Oleh: R.K. Ariyandi
Praktisi Perbankan
Setiap tanggal 21 April, kita kembali menyebut nama Raden Ajeng Kartini. Ia hadir bukan sekadar sebagai tokoh sejarah, tetapi sebagai simbol perubahan—perempuan yang berani berpikir melampaui zamannya.
Kartini hidup dalam keterbatasan. Ia tidak memiliki banyak pilihan, tetapi ia memiliki keberanian untuk mempertanyakan keadaan. Dari ruang yang sempit, ia melahirkan gagasan besar tentang pendidikan, kesetaraan, dan masa depan perempuan. Hari ini, ruang itu telah terbuka jauh lebih luas.
Perempuan memiliki akses pendidikan yang lebih tinggi, peluang karier yang semakin beragam, dan ruang berekspresi yang nyaris tanpa batas melalui teknologi digital. Bahkan, data menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam dunia kerja terus meningkat. Badan Pusat Statistik mencatat, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan telah mencapai sekitar 56 persen pada 2024.
Artinya, lebih dari separuh perempuan usia kerja di Indonesia hari ini tidak lagi berada di pinggir, tetapi ikut terlibat aktif dalam menggerakkan roda ekonomi—baik di sektor formal maupun informal. Dengan kata lain, perempuan bukan lagi sekadar pendukung, tetapi telah menjadi bagian penting dalam sistem ekonomi. Namun, di balik angka itu, tersimpan realitas lain.
Keterlibatan yang meningkat belum sepenuhnya diikuti dengan keseimbangan peran, dukungan sistem, maupun pembagian beban yang adil. Perempuan hari ini tidak hanya dituntut untuk berhasil di ruang publik, tetapi juga tetap hadir secara utuh di dalam rumah. Di sinilah kita melihat wajah baru perjuangan itu.
Jika dulu Kartini berjuang membuka pintu, maka perempuan hari ini berjuang menjaga keseimbangan di dalam ruang yang sudah terbuka. Dan perjuangan ini tidak selalu terlihat, tidak selalu terdengar, bahkan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang “sudah seharusnya”.
Banyak perempuan menjalani apa yang sering disebut sebagai peran ganda. Pagi hari mereka hadir sebagai profesional, mengejar target, menyelesaikan pekerjaan, berkontribusi dalam organisasi. Namun ketika kembali ke rumah, peran itu berganti—menjadi ibu, menjadi pendidik pertama bagi anak-anaknya, menjadi pengelola kehidupan keluarga. Semua dijalankan, sering kali, tanpa jeda yang cukup.
Menjadi ibu rumah tangga bukanlah peran yang sederhana. Ia bukan sekadar rutinitas, tetapi fondasi. Dari sanalah nilai, karakter, dan arah masa depan generasi dibentuk. Dalam diam, peran ini bekerja jauh lebih dalam daripada yang sering terlihat di permukaan.
Ketika peran ini berjalan beriringan dengan tanggung jawab profesional, maka yang muncul bukan hanya tantangan fisik, tetapi juga beban emosional yang tidak ringan. Sayangnya, beban ini sering kali tidak mendapatkan ruang untuk dibicarakan.
Kita sering memuji perempuan sebagai sosok yang kuat, tangguh, dan mampu melakukan banyak hal sekaligus. Namun, di balik pujian itu, jarang ada pertanyaan yang lebih jujur: apakah mereka benar-benar baik-baik saja? Di era digital, tekanan itu bahkan menjadi lebih kompleks.
Media sosial menghadirkan standar baru—tentang bagaimana seharusnya perempuan tampil, bekerja, mengasuh anak, hingga menjalani kehidupan rumah tangga. Semua tampak rapi, teratur, dan seolah tanpa celah. Padahal, realitas tidak selalu demikian.
Perbandingan yang terus-menerus, ekspektasi yang tinggi, dan kebutuhan untuk “terlihat baik-baik saja” sering kali menambah beban yang sudah ada. Di titik ini, perjuangan perempuan tidak lagi sekadar tentang kesempatan, tetapi tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri.
Kartini era digital bukan hanya mereka yang berhasil dalam karier, atau yang mampu mengelola rumah tangga dengan baik. Kartini hari ini adalah mereka yang berani menentukan ritmenya sendiri. Mereka yang memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi, dan tidak semua harus dijalani secara sempurna. Lebih dari itu, Kartini masa kini adalah mereka yang berani menetapkan batas.
Bahwa bekerja adalah bentuk kontribusi. Bahwa mengurus keluarga adalah bentuk pengabdian. Dan keduanya tidak seharusnya saling meniadakan. Di sinilah pentingnya dukungan lingkungan.
