Advertorial Banua BanuaPedia Basket Beauty Bisnis Bola Ekspedisi Ramadan Event Feature Female Gadget Hukum & Peristiwa Kesehatan Nasional Olahraga Opini Otomotif Pendidikan Politik Radar Kota Ragam Info Religi Sastra Tahulah Pian

Kerja Atau Liburan, WFH Menguji Integritas ASN

M. Ramli Arisno • Senin, 13 April 2026 | 08:59 WIB
Ramli Arisno
Ramli Arisno

                Oleh: Ramli Arisno 
                Pemimpin Redaksi Radar Banjarmasin

Gubernur H Muhidin sempat mengambil keputusan yang tidak populer, namun menurut saya itu keren. Ia sempat menolak WFH sebelum akhirnya mematuhi perintah Mendagri. Beliau ingin ASN tetap masuk kantor. Full WFO. Sekilas, itu seperti melawan arus zaman.

Terutama kalau WFH itu dipilih hari Jumat. Jumat itu hari yang unik, wal. Setengah kerja, setengah libur. Begitu ditambah label “dari rumah”, maknanya pasti berubah. Bukan lagi kerja jarak jauh. Tapi menjauh dari kerja.

Saat menjelang siang hari, pikiran sudah tidak di meja kerja. Tapi sudah di jalan. Sudah di tempat wisata. Laptop mungkin tetap dibuka. Tapi lebih banyak jadi pajangan. Yang aktif justru grup WhatsApp: “jadi berangkat jam berapa kita?”

Tujuan awal WFH sebenarnya sangat masuk akal. Mengurangi mobilitas. Menghemat BBM. Mengurai kemacetan. Tapi manusia tidak selalu patuh pada tujuan kebijakan. BBM memang tidak habis untuk ke kantor. Tapi bukan berarti tidak terpakai. Ia pindah fungsi. Dipakai untuk jalan-jalan.

Di sinilah letak persoalannya. Kita sering terlalu cepat percaya bahwa sistem bisa langsung di-upgrade. Dari sistem hadir fisik ke sistem berbasis kepercayaan. Dari kontrol ke fleksibilitas. Padahal, yang paling sulit diubah bukan sistemnya. Tapi manusianya.

Birokrasi kita sejak awal dibangun dengan logika kehadiran. Datang, absen, terlihat bekerja. Itu memang sangat tradisional. Tapi itu yang menjaga ritme tetap berjalan.

Begitu kontrol itu dilonggarkan, yang diuji bukan teknologi, tapi integritas. Dan integritas tidak bisa diinstal seperti aplikasi. Ia dibentuk lama. Dilatih. Dipaksa oleh kebiasaan. Kalau itu belum matang, maka fleksibilitas berubah jadi celah.

Di titik itu, keputusan awal H Muhidin jadi terasa masuk akal. Ia mungkin tidak terlihat modern dan populer. Tapi sidin sudah membaca kondisi. Sidin tahu, sebelum bicara fleksibilitas, fondasi disiplin harus kuat dulu. Kalau tidak, yang terjadi bukan efisiensi, tapi ilusi efisiensi. Kerja terlihat jalan. Tapi hasilnya mungkin tidak sebanding.

Dan dalam kondisi seperti ini, kantor masih punya satu fungsi penting, yakni memastikan pekerjaan benar-benar dikerjakan. Bukan sekadar dilaporkan.

Kantor masih jadi tempat paling jujur untuk mengukur tanggung jawab. Karena di sana, kerja tidak bisa disembunyikan. Dan mungkin, untuk sekarang, itu yang paling kita butuhkan. Wallahualam. (*)

Editor : Arief
#Opini