Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Racun Misterius di Pakan Ternak: Bom Waktu Ketahanan Pangan Indonesia

admin • Sabtu, 18 April 2026 | 21:03 WIB
Erma Safitri
Erma Safitri

 

Oleh: Erma Safitri, Guru Besar Reproduksi Veteriner 

Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga

KPS S2 Biologi Reproduksi, FKH Universitas Airlanggaa 

            Kita mungkin pernah duduk di warung makan favorit, menikmati sate ayam hangat dengan rasa gurih yang sempurna. Namun, di balik hidangan yang tampak aman tersebut, tersembunyi ancaman yang tidak kasat mata. Bukan racun dramatis seperti dalam film, melainkan mikotoksin kontaminan biologis dari pakan ternak yang perlahan masuk ke rantai pangan manusia. Ancaman ini nyata, senyap, dan berpotensi menjadi bom waktu bagi ketahanan pangan Indonesia. 

            Ketahanan pangan merupakan fondasi utama kedaulatan bangsa. Ia tidak hanya berbicara tentang ketersediaan pangan, tetapi juga kualitas, keamanan, dan keberlanjutannya. Indonesia dengan populasi lebih dari 275 juta jiwa sangat bergantung pada sektor peternakan sebagai penyedia protein hewani. Data Kementerian Pertanian tahun 2025 menunjukkan produksi daging ayam mencapai sekitar 3,8 juta ton per tahun, sementara produksi telur mencapai sekitar 12 miliar butir. Namun, di balik capaian tersebut, terdapat persoalan mendasar yang sering terabaikan, yaitu kualitas pakan ternak yang menjadi fondasi utama sistem produksi pangan kita. 

            Pakan ternak menyumbang sekitar 70% dari total biaya produksi. Artinya, kualitas pakan sangat menentukan kesehatan ternak dan kualitas produk yang dihasilkan. Namun, bahan baku utama seperti jagung, dedak, dan konsentrat sering kali terpapar berbagai kontaminan berbahaya. Salah satu yang paling krusial adalah mikotoksin, seperti aflatoksin yang dihasilkan oleh jamur pada bahan pakan lembap. Studi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan bahwa sekitar 40% sampel pakan di Jawa Barat positif mengandung aflatoksin. Selain itu, residu pestisida seperti glifosat juga terdeteksi pada jagung impor dari Amerika dan Brasil berdasarkan laporan BPOM tahun 2024. Tidak berhenti di situ, logam berat seperti kadmium dari pupuk fosfat impor turut memperparah kondisi dengan masuk ke dalam rantai makanan. 

            Dampak dari kontaminasi ini bersifat laten namun serius. Ternak yang mengonsumsi pakan tercemar tidak selalu menunjukkan gejala klinis yang jelas, tetapi mengalami penurunan performa, gangguan sistem imun, serta kerusakan sistem reproduksi. Paparan mikotoksin seperti aflatoksin dan zearalenon telah terbukti menurunkan kualitas sperma, mengganggu fungsi ovarium, dan menghambat perkembangan embrio. Dalam praktik reproduksi veteriner, banyak kasus infertilitas ternak yang ternyata berakar dari kualitas pakan yang buruk dan tidak terdeteksi sejak awal. 

            Dampak ekonomi yang ditimbulkan tidak kecil. Peternak kecil yang mendominasi sekitar 80% sektor ini harus menanggung kerugian akibat meningkatnya biaya pengobatan, tingginya mortalitas ternak, dan menurunnya produksi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 mencatat adanya penurunan produksi telur nasional hingga 5% di beberapa provinsi yang dikaitkan dengan masalah pakan. Pada tingkat konsumen, risiko juga tidak kalah serius. Residu racun ini tidak sepenuhnya hilang saat dimasak; aflatoksin bahkan dapat bertahan hingga 70% dalam produk olahan seperti daging panggang. Survei BPOM tahun 2024 menunjukkan sekitar 15% sampel daging ayam di pasar tradisional mengandung residu antibiotik yang berpotensi memicu resistensi antimikroba. 

