Urgensi Membaca dan Menulis Bagi Siswa SD

admin • Dipublikasikan Rabu, 8 April 2026 | 20:41 WIB
Prof. Dr. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag
Prof. Dr. Syaiful Bahri Djamarah, M.Ag

 

                  Oleh: Syaiful Bahri Djamarah
                  Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin

Seharusnya semua siswa SD bisa membaca dan menulis. Sebab keduanya adalah keterampilan substantif yang wajib dikuasai sebagai bekal ketika mereka menjadi siswa SMP. Tetapi, semua itu hanya harapan belaka.

Faktanya justru sebaliknya. Ternyata masih ada siswa SD yang tidak bisa membaca dan menulis. Baru-baru ini sebuah televisi swasta CNN Indonesia (15/4 2025) telah merilis berita tentang ratusan siswa SMP di Kabupaten Buleleng bagian Utara Bali tidak bisa membaca dan menulis.

Kenyataan ini menyedihkan. Bahkan sangat menyedihkan. Merusak citra dunia pendidikan. Saya tidak habis pikir, kenapa kasus ratusan siswa tidak bisa membaca dan menulis ini terjadi ketika pemerintah berusaha mengikis habis buta huruf. Pasti ada sesuatu yang tidak beres dalam proses pendidikan. Apakah guru SD hanya mengajar saja tanpa peduli siswa yang tidak bisa membaca dan menulis? Perintah membaca atau menulis dilakukan tetapi tanpa kontrol.

Yang disesalkan, kenapa kasus siswa tidak bisa membaca dan menulis tersebut baru terungkap ketika mereka sudah duduk di bangku SMP. Padahal kasusnya terjadi ketika mereka masih duduk di bangku SD. Yang sulit diterima akal sehat, kenapa mereka semua bisa melanjutkan ke SMP. Kuat dugaan nilai ijazah mereka dimanipulasi. Nilai rendah diubah menjadi baik oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Ini kesalahan yang tidak terkoreksi yang mencoreng kemurnian proses pendidikan.

Kita berharap asumsi ini keliru. Akan tetapi, kita bisa berargumentasi, bahwa setiap penerimaan siswa pada tahun ajaran baru, pasti setiap SMP memberikan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi calon siswa baru. Salah satunya, ijazah. Karena percaya dengan sederetan nilai di ijazah, panitia penerimaan siswa baru di SMP tidak melakukan tes kemampuan membaca dan menulis untuk setiap calon siswa yang sudah mendaftarkan diri. Alhasil, mereka semua lulus.

Seharusnya guru SD sadar sesadar-sadarnya bahwa kemampuan membaca dan menulis sangat penting bagi siswa. Dua kemampuan substantif ini wajib dikuasai siswa sejak di bangku SD. Tidak ada tawar menawar.

Pengawasan seharusnya dilakukan oleh guru terhadap setiap individu siswa SD dalam setiap pertemuan klasikal sehingga terdeteksi sejak awal. Jika ditemukan ada siswa yang tidak bisa membaca dan menulis, maka tugas guru adalah membimbing mereka untuk pandai membaca dan menulis.

Siswa SD yang tidak bisa membaca dan menulis akan mengalami masalah yang serius. Bukan hanya tidak bisa membaca apa pun juga, terutama buku  pelajaran, bahkan anak tidak bisa mencatat apa yang disampaikan guru ketika menerima pembelajaran di kelas. Setiap PR yang diberikan dan harus diselesaikan di rumah, tidak mungkin dapat siswa selesaikan jika siswa tidak memiliki kemampuan membaca dan menulis. Bukankah PR  itu dalam bentuk narasi, tertulis paragraf demi paragraf?

Saya bersyukur memiliki guru yang selalu memperhatikan saya. Ketika sekolah di Madrasah Ibtidaiyah Manbaul Khairiyah Kotabaru (1960-an) saya memperoleh pendidikan yang sangat berharga dari guru saya, Badrun Aini. Kesalahan saya memegang pensil karena menggunakan tangan kiri dibetulkan oleh beliau. Dengan sabar beliau membimbing saya menulis menggunakan tangan kanan. Bahkan saya diajari bagaimana cara memegang pencil yang benar dan baik. Tidak asal pegang, menurut selera. Semula memang terasa kaku, tulisannya jelek sekali. Tetapi akhirnya, karena sering dilatih, saya terampil menulis dengan tangan kanan.

