Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Single Parent dan Perjuangan Kartini yang Sunyi

admin • Selasa, 21 April 2026 | 21:24 WIB
Suryanto
Suryanto

Oleh: Suryanto
Guru Besar Psikologi Sosial Universitas Airlangga Surabaya

Hari Kartini tidak cukup diperingati dengan kebaya, lomba busana, dan ucapan manis di media sosial. Di balik seremoni itu, ada Kartini-Kartini lain yang jarang naik panggung: perempuan single parent yang setiap pagi harus menjadi ibu, ayah, pencari nafkah, pengasuh, guru, sekaligus penenang bagi anak-anaknya. Mereka tidak banyak bicara tentang emansipasi. Mereka menjalaninya setiap hari, sering kali dalam diam.

Di Banjarmasin, perjuangan itu bukan cerita kecil. Istilah “single parent” memang belum selalu tercatat sebagai kategori statistik tersendiri. Namun, data kependudukan memberi gambaran kuat. Pada Semester I 2025, terdapat 53.913 kepala keluarga perempuan di Kota Banjarmasin dari total 226.261 kepala keluarga. Sementara pada 2024, tercatat 11.451 perempuan berstatus cerai hidup dan 29.389 perempuan berstatus cerai mati. Jika digabung, ada 40.840 perempuan yang hidup dalam status tidak lagi bersama pasangan karena perceraian atau kematian pasangan (satudata.banjarmasinkota.go.id). Dengan angka ini menununjukkan bahwa perempuan yang berjuang memikul tanggung jawab keluarga bukan isu pinggiran, melainkan realitas sosial yang dekat dengan kehidupan warga kota.

Dari perspektif psikologi sosial, perempuan single parent tidaklah dapat dipandang sebagai simbol kegagalan keluarga. Mereka justru memperlihatkan resilience, yaitu daya lenting untuk tetap bertahan, beradaptasi, dan menjalankan fungsi keluarga di tengah tekanan hidup yang kompleks. Menjadi single parent bukan sekadar hidup tanpa pasangan. Di dalamnya ada beban peran ganda yaitu mencari nafkah, mengurus anak, mengambil keputusan, mengelola rumah, sekaligus menjaga stabilitas emosi keluarga.

Seorang single parent sering mengalama apa yang disebut dengan role strain, yakni tekanan ketika seseorang harus menjalankan banyak peran sekaligus. Seorang ibu tunggal bisa saja bekerja seharian, lalu pulang tetap harus memastikan anak makan, belajar, mandi, tidur, dan merasa aman. Ia lelah, tetapi tidak selalu punya ruang untuk mengeluh. Ia kuat, tetapi bukan berarti tidak pernah rapuh. Perempuan single parent kerap dipuji sebagai “perempuan kuat”, tetapi pujian itu kadang berubah menjadi beban baru. Seolah-olah mereka tidak boleh lelah. Tidak boleh menangis. Tidak boleh gagal. Padahal, dalam konsep psikologi, mental yang kuat bukan berarti seseorang tidak pernah jatuh. Kekuatan justru terlihat dari kemampuan untuk mengakui luka, mencari bantuan, dan tetap berusaha bangkit.

Hari Kartini menjadi relevan di titik ini. Kartini memperjuangkan martabat perempuan, pendidikan, kemandirian, dan hak untuk diperlakukan sebagai manusia yang utuh. Maka, perempuan single parent adalah wajah Kartini masa kini. Mereka memperjuangkan pendidikan anak, menjaga ekonomi keluarga, melawan stigma, dan mempertahankan harapan meski hidup tidak selalu memberi jalan yang mudah. 

Stigma Sosial
Namun, kita juga harus jujur. Perjuangan single parent tidak hanya berat karena urusan ekonomi. Ia juga berat karena stigma sosial. Masih ada masyarakat yang melihat perempuan single parent dengan rasa curiga, kasihan berlebihan, atau bahkan merendahkan. Padahal, seseorang bisa menjadi single parent karena banyak sebab: pasangan meninggal, perceraian, kekerasan rumah tangga, penelantaran, atau keputusan berat untuk menyelamatkan diri dan anak. Stigma seperti itu adalah luka kedua. Luka pertama mungkin datang dari kehilangan, perpisahan, atau tekanan hidup. Luka kedua datang dari lingkungan: bisik-bisik tetangga, komentar keluarga, tatapan sinis, atau pertanyaan yang menyudutkan. 

Dalam psikologi sosial, stigma dapat menurunkan harga diri, meningkatkan kecemasan, dan membuat seseorang merasa terisolasi. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh ibu. Anak-anak juga ikut merasakan suasana psikologis keluarga. Anak dari keluarga single parent tidak otomatis bermasalah. Yang menentukan tumbuh kembang anak bukan semata-mata lengkap atau tidaknya ayah dan ibu dalam satu rumah, melainkan kualitas pengasuhan, kelekatan emosional, komunikasi, dan rasa aman.

Dalam teori attachment, anak membutuhkan figur yang konsisten, hangat, dan dapat dipercaya. Figur itu bisa hadir dari seorang ibu yang penuh kasih, keluarga besar yang mendukung, guru yang peka, atau lingkungan sosial yang tidak menghakimi. Artinya, anak tetap bisa tumbuh sehat bila ia merasa dicintai, dilindungi, dan diterima. Karena itu, masyarakat tidak boleh hanya berkata, “Ibu harus kuat.” Kalimat itu terdengar menyemangati, tetapi sering kali tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah dukungan nyata. Keluarga besar dapat membantu tanpa mengontrol berlebihan. Tetangga dapat mendukung dengan tidak bergosip. Sekolah dapat lebih peka terhadap kondisi anak. Tempat kerja dapat memberi kelonggaran saat anak sakit. Pemerintah daerah dan komunitas dapat menyediakan layanan konseling, pelatihan keterampilan, serta ruang aman bagi perempuan kepala keluarga.

Tidak ada satu keluarga pun yang sempurna. Single parent juga perlu membangun self-compassion, yakni sikap welas asih kepada diri sendiri. Tidak semua masalah harus bisa diselesaikan sendiri. Meminta bantuan bukan kelemahan. Menangis bukan kekalahan. Kadang, keberanian terbesar seorang ibu adalah mengakui bahwa dirinya juga manusia.

Maka, memperingati Hari Kartini tidak cukup dengan memuja perempuan sebagai makhluk kuat. Kartini bukan hanya soal perempuan yang bisa berdiri tegak. Kartini juga soal masyarakat yang memberi ruang agar perempuan tidak dipatahkan oleh stigma dan ketidakadilan. Kartini-kartini modern bisa ditemui pula di rumah-rumah sederhana di Banjarmasin. Mereka mungkin tidak disebut dalam pidato. Tidak masuk baliho. Tidak duduk di panggung kehormatan. Tetapi dari tangan mereka, anak-anak tetap sekolah, dapur tetap menyala, dan harapan tetap dirawat. Itulah Kartini yang paling nyata: bukan hanya yang dikenang setiap 21 April, tetapi yang setiap hari membesarkan kehidupan dengan cinta, air mata, dan keberanian. Habis Gelap Terbitlah Terang. (*) 

Editor : Arief
#Opini #Perempuan #kartini