Keluarga, tempat kerja, dan masyarakat memiliki peran besar dalam menciptakan keseimbangan itu. Perempuan tidak bisa terus-menerus diminta menyesuaikan diri tanpa adanya ruang yang adil. Dukungan pasangan, kebijakan kerja yang lebih fleksibel, serta pemahaman sosial yang lebih bijak menjadi bagian dari solusi yang tidak bisa diabaikan.
Di Kalimantan Selatan, dalam kehidupan kita sehari-hari, kita melihat sendiri bagaimana perempuan tidak hanya menjadi penjaga rumah, tetapi juga penggerak ekonomi keluarga. Mereka hadir di pasar, di ruang usaha kecil, di sekolah, hingga di berbagai profesi—sering kali dengan peran yang berjalan bersamaan. Namun, di balik semua itu, tantangan tetap ada.
Bukan lagi soal apakah perempuan mampu, tetapi apakah sistem di sekitarnya sudah cukup mendukung.
Kartini tidak pernah meminta perempuan untuk menjadi seragam. Ia tidak membatasi perempuan pada satu peran tertentu. Justru sebaliknya, ia membuka ruang agar perempuan memiliki pilihan—untuk belajar, untuk berkembang, dan untuk menentukan jalannya sendiri. Hari ini, pilihan itu semakin luas.
Ada perempuan yang memilih fokus pada keluarga, ada yang memilih berkarier, dan ada pula yang menjalankan keduanya. Semua adalah jalan yang layak dihargai, selama dijalani dengan kesadaran dan tanggung jawab. Yang sering kita lupakan adalah: di balik setiap pilihan, ada proses yang tidak selalu mudah.
Ada kelelahan yang tidak selalu diucapkan. Ada keraguan yang tidak selalu terlihat. Ada perjuangan kecil yang tidak pernah masuk dalam sorotan. Dan justru di situlah letak makna yang sesungguhnya.
Menjadi Kartini di era digital bukan tentang menjadi sempurna di semua peran. Bukan tentang mampu melakukan segalanya tanpa cela. Tetapi tentang keberanian untuk tetap berjalan, meski dalam keterbatasan yang berbeda.
Kartini hari ini mungkin tidak lagi bertanya apakah ia boleh bermimpi. Dunia telah memberi ruang untuk itu. Namun dalam diam, banyak dari mereka masih menyimpan satu pertanyaan sederhana—apakah mereka boleh merasa lelah? Dan pada akhirnya, di tengah semua peran yang dijalankan, kita perlu berhenti sejenak—bukan untuk menilai, tetapi untuk menghargai.
Menghargai mereka yang setiap hari bangun lebih awal, menyiapkan kebutuhan keluarga sebelum memulai pekerjaan. Menghargai mereka yang tetap tersenyum di tempat kerja, meski pikirannya masih tertinggal di rumah. Menghargai mereka yang menyelesaikan tugas profesionalnya, lalu kembali melanjutkan peran yang tak pernah benar-benar selesai di dalam keluarga.
Untuk para Kartini hari ini—yang mungkin tidak pernah berdiri di panggung, tidak selalu mendapatkan sorotan, dan tidak selalu mendapatkan pengakuan—namun tetap memilih untuk bertahan, berjuang, dan memberi. Kalian adalah wajah nyata dari semangat yang dulu diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini. Kalian yang menjalankan banyak peran dalam satu waktu, yang memikul banyak harapan dalam diam, yang tetap berjalan meski lelah, dan tetap memilih peduli di tengah kesibukan yang tak pernah benar-benar usai.
Apa yang kalian lakukan mungkin tidak selalu terlihat besar, tetapi dampaknya nyata—di dalam keluarga, di lingkungan, dan di masa depan yang sedang kalian bangun perlahan.
Terima kasih, untuk setiap langkah kecil yang sering tidak dianggap. Terima kasih, untuk setiap lelah yang tetap kalian simpan dengan keteguhan. Terima kasih, karena kalian tidak menyerah—meski tidak selalu mudah.
Hari ini, mungkin kita tidak perlu meminta kalian menjadi lebih kuat. Cukup izinkan kami mengatakan satu hal yang sederhana, namun penting:
Bahwa apa yang kalian jalani—sudah lebih dari cukup untuk disebut luar biasa.
Dan jika suatu saat kalian merasa lelah, ingatlah bahwa menjadi berarti tidak selalu harus sempurna. Karena dalam setiap peran yang kalian jalani dengan tulus, di situlah semangat Kartini tetap hidup—diam, kuat, dan penuh makna. (*
Editor : Arief