Belajar dari Gandus untuk Banua

admin • Dipublikasikan Rabu, 8 April 2026 | 20:39 WIB
Sri Maulida
Sri Maulida

               Oleh: Sri Maulida
               Direktur Bisnis dan Kewirausahaan Syariah Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Kalsel

Kunjungan ke Pondok Pesantren Pondok Pesantren Modern IGM AL-Ihsaniyah, tepatnya di Jl. M. Amin Fauzi Soak Bujang RT. 003 RW. 001 Kelurahan Gandus Kecamatan Gandus Kota Palembang Sumatera Selatan, memberikan satu pelajaran penting. Pesantren tidak lagi sekadar pusat pendidikan keagamaan, tetapi telah bertransformasi menjadi simpul ekonomi umat yang terintegrasi. Model bisnis yang dibangun di sana bukan hanya unik, tetapi juga sangat relevan untuk direplikasi di Banua, khususnya Kalimantan Selatan.

Bayt Al-Qur’an Gandus yang berada dalam lingkungan pesantren tersebut menghadirkan sebuah ekosistem yang utuh. Berangkat dari keunikan utama berupa produksi Al-Qur’an ukir kayu terbesar di dunia untuk juz 16 hingga 30, pesantren ini berhasil mengembangkan model bisnis yang saling terhubung. Di dalamnya terdapat pesantren sebagai pusat pembinaan spiritual, koperasi pesantren atau kopontren sebagai penggerak ekonomi internal, unit SPPG yang menopang kebutuhan konsumsi, travel halal sebagai penggerak jasa, serta wisata religi Qur’ani di lantai dua yang menarik kunjungan masyarakat. Pada saat yang sama, lantai satu dihidupkan oleh UMKM yang menjual berbagai produk oleh-oleh, sehingga tercipta aktivitas ekonomi yang berlapis dan berkelanjutan.

Model ini menunjukkan bahwa pesantren mampu menjadi pusat ekonomi berbasis nilai. Tidak hanya mencetak santri, tetapi juga menciptakan pelaku usaha, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi lokal di sekitarnya.

Peran Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan dalam pembinaan model ini juga sangat penting. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berupa bantuan sarana dan prasarana, tetapi juga mencakup manajerial. Intervensi yang komprehensif ini membuat pesantren tidak hanya memiliki unit usaha, tetapi juga mampu mengelolanya secara profesional dan berkelanjutan.

Menariknya, praktik serupa sebenarnya sudah mulai tumbuh di Banua. Di Kalimantan Selatan, Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Selatan telah membina puluhan pesantren dengan total sekitar kurang lebih 85 unit usaha bisnis. Ini menunjukkan bahwa fondasi menuju pesantren berbasis ekonomi sudah ada. Namun tantangan utamanya adalah bagaimana mengintegrasikan unit-unit usaha tersebut agar tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan menjadi satu ekosistem yang saling menguatkan.

Di sinilah letak pelajaran penting dari Gandus. Bukan hanya jumlah usaha yang menentukan, tetapi bagaimana usaha tersebut dirancang dalam satu model bisnis yang terhubung. Pesantren tidak cukup memiliki banyak unit usaha, tetapi harus mampu mengelolanya dalam satu arsitektur ekonomi yang jelas.

Pertama, diperlukan keberanian untuk membangun model bisnis pesantren yang terintegrasi. Unit usaha tidak boleh berdiri sendiri, tetapi harus saling mendukung. Misalnya, pesantren berbasis agribisnis dapat menghubungkan produksi, pengolahan, hingga pemasaran dalam satu sistem yang utuh. Pesantren di kawasan perkotaan juga dapat mengembangkan wisata religi yang terhubung dengan UMKM lokal.

Kedua, penguatan kelembagaan ekonomi melalui koperasi pesantren harus menjadi prioritas. Kopontren harus berfungsi sebagai pusat kendali bisnis, bukan sekadar pelengkap administratif.

Ketiga, digitalisasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Penggunaan QRIS, sistem kasir digital, serta pemasaran berbasis platform online akan meningkatkan efisiensi, transparansi, dan daya saing usaha pesantren.

Keempat, sinergi lintas lembaga perlu diperkuat. Keberhasilan model seperti di Gandus tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Di Banua, kolaborasi antara BI, pemerintah daerah, BAZNAS, serta lembaga halal perlu diarahkan secara berkelanjutan.

Namun demikian, transformasi ekonomi pesantren harus tetap menjaga nilai dasarnya. Keikhlasan, keberkahan, dan pendidikan karakter tidak boleh tergeser oleh orientasi bisnis. Justru kekuatan nilai inilah yang menjadi pembeda utama pesantren dibandingkan dengan model usaha lainnya.

Pengalaman dari Pondok Pesantren Al Ihsaniyah Gandus menunjukkan bahwa ketika nilai spiritual dipadukan dengan manajemen modern, pesantren mampu naik kelas menjadi pusat pertumbuhan ekonomi umat.

Banua sebenarnya sudah berada di jalur yang tepat. Dengan puluhan pesantren binaan dan unit usaha yang telah berjalan, langkah selanjutnya adalah memperkuat integrasi dan skala usaha. Jika ini berhasil dilakukan, bukan tidak mungkin pesantren di Kalimantan Selatan akan menjadi model nasional dalam pengembangan ekonomi berbasis pesantren. Pada akhirnya, kemandirian ekonomi pesantren adalah bagian dari kemandirian umat. (*)

Editor : Arief
Opini