            Lebih jauh lagi, persoalan ini berdampak sistemik terhadap ketahanan pangan nasional. Indonesia masih mengimpor sekitar 2 juta ton jagung pakan setiap tahun dengan nilai mencapai Rp30 triliun. Ketergantungan ini membuat sektor peternakan sangat rentan terhadap fluktuasi harga global. Pada masa pandemi 2020 dan konflik Ukraina 2022, harga pakan melonjak hingga 50% dan memicu inflasi pangan sekitar 7%. Bayangkan jika kontaminasi racun pada pakan terus terjadi, bukan tidak mungkin memaksa Indonesia harus meningkatkan impor darurat produk pangan asal hewan, seperti daging, susu dan telur. Defisit neraca perdagangan membengkak, petani bangkrut dan harga naik tajam. Ini bertentangan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 2: Zero Hunger. Kondisi ini pada akhirnya akan memperburuk neraca perdagangan dan melemahkan kedaulatan pangan nasional. 

            Permasalahan ini juga menunjukkan adanya celah dalam sistem pengawasan. Meskipun telah ada regulasi seperti Peraturan Menteri Pertanian No. 24 Tahun 2019 tentang Pakan Ternak, implementasinya masih belum optimal. Jumlah laboratorium pengujian yang terbatas - sekitar 50 unit secara nasional—tidak sebanding dengan luas wilayah dan jumlah pelaku usaha. Di sisi lain, sekitar 60% bahan baku impor berasal dari negara dengan standar yang belum tentu seketat yang diharapkan. Peternak kecil pun sering dihadapkan pada dilema antara harga pakan murah dan risiko kualitas yang rendah. 

            Kasus di lapangan memperkuat urgensi persoalan ini. Di Jawa Timur, peternak ayam petelur dilaporkan mengalami kerugian hingga Rp.500 juta akibat kontaminasi aflatoksin yang menyebabkan kematian ternak dan penurunan kualitas telur. Kasus serupa juga terjadi di Sulawesi Selatan, di mana sapi potong mengalami kematian akibat paparan logam berat dari pakan. Laporan FAO tahun 2025 bahkan menempatkan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sebagai wilayah dengan risiko tinggi kontaminasi mikotoksin. 

            Menghadapi kondisi ini, diperlukan langkah strategis dan terintegrasi. Penguatan regulasi impor pakan menjadi prioritas, termasuk penerapan standar residu yang ketat seperti di Uni Eropa. Di sisi lain, pengembangan produksi pakan lokal melalui inovasi pertanian dan teknologi penyimpanan harus dipercepat. Edukasi kepada peternak, termasuk penggunaan alat uji sederhana seperti kit deteksi aflatoksin, dapat menjadi langkah preventif yang efektif.

            Kolaborasi antara pemerintah, industri, dan akademisi juga sangat penting. Perusahaan pakan perlu memperkuat pengawasan rantai pasok, sementara inovasi seperti pakan berbasis limbah pertanian fermentasi dapat menjadi alternatif yang lebih aman dan berkelanjutan. Di tingkat konsumen, transparansi melalui teknologi seperti traceability berbasis digital dapat meningkatkan kepercayaan terhadap produk pangan.

            Ketahanan pangan tidak bisa dibangun di atas fondasi yang rapuh. Racun dalam pakan ternak bukan sekadar isu teknis, melainkan ancaman strategis yang menyentuh kesehatan, ekonomi, dan kedaulatan bangsa. Jika kita terus mengabaikannya, maka krisis yang kita hadapi bukan lagi kemungkinan, melainkan kenyataan yang perlahan sudah terjadi. Saatnya bertindak - karena masa depan pangan Indonesia dimulai dari kualitas pakan ternaknya.

Editor : Arief
#Opini