Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kartini Bicara: Dari Surat ke Prompt (Refleksi Hari Kartini 2026)

admin • Selasa, 21 April 2026 | 21:44 WIB
Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom
Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom

 

Oleh : Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom
                                              Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin

Lebih dari satu abad silam, Kartini menulis surat. Bukan kepada media sosial, bukan kepada algoritma, melainkan kepada sahabat-sahabat Belandanya. Surat-surat itu kemudian menjadi api yang membakar semangat emansipasi: bahwa perempuan berhak bersekolah, bermimpi, dan menentukan jalannya sendiri. Kini, di 2026, perempuan Indonesia tidak lagi menulis dengan tinta di atas kertas. Mereka menulis dengan suara, dengan kode, dengan prompt sebagai bahasa perintah untuk kecerdasan buatan. Lalu, apakah semangat Kartini masih utuh di era AI? Atau justru kita sedang menyaksikan bentuk baru dari ketidaksetaraan?

Pada zamannya, surat adalah teknologi paling canggih untuk menjangkau dunia luar. Kartini memanfaatkannya dengan luar biasa. Ia tidak hanya bercerita tentang batik atau tradisi Jawa, tetapi juga mengkritik kolonialisme dan membuka mata Eropa tentang penderitaan serta potensi perempuan pribumi.

Di era AI, "menulis surat" berubah menjadi "menulis prompt". Prompt adalah instruksi yang kita berikan kepada model AI seperti ChatGPT, Gemini, atau Midjourney agar menghasilkan teks, gambar, atau analisis. Keterampilan merangkai prompt kini menjadi semacam literasi bentuk baru menyuarakan diri.

Siapa yang mampu menyusun prompt yang jelas, kritis, dan etis, maka ia akan menguasai percakapan digital. Ironisnya, studi dari UNESCO (2024) menunjukkan bahwa hanya 22% tenaga ahli di bidang AI adalah perempuan, dan konten yang dihasilkan oleh AI cenderung bias gender. Artinya, jika perempuan tidak terlibat aktif dalam merancang dan memberi perintah pada AI, maka algoritma akan terus memperkuat stereotip lama: perempuan cukup di rumah, perempuan tidak cocok dengan teknologi, perempuan tidak perlu bersuara lantang.

Di sinilah semangat Kartini hidup kembali. "Bicara" di era AI bukan sekadar mengirim pesan, melainkan memastikan suara perempuan hadir dalam setiap data, dalam setiap model bahasa, dan dalam setiap prompt yang diproduksi. Seorang gadis desa yang menggunakan AI untuk belajar coding, seorang ibu rumah tangga yang memeriksa bias dalam jawaban chatbot, seorang pustakawan yang mengajarkan literasi AI kepada anak-anak, mereka semua adalah Kartini yang sedang menulis surat dalam bentuk baru.

Ancaman Dikte Digital dan Kesenjangan Partisipasi

Namun, ada bahaya laten yang jarang disadari. Era digital dan AI tidak otomatis membebaskan perempuan. Sebaliknya, tanpa kesadaran kritis, AI bisa menjadi alat baru untuk "mendikte" perempuan. Iklan lowongan kerja yang difilter algoritma cenderung menampilkan posisi administratif untuk perempuan dan teknis untuk laki-laki. Asisten virtual seperti Siri atau Alexa umumnya bersuara perempuan dan patuh, seolah-olah mengukuhkan bahwa perempuan adalah pelayan digital. Bahkan, konten-konten seksis dan kekerasan berbasis gender daring (online gender-based violence) makin massif karena dihasilkan atau diperkuat oleh AI.

Kartini dulu melawan dikte bahwa perempuan hanya pantas di dapur dan sumur. Sekarang, perlawanan itu harus dilanjutkan melawan dikte algoritma yang secara diam-diam membatasi akses, informasi, dan kesempatan. Tidak cukup hanya "melek internet" atau "bisa menggunakan AI". Perempuan harus menjadi pembuat kebijakan, pengembang etika, dan kurator data. Jika tidak, mimpi Kartini tentang kemerdekaan berpikir akan digantikan oleh tirani baru yang lebih halus, lebih cepat, dan lebih sulit dilawan: tirani algoritma.

Dunia Kepustakawanan Sebagai Garda Terdepan

Dalam konteks kepustakawanan, semangat "Kartini Bicara" menemukan wujud yang sangat konkret. Dulu, Kartini merindukan perpustakaan yang bisa diakses semua orang. Ia ingin perempuan membaca buku apa pun, bukan hanya dongeng atau resep masakan. Kini, perpustakaan telah berubah menjadi pusat literasi digital dan AI. Pustakawan tidak lagi hanya menjaga buku, tetapi juga menjaga integritas informasi di tengah banjir konten palsu (hoaks) dan bias algoritma.

Seorang pustakawan perempuan di era AI memiliki tugas heroik: mengajarkan masyarakat bagaimana cara memverifikasi fakta, bagaimana menyusun prompt yang etis, serta bagaimana menggunakan AI untuk belajar, bukan untuk mencontek. Ia adalah Kartini yang memastikan bahwa setiap anak, tanpa memandang gender, memiliki akses yang sama terhadap pengetahuan digital. Jika Kartini dulu mendobrak pintu sekolah untuk perempuan, maka pustakawan hari ini mendobrak pintu algoritma yang diskriminatif.

Di banyak daerah terpencil di Indonesia, perpustakaan desa yang dikelola perempuan mulai memperkenalkan AI sederhana untuk membantu anak-anak belajar bahasa Inggris atau sains. Mereka tidak perlu menunggu izin dari pusat. Mereka bertindak. Itulah "Kartini Bicara": dari surat yang butuh waktu berbulan-bulan untuk sampai ke Belanda, menjadi prompt yang langsung membuka jendela dunia dalam hitungan detik.

Hari Kartini 21 April bukan sekadar mengenakan kebaya dan membacakan puisi. Ia adalah momen untuk bertanya: apakah kita sudah benar-benar mendengar suara Kartini hari ini? Apakah kita membiarkan AI dan algoritma menentukan jalan hidup perempuan, atau justru perempuan yang menentukan arah AI?

Dari surat ke prompt, bentuk komunikasi berubah, tetapi esensinya tetap: perempuan berhak bicara, perempuan berhak memilih, dan perempuan berhak menjadi pemimpin di zamannya sendiri. Di era AI, menjadi Kartini berarti berani menulis ulang kode-kode yang bias, berani mempertanyakan hasil asisten digital, dan berani mengajarkan generasi berikutnya bahwa teknologi harus melayani kemanusiaan, bukan sebaliknya.

Maka, mari rayakan 21 April dengan sebuah tekad: setiap kali jari kita mengetik prompt ke dalam kolom AI, ingatlah bahwa kita sedang menulis surat baru untuk masa depan. Pastikan isinya penuh emansipasi. Pastikan tidak ada lagi perempuan yang dibisukan oleh algoritma. Karena Kartini sudah bicara. Sekarang giliran kita. Bicara dengan cerdas. Bicara dengan prompt yang merdeka. (*) 

Editor : Arief
#Opini