisa menjadi penjaga realitas, orang-orang yang menolak untuk memanipulasi persepsi, yang memilih untuk berpikir sebelum percaya, yang mengutamakan fakta daripada emosi.

Karena pada akhirnya, perang tidak hanya dimenangkan oleh yang punya senjata paling canggih, tapi oleh yang paling mampu mempertahankan kebenaran di tengah badai kebohongan. Dan kebenaran itu dimulai dari kita satu verifikasi, satu pertanyaan kritis, satu penolakan terhadap hoaks pada satu waktu.

 

Editor : Arief
#Opini