Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Perempuan Hebat

Toto Fachrudin • Senin, 20 April 2026 | 11:09 WIB
Toto Fachrudin, Wakil Direktur Radar Banjarmasin
Toto Fachrudin, Wakil Direktur Radar Banjarmasin

 21 April. Tanggal bersejarah. Momen yang selalu diulang untuk diingat, dikenang, sekaligus direnungkan. Diingat karena tanggal ini menjadi tonggak sejarah. Dikenang karena cerita di baliknya menyiratkan banyak kisah duka dan perjuangan. Direnungkan karena maknanya yang berbeda pada setiap masa dan zaman.

Kartini. Nama yang begitu kuat dalam ingatan. Simbol perjuangan gender di masa itu yang tak cukup ramah untuk kesetaraan dan kesempatan yang sama dengan pria. Kartini tak menolak, apalagi melawan kodrat perempuan. Ia hanya bersuara agar perempuan diberi ruang dan hak yang sama untuk akses pendidikan.

Sebuah hak dan kesempatan yang di zamannya tak hanya terasa mustahil, tapi terkesan sebagai bentuk pembangkangan dan perlawanan. Suara yang terdengar dari zamannya itu kini terus bergema. Kini, Kartini menjelma tak hanya sekadar nama dan simbol.

Pendidikan yang disuarakan Kartini memberi kekuatan dan keyakinan para perempuan Indonesia. Ada kesadaran kolektif perempuan bahwa pendidikan adalah mata uang sosial bernilai tinggi. Pendidikan menjadi simbol kebangkitan perempuan. Perempuan sadar bahwa mereka hanya dipandang bila memiliki kapasitas intelektual dan kompetensi keahlian.

Sayangnya ironi sejarah selalu membuktikan bahwa keberpihakan kepada perempuan dalam segala dimensi kehidupan dirasa tak begitu adil. Paradoksnya, peran perempuan dinilai begitu besar dalam keluarga, tapi suaranya malah dikerdilkan oleh budaya patriakhi yang masih kental.

Hampir seluruh budaya di Indonesia masih memandang perempuan sebagai obyek, bukan subyek yang memiliki otoritas penuh atas dirinya. Budaya patriakhi yang masih hidup dalam relasi kuasa gender di Indonesia, membuat perempuan sulit melampaui batasan sosial yang cukup kuat mengakar sampai saat ini.

Pemimpin perempuan adalah stigma yang masih belum bisa diterima di panggung politik dan kekuasaan. Tak hanya terbelenggu relasi kuasa antara pria – perempuan, tapi juga nilai budaya yang membatasi ruang ekspresi dan kiprah perempuan di ranah publik.

Namun, perlahan stigma ini mulai mencair. Perempuan mulai sadar bahwa pendidikan adalah modal sosial dalam relasi gender yang adil. Mereka sadar bahwa panggung politik masih cukup fair untuk membuka ruang bagi kehadiran perempuan berkompeten.

Setidaknya kita merasa bangga dengan Retno Marsudi yang membuat Indonesia disegani dunia internasional dengan model diplomasi lembut tapi tegas berkelas. Susi Pudjiastuti adalah perempuan yang membuat kita merasa memiliki harga diri dan kehormatan sebagai negara kepulauan yang kuat berdaulat. Ada Sri Mulyani, nama yang dianggap kontroversi, namun sentuhannya membuat kita masih yakin negara ini baik-baik saja.

Srikandi ini adalah perempuan hebat, pemberani, dan pastinya berkelas karena punya kapasitas. Inilah semangat dan filosofi dari makna emansipasi kebangkitan perempuan. Tegas karena yakin benar. Berani karena punya prinsip. Kuat karena punya kompetensi dan pengalaman. Mereka bukan sekadar contoh perempuan hebat yang berkelas.

Mereka adalah bukti nyata bahwa perempuan berpendidikan adalah aset bangsa yang begitu bernilai. Bayangkan, bila bangsa ini memiliki banyak perempuan berpendidikan. Dari mereka akan lahir generasi hebat berkualitas. Bangsa ini akan dipenuhi generasi bermental kuat. Siap menghadapi tantangan global. Cerdas, berani, dan penuh percaya diri.

Semua angan dan harapan itu bisa terwujud bila perempuan Indonesia berkesadaran untuk bangkit melalui pendidikan. Pendidikan mungkin tak membuat perempuan bakal menjadi presiden, menteri, kepala daerah, atau jabatan publik lainnya. Pendidikan juga tak lantas membuat mereka punya kuasa dan pengaruh besar.

Tapi, pendidikan bisa membuat perempuan memiliki kesadaran kognitif, kecerdasan emosional, serta kematangan mental untuk melahirkan, mendidik serta mengiringi tumbuh kembang generasi bangsa ini menjadi manusia cerdas berkualitas. (*)

Editor : Arief
#ruang jeda