Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Melawan Arus Pragmatisme

admin • Senin, 27 April 2026 | 20:39 WIB
Alfinnor Effendy, S.Ag,M.H
Alfinnor Effendy, S.Ag,M.H

 

Oleh: Alfinnor Effendy, S.Ag.,M.H
Dosen luar biasa di Fuh UIN Antasari Banjarmasin
Eks. Ketua PC PMII Kota Banjarmasin periode 2023-2024.

Mahasiswa sejak lama diposisikan sebagai agen perubahan—kelompok intelektual yang diharapkan mampu membaca realitas dan menawarkan arah bagi masyarakat. Namun hari ini, peran tersebut tengah diuji. Di tengah arus digitalisasi dan tuntutan hidup yang serba cepat, mahasiswa justru berada dalam pusaran pragmatisme yang kian menguat.

Di berbagai kampus, termasuk di Banjarmasin dan Kalimantan Selatan, fenomena ini tampak nyata. Banyak mahasiswa lebih fokus pada capaian administratif: menyelesaikan tugas, menjaga indeks prestasi, dan lulus tepat waktu. Orientasi ini tentu tidak sepenuhnya keliru. Namun persoalan muncul ketika tujuan praktis tersebut menggeser makna belajar itu sendiri—dari proses memahami menjadi sekadar memenuhi kewajiban.

Akibatnya, kampus perlahan kehilangan ruhnya sebagai ruang dialektika gagasan. Diskusi tidak lagi menjadi kebutuhan intelektual, melainkan sekadar pelengkap kegiatan organisasi. Membaca buku dianggap berat, sementara informasi instan dari media sosial dirasa cukup. Dalam situasi ini, mahasiswa berisiko menjadi generasi yang cepat berpendapat, tetapi dangkal dalam berpikir.

Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali tradisi kajian.

Kajian bukan sekadar forum diskusi atau rutinitas akademik. Ia adalah proses intelektual yang serius: membaca, menganalisis, dan merumuskan gagasan berdasarkan kerangka berpikir yang jelas. Melalui kajian, mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan realitas sosial yang dihadapi.

Lebih dari itu, kajian merupakan pintu menuju kontribusi nyata. Dari proses kajian yang mendalam, mahasiswa dapat menghasilkan tulisan opini, penelitian sederhana, hingga gerakan advokasi berbasis data. Kajian menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan masyarakat—mengubah pengetahuan menjadi tindakan yang berdampak.

Kalimantan Selatan memiliki banyak persoalan yang menunggu kontribusi intelektual mahasiswa. Isu lingkungan seperti banjir dan kerusakan lahan, problem pendidikan, hingga dinamika sosial-keagamaan adalah contoh nyata. Tanpa kajian yang kuat, mahasiswa hanya akan menjadi pengamat pasif, atau sekadar pengomentar tanpa dasar yang memadai.

Namun, menghidupkan tradisi kajian di tengah budaya pragmatis bukanlah hal mudah. Dibutuhkan kesadaran dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman.

Pertama, mahasiswa perlu menata ulang orientasi belajarnya. Kuliah tidak boleh dipandang semata sebagai jalan memperoleh gelar, tetapi sebagai proses membangun pemahaman yang utuh. Membaca buku, jurnal, dan karya ilmiah harus kembali menjadi bagian dari keseharian, bukan sekadar tuntutan tugas.

Kedua, penting untuk membangun ruang-ruang kajian yang hidup. Komunitas diskusi harus menjadi tempat bertemunya gagasan, bukan sekadar formalitas organisasi. Di ruang inilah mahasiswa belajar menguji argumen, menerima kritik, dan memperdalam perspektif.

Ketiga, kajian harus dihubungkan dengan aksi nyata. Diskusi yang berhenti pada wacana hanya akan menjadi konsumsi internal. Sebaliknya, ketika hasil kajian diterjemahkan menjadi tulisan, penelitian, atau gerakan sosial, maka mahasiswa mulai mengambil peran sebagai agen perubahan yang sesungguhnya.

Keempat, mahasiswa perlu melatih keberanian intelektual. Pragmatisme seringkali tumbuh dari rasa takut—takut salah, takut berbeda, atau takut gagal. Padahal, dunia akademik justru menuntut keberanian untuk berpikir kritis dan menyampaikan kebenaran, meskipun tidak selalu sejalan dengan arus utama.

Menjadi mahasiswa yang berkomitmen pada kajian memang bukan jalan yang mudah. Ia menuntut waktu, energi, dan kesungguhan yang tidak sedikit. Namun dari proses itulah lahir pemikiran yang matang dan kontribusi yang berarti.

Pada akhirnya, pilihan ada di tangan mahasiswa itu sendiri: larut dalam pragmatisme yang serba instan, atau menempuh jalan sunyi kajian yang penuh makna. Jika mahasiswa terus terjebak dalam orientasi praktis semata, maka kampus hanya akan menjadi tempat produksi gelar. Tetapi jika tradisi kajian kembali dihidupkan, kampus dapat kembali menjadi pusat lahirnya gagasan dan perubahan.

Sejarah tidak pernah mencatat mereka yang sekadar lulus tepat waktu. Sejarah mencatat mereka yang berpikir lebih dalam, dan berani melangkah lebih jauh. (*) 

Editor : Arief
#Opini #mahasiswa