Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Menihilkan Femisida

admin • Sabtu, 18 April 2026 | 20:35 WIB
Edwin Yulisar
Edwin Yulisar
             Oleh: Edwin Yulisar
             Guru MTsN 2 HST

Kejadian kekerasan terhadap perempuan merupakan masalah yang masih menjadi perbincangan menciptakan keresahan yang bisa dikatakan sebagai manifestasi perilaku yang paling brutal karena tidak adanya kesetaraan gender dalam lingkungan masyarakat. Femisida atau pembunuhan terhadap perempuan menciptakan mimpi buruk serta sebuah realitas mencekam yang harus dihadapi para perempuan di Indonesia. Banyak sekali upaya yang dilakukan untuk memberantas peristiwa ini namun kasus femisida terus muncul dan sering terjadi menandakan bahwa hal ini menjadi anomali yang jadi polemik karena belum teratasi dengan baik.

Badan Pusat Statistik 2024 melaporkan angka pernikahan di Indonesia tercatat menurun sekitar dua juta. Peristiwa femisida akhir-akhir ini mungkin tolak ukur alasan kenapa angka pernikahan Indonesia menurun drastis. Bisa dikatakan angka pernikahan di Indonesia dalam kurun waktu tiga tahun terakhir menurun namun yang meningkat adalah kampanye Marriage is Scary (Pernikahan itu Mengerikan). 

Dalam tren ini para warganet membagikan bervariasi kekhawatirannya soal pernikahan. Para netizen ini menceritakan berbagai ketakutannya jika memiliki pasangan yang tidak sesuai dengan harapannya dan kebanyakan pengikutnya adalah perempuan. Ketakutan ini akhirnya memunculkan pertanyaan dalam benak mereka yaitu what if (bagaimana jika). Pertanyaan ini adalah tren yang dilakukan untuk berangan-angan jika mendapatkan kondisi yang kurang menyenangkan dalam kehidupan berumah tangga nantinya.

Mengutip dari kompas.id,  Indiah Wahyu Andari, Direktur Rifka Annisa Women’s Crisis Center mengungkapkan bahwa kekerasan dan pembunuhan perempuan terjadi karena relasi intim atau hubungan asmara ketidakadaan kesetaraan antara dua pihak sehingga berpotensi menimbulkan gesekan tajam. Hal ini dikarenakan laki-laki biasanya diposisikan sebagai pemimpin dan punya kuasa lebih dalam hubungan. Ketika gesekan terjadi maka kecenderungan untuk melakukan tindakan yang sewenang-wenang atau kekerasan. Menurunnya kasus kekerasan terhadap perempuan terabaikan, tidak tertangani dengan baik, sehingga berakhir fatal. Dibalik pembunuhan perempuan, ada kasus-kasus kekerasan yang sebenarnya merupakan pembunuhan tidak secara langsung karena korbannya mengalami penurunan kualitas kesehatan baik fisik maupun mental.

Sebelum Femisida ataupun KDRT ini terjadi kita sebagai manusia harus bisa mengaktifkan sensitivitas (kepekaan) ataupun intuisi kita agar menyelamatkan korban dari perilaku yang mungkin dapat menghilangkan nyawa ini. Hal yang pertama, meningkatkan rasa kepedulian pada sesama. Jika melihat ada orang ataupun tetangga yang sedang dianiaya, dipukuli ataupun perlakuan yang mengandung kekerasan yang berbahaya. Kita harus mampu membantu dan menolongnya dengan uluran tangan kita beserta kawan serta kerabat yang lain. Jangan sampai perilaku kekerasan ini mengubah kita menjadi manusia yang apatis dan tidak peduli sama sekali dengan keadaan sekitar. Jangan sampai tertanam pola pikir atau mindset bahwa itu urusan rumah tangga orang lain, kenapa aku atau kita harus ikut campur.

Kedua, kumpulkan bukti agar pelaku bisa dihukum dan mempertanggungjawabkan perilakunya. Hal ini sangat mudah dilakukan oleh para warganet atau netizen yang ada di seluruh dunia. Hanya menggunakan ponsel pintar atau bantuan media CCTV kemudian merekam videonya agar menjadi barang bukti laporan kepada pihak yang berwajib dan bisa menghukum pelaku kekerasan ini dengan adil. Semakin kita bisa memanfaatkan  media di sekitar kita, maka kita sudah membantu menolong satu nyawa tidak melayang dan mengurung pelaku di balik jeruji besi. 

Ketiga, sebagai manusia kita harus terus berpikir positif dan memberikan penguatan kepada korban kekerasan. Mereka merupakan korban yang akan mendapatkan trauma. Bantuan dan uluran tangan kita sebagai tetangga, teman, kerabat, ataupun keluarga sudah pasti sangat berharga hingga akhirnya mereka dapat bangkit kembali dari keterpurukan. Semakin banyak bantuan yang diterima dari kita, komunitas dan grup konseling dalam penyembuhan mereka dalam trauma (trauma healing) maka mental korban semakin hari akan semakin baik dan sehat kembali.

Kesimpulannya, femisida memang menjadi anomali yang masih tak terselesaikan hingga saat ini namun kita sebagai manusia sudah pasti bisa menjadi pioneer untuk terus berjuang melawannya. Bantuan dan uluran tangan dari kita kepada korban merupakan sebuah solusi awal dalam penyelesaiannya. Apalagi bantuan tersebut dibantu oleh pengobatan secara holistik dan komprehensif bekerja sama para ahli dan pihak berwajib. Semakin peduli dan peka dalam pencegahan femisida ini, maka angka kejadian bisa ditekan hingga dihilangkan. Tajamkan kepekaan dan tingkatkan kepedulian terhadap sekitar yang menginginkan pertolongan. Satu nyawa mungkin akan terselamatkan oleh bantuan kita. Well, do it now! (*)

Editor : Arief
#Opini