Oleh: Mohammad Ayub Mirdad
Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Airlangga,
Koordinator Lab Centre for Strategic and Global Studies (CSGS)
Ada yang berubah dari cara dunia merespons perang. Bukan perangnya yang berubah, kehancuran tetap kehancuran, mayat tetap mayat. Yang berubah adalah kita.
Ketika Hamas melancarkan serangan terkoordinasi pada Oktober 2023, dunia tersentak. Namun gelombang kemarahan global tidak berhenti pada peristiwa itu. Ia justru membesar ketika respons militer Israel di Gaza berkembang menjadi kehancuran berskala luas, puluhan ribu warga sipil tewas, infrastruktur luluh lantak, dan krisis kemanusiaan tak terbendung. Dari Jakarta hingga London, ribuan orang turun ke jalan. Mereka tidak sekadar bereaksi terhadap satu peristiwa, tetapi terhadap apa yang mereka lihat sebagai tragedi kemanusiaan yang terus berlangsung.
Tagar solidaritas membanjiri linimasa. Seruan gencatan senjata menggema di berbagai belahan dunia. Namun perang tidak berhenti. Hari-hari berlalu, lalu minggu, lalu bulan. Korban terus bertambah, tetapi perhatian justru berkurang. Apa yang semula mengguncang nurani global perlahan berubah menjadi rutinitas informasi. Kecaman bergeser menjadi komentar. Komentar menyusut menjadi sekadar guliran ibu jari ke konten berikutnya.
Di titik inilah tragedi mencapai bentuknya yang paling sunyi: bukan ketika bom dijatuhkan, tetapi ketika dunia mulai terbiasa.
Ukraina mengajarkan hal yang sama. Pada Februari 2022, invasi Rusia membuat bumi terasa hendak terbelah. Bendera Ukraina terpasang di foto profil jutaan orang. Bantuan mengalir deras. Namun memasuki tahun keempat, berita dari medan perang mulai tenggelam di bawah berita selebriti dan pertandingan bola. Perang tidak berhenti, dunianya yang mulai berpaling.
Dan kini, ketika ketegangan di Timur Tengah terus meningkat dan konflik berpotensi meluas melibatkan negara-negara besar, pola yang sama kembali terlihat. Pada awal eskalasi, perhatian global memuncak, layar televisi penuh api dan asap, linimasa dipenuhi analisis dan kecaman. Namun hanya dalam hitungan minggu, perhatian itu menyusut, tergantikan oleh isu ekonomi sehari-hari dan rutinitas domestik. Bukan karena mereka tidak peduli. Tapi karena kepedulian itu sudah terkikis oleh terlalu banyak perang yang tidak pernah selesai.
Inilah anestesi global, kondisi ketika manusia perlahan kehilangan kemampuan merasakan sakit atas penderitaan orang lain. Bukan karena jahat. Tapi karena terlalu sering dihadapkan pada kehancuran hingga hatinya mati rasa.
Bayangkan seorang dokter yang setiap hari melihat pasien sekarat. Pada hari pertama ia menangis. Pada hari keseratus ia mengisi formulir sambil minum kopi. Bukan karena ia tidak lagi punya hati, tapi karena hati manusia memang punya batas. Dunia hari ini seperti dokter itu. Terlalu banyak luka yang datang silih berganti sampai kita tidak lagi tahu mana yang harus ditangisi lebih dulu.
Dan di tengah semua itu, ada sebuah gedung besar di New York yang seharusnya menjadi tempat luka-luka itu didengar: Perserikatan Bangsa-Bangsa. Didirikan oleh generasi yang pernah menyaksikan dua perang dunia, dengan satu harapan sederhana: jangan sampai ini terjadi lagi. Tapi yang terjadi kemudian adalah ironi yang menyakitkan. Setiap kali perang meletus, PBB bersidang. Pernyataan dibacakan. Resolusi diketuk. Lalu negara-negara besar yang punya hak veto memastikan bahwa tidak ada satu pun keputusan yang benar-benar menghentikan apa pun, terutama jika yang berperang adalah mereka sendiri atau sekutu mereka. Berbagai resolusi dan seruan internasional terkait Gaza tidak menghentikan kekerasan. Ukraina tetap berdarah. Konflik-konflik lain pun terus bermunculan. PBB telah menjadi panggung di mana semua orang tahu pertunjukannya tidak akan mengubah apa pun, tapi semua orang tetap datang karena tidak ada panggung lain.
Lalu ada kita. Manusia biasa yang hidup jauh dari ledakan.
Ketika Selat Hormuz terancam, percakapan paling riuh di Indonesia bukan tentang ibu-ibu di Tehran yang berlari menggendong anak mereka menjauhi asap. Percakapan paling riuh adalah: harga BBM bakal naik nggak? Ongkos kirim barang gimana? Tiket pesawat makin mahal? Penderitaan manusia telah berubah menjadi perhitungan belanja bulanan. Ini bukan salah siapa-siapa. Orang punya hidup yang harus dijalani. Tapi justru di situlah getirnya, ketika empati sudah menjadi barang mewah yang kalah bersaing dengan harga telur.
Pemerintah-pemerintah dunia pun tidak berbeda jauh. Ketika Hormuz terancam, yang langsung bergerak bukan misi perdamaian, melainkan kalkulasi rute kapal alternatif. Cadangan minyak dihitung. Lobi-lobi digerakkan bukan untuk menghentikan bom, tapi untuk memastikan pasokan energi tidak terganggu. Indonesia pun bicara tentang dampak pada APBN, pada impor, pada rupiah.
Bahkan di daerah seperti Kalimantan Selatan, isu-isu global seperti konflik Timur Tengah mungkin terasa jauh. Namun dampaknya tetap nyata, mulai dari harga energi, biaya logistik, hingga stabilitas ekonomi yang ikut terpengaruh. Masyarakat mungkin tidak melihat perang secara langsung, tetapi merasakan konsekuensinya dalam kehidupan sehari-hari. Di titik ini, jarak geografis tidak lagi berarti jarak dampak.
Yang menakutkan bukan perangnya. Perang memang selalu ada sepanjang sejarah manusia. Yang menakutkan adalah betapa cepatnya kita menerimanya sebagai sesuatu yang wajar. Betapa mudahnya kita menggeser layar dari video reruntuhan kota ke video kucing lucu tanpa jeda. Betapa normalnya terasa ketika pagi ini kita sarapan sambil membaca berita serangan udara di negeri orang, lalu siang harinya kita sudah tertawa di kantor seolah tidak ada apa-apa.
Kita tidak menjadi jahat. Kita hanya menjadi terbiasa. Dan terbiasa, dalam konteks ini, adalah bentuk kekalahan yang paling sunyi.
Selama dunia masih bisa tidur nyenyak di malam ketika bom jatuh di kota orang lain, anestesi ini akan terus bekerja. Diam-diam. Tanpa rasa sakit. Dan itulah yang paling berbahaya dari sebuah bius: ia tidak terasa sampai sudah terlambat. (*)
Editor : Arief