Kesabaran guru saya itu, ketika membimbing saya, sungguh luar biasa. Padahal, dalam proses peralihan menulis dari tangan kiri ke tangan kanan itu, saya sering mencuri kesempatan. Karena menulis dengan tangan kanan terasa sulit sekali, saya pun lebih dari tiga kali mengalihkan kembali menulis menggunakan tangan kiri untuk menuliskan materi pelajaran. Alhamdulillah, berkat jasa guru, kini saya menulis menggunakan tangan kanan.

Tidak hanya itu, guru saya juga memberikan pelajaran membaca. Ketika saya dan teman-teman saya belum bisa membaca, guru saya membimbing kami membaca. Di bawah kontrol yang berkelanjutan, guru saya membimbing kami satu demi satu membaca. Ketika kami sudah mengenal dan menguasai setiap huruf abjad dengan baik, kami pun diajari terbimbing belajar membaca dengan narasi bacaan yang sangat sederhana. Tidak hanya pendekatan kelompok, bahkan pendekatan individual sering guru lakukan untuk memastikan bahwa setiap anak sudah pandai membaca.

Uraian di atas sungguh menyadarkan kita semua, bahwa membaca dan menulis sangat penting bagi siswa SD. Tidak hanya siswa SD, bahkan bagi semua orang, membaca dan menulis sangat penting dalam kehidupan. Baik membaca maupun menulis adalah keterampilan berbahasa substantif bagi siswa SD. Ketika siswa SD tidak bisa membaca dan menulis, maka dia tidak memiliki keterampilan berbahasa. Itu berarti mereka tidak dapat berkomunikasi lewat membaca dan menulis. Padahal, baik membaca maupun menulis sebagai alat komunikasi.

Ketika membaca buku berarti siswa SD sedang berkomunikasi dengan penulis. Ketika menulis berarti siswa SD sedang menuliskan sesuatu pikiran, ide atau apa saja yang ada dalam alam pikirannya. Tanpa keterampilan menulis berarti siswa SD tidak dapat mengeluarkan isi hatinya dan pikirannya untuk dituangkan dalam bentuk tulisan.

Sampai kapan dan di mana pun keterampilan membaca dan menulis tidak tergantikan. Secanggih apa pun teknologi komunikasi dan informasi seperti sekarang ini, kegiatan membaca dan menulis tetap dibutuhkan. Mengetik pada prinsipnya menulis. Dengan memiliki kemampuan membaca, seorang siswa SD dapat membaca buku, majalah, koran, tabloid, notifikasi di WhatsApp, teks di youtobe, dsb. Dengan memiliki keterampilan menulis, siswa dapat menuliskan sesuatu berupa perasaan, ide, gagasan, atau kritik. Bahkan bisa digunakan untuk menulis buku, artikel, paper, makalah, dsb.

Betapa pentingnya keterampilan membaca dan menulis bagi siswa SD, maka menjadi tanggung jawab guru untuk membimbing siswa SD agar memiliki keterampilan membaca dan menulis. Ini penting. Karena Tugas guru tidak hanya memberikan pelajaran di kelas. Tetapi juga membimbing anak seusia SD bagaimana cara membaca dan menulis dengan baik dan benar. Lancar membaca, lancar menulis. Bukan dengan tangan kiri tetapi tangan kanan.

Kita berharap kasus siswa SD tidak bisa membaca dan menulis tidak terulang lagi di kemudian hari. Membimbing mereka adalah solusinya. Itu tugas guru. Tidak bijak menyerahkannya seratus persen kepada orang tua sementara guru ogah-ogahan. Kerja sama lebih diperlukan. Guru lebih aktif, orang tua membantu sebisanya. Bukankah guru seorang yang profesional, yang mendapat mandat dari orang tua untuk membimbing anak mereka agar memiliki kemampuan membaca dan menulis.

Akhirnya, kita semua termasuk orang yang beruntung. Berkat jasa guru kita pandai membaca dan menulis. Karena membaca ilmu kita tercerahkan. Karena menulis kita mengikat ilmu. Karena itu, bacalah, bacalah, bacalah, kemudian tuliskan. Guru, jasamu tiada tara. Dikenang sepanjang masa. Thank you for our teacher. (*

Editor : Arief
